264 Mahasiswa STKIP Melawi Ikui Yudisium

MELAWI – Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Melawi melaksanakan Yudisium Sarjana Strata Satu (S1) angkata ke IV tahun akademik 2018/2019 di Gedung Auditorium STKIP Melawi, Jumat (8/2/2019), diacara yudisium tersebut, dihadiri pengurus yayasan serta para dosen.

Ketua STKIP Melawi, Sukardi, MP ditemui usai kegiatan mengatakan, mahasiswa yang ikut yudisium semuanya berjumlah 564 orang, berasal dari Prodi PGSD sebanyak 222 dan Penjas sebanyak 42.

Setiap prodi tersebut ada mahasiswa yang meraih IPK tertinggi serta mahasiswa tercepat menyelesaikan mata kuliahnya.

“Di Prodi PGSD, Mahasiswa terbaik oleh Sastia Wati dan Prodi Penjas atas nama Zuprianto. Ada juga mahasiswa yang tercepat menyelesaikan kuliah untuk PGSD Muhlisin selama 3,8 tahun, Prodi Penjas atas nama Rosmawati Sewita yakni selama 3,11 tahun,” paparnya.

Sukardi mengatakan, saat ini semua Prodi di STKIP masih berakreditasi C. Namun sudah ada upaya untuk meningkatkan akreditasi tersebut menjadi B.

“Itu salah satu harapan kita kedepannya. Selain meningkatkan jumlah lulusan, juga meningkatkan akreditasi,” ungkapnya.

Selain itu, tambahnya, Ia juga berharap dari Pemerintah terus mendukung STKIP Melawi. Kemudian kaitan dengan lapangan pekerjaan lulusan STKIP Melawi, Ia mengaku masih minim, terutama untuk guru. Sebab kuota CPNS untuk guru masih sangat kecil dibandingkan kebutuhan guru saat ini.

“Intinya ketika kuota yang diusulkan oleh Pemkab ke Menpan hanya mendapatkan kuota yang kecil, harapan kami putra daerah bisa mengambil andil serta diutamakan,” harapnya.

Ditempat yang sama, Perwakilan Yayasan, Dr. Rachmat Saputra mengatakan, yudisium merupakan tahapan yang artinya semua tahapan kuliahnya berakhir. Sarjana yang lulusan STKIP Melawi hanya salah satu syarat untuk mengikuti metode dunia.

Lulusan sarjana harus bisa menyelesaikan masalah, harus melalukan uji coba dan analis, tudak cepat mengambil langkah.

“Hari ini ada sebanyak 264 lulusan. Ini prestasi yang baik. Semoga bisa menjaga citra yang baik di masyarakat. Lulusan STKIP Melawi harus selalu berpikir positif. Lulusan STKIP dipersiapkan untuk menjadi orang yang siap menyelesaikan berbagai masalah, bukan hanya menjadi guru, “ katanya.

Menurutnya lulusan STKIP tidak harus mengejar untuk menjadi guru, terlebih kuota CPNS yang sangat kecil. Dengan ilmu, lulusan STKIP juga bisa bekerja diberbagai bidang. Baik wirswasta maupun mendirikan lembaga pendidikan sendiri atau bahkan terjun ke bidang politik.

“Jadi tidak terpaku pada satu peluang kerja saja, namun harus memandang luas. Baik pendidikan maupun di non pendidikan. STKIP Melawi mengajarkan bagaimana menjadi life skill untuk kehidupan dan tidak perlu kurung dengan kecilnya kuota guru,” paparnya.

Ditanya mengenai adakah target menambah Program Pendidikan (Prodi) untuk STKIP Melawi. Ia mgatakan saat ini memang baru dua Prodi di STKIP Melawi, namun kedepannya harus berkembang, Prodi yang ada juga harus bertambah.

“Kedepan harus, Prodi Prodi dibuka terus. Cuma kendalanya tenaga pengajar yang kebanyakan ingin dikota tidak mau di daerah. Artinya mau mengambil dari luar kota banyak yang tidak mau,”pungkasnya. (Ed/KN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.