Adit Terkena Gizi Buruk

Seorang balita berusia dua tahun delapan bulan bernama Adit menderita gizi buruk. Adit yang berasal dari desa Nanga Nyuruh, kecamatan Ella Hilir, kabupaten Melawi ini kini dirawat intensif di RSUD Melawi karena berat badannya yang jauh dari normal serta terpaksa bernafas dengan bantuan oksigen karena mengalami sesak. <p style="text-align: justify;">Saat ditemui di RSUD Melawi, Kamis (26/3) lalu,  ibunya Adit, Ane menerangkan anaknya tersebut memang sudah lama menderita sakit-sakitan, dan seingat dia anaknya tersebut mulai jatuh sakit dan badannya mulai menyusut sejak tanggal 3 Desember tahun 2014 lalu. <br /><br />“Sejak itu, Adit sering demam, lalu badannya mulai menyusut. Kami tidak ada curiga sama sekali kalau dia terkena gizi buruk,” ucapnya sambil menyusui anaknya yang saat itu sedang nangis-nangis kerena merasa terganggu dengan alat oksigen yang dipasang dibadannya. <br /><br />Kata Ane, selama ini dia selaku orang tua hanya mengira kalau anaknya tersebut hanya terkena demam-demam biasa. Bahkan tidak ada kecurigaan sama sekali kalau anak bungsunya tersebut terkena gizi buruk. <br /><br />“Kami baru tahu kalau dia ini terkena gizi buruk setelah dibawa berobat ke rumah sakit ini,” ujarnya.<br /><br />Keluarga Adit ini memang termasuk dari keluarga yang tidak mampu. Bapaknya sehari-hari hanya mengurus ladang, dan sekali-sekali bekerja tempat orang lain kalau ada panggilan untuk bekerja ditempat mereka. Bahkan sejak Adit dibawa kerumah sakit bapaknya tidak bisa ikut mendampingi anaknya, karena harus bekerja mencari nafkah buat keluarganya. <br /><br />“Saya berharap kepada pemerintah supaya bisa memberikan bantuan untuk membantu biaya pengobatan anak kami ini di rumah sakit,” tuturnya.  <br /><br />Selain itu, dia juga berharap kepada BPJS agar mempermudah proses pembuatan kartu sebagai peserta BPJS di Kabupaten Melawi. Karena sudah hampir seminggu berobat di rumah sakit, anaknya tersebut masih berobat sebagai pasien umum. Sekarang sedang diupayakan untuk bisa menjadi peserta BPJS.<br /><br />Sementara itu, ditempat yang sama, Kiun, Kepala Desa Nanga Nyuruh Kecamatan Ella Hilir mengatakan, sebagai Kades dia benar-benar prihatin dengan kondisi yang dialami oleh salah seorang anak warganya tersebut. Bahkan berbagai upaya sudah dilakukan oleh  Kiun untuk membantu pasien yang kebetulan juga masih ada hubungan keluarga dengan dirinya. <br /><br />“Saya sudah datang ke Dinas Kesehatan Melawi, tapi tidak ada tanggapan. Saya juga sudah datang ke Dinas Sosial, untuk meminta surat keterangan keluarga miskin,” ucapnya.<br /><br />Menurut dia, pasien tersebut memang benar-benar membutuhkan bantuan, karena mereka termasuk berasal dari keluarga yang benar-benar tidak mampu. Bahkan karena keluarganya tidak bisa membantu pasien, sehingga dia yang membawa turun pasien dari Ella Hilir ke RSUD Melawi.<br /> <br />“Yang memprihatinkan bagi saya, sudahlah dari keluarga yang tidak mampu, dirawat dirumah sakit sebagai pasien umum, bukan sebagai pasien BPJS,” ujarnya.<br /><br />Kata Kiun, dia sudah mendatangi BPJS Melawi untuk mempertanyakan masalah pembuatan kartu BPJS, namun tanggapan dari BPJS tidak memuaskan bagi dia, karena harus ada kerjasama dengan bank, dan membuka rekening di bank. <br /><br />“Yang menjadi persoalannya, jangankan untuk membuka rekening, untuk biaya berobat saja sudah pinjam sana pinjam sini,” tuturnya. <br /><br />Lantaran belum mendapatkan kartu BPJS, sehingga sudah hampir satu minggu berobat dirumah sakit, obat untuk pasien harus ditebus dan dibayar terus. Bahkan karena pasien berasal dari keluarga yang tidak mampu, sehingga biaya untuk pengambilan obat ditanggung Kades. <br /><br />“Saya memang tidak bisa lepas tangan, saya akan membantu Adit semampu saya, karena saya sudah mengetahuinya dari awal,” ucapnya.<br /><br />Kiun menyampaikan, Adit pernah dibawa berobat ke dokter di Puskesmas Ella Hilir, saat itu hanya rawat jalan. Karena tidak ada perubahan setelah dibawa berobat ke dokter, sehingga seminggu kemudian dibawa lagi berobat ke salah seorang mantri. Saat dibawa ke mantri, dikatakan kalau Adit menderita penyakit yang berbahaya. Lalu kemudian dibawa lagi berobat ke dokter di Puskesmas pada tanggal 21 Maret lalu. <br /><br />“Melihat kondisi Adit yang sudah seperti itu, pada hari itu juga dirujukkan ke rumah sakit di Nanga Pinoh ini,” ujarnya.<br /><br />Yang disesalkan oleh Kiun, saat pertama kali Adit dibawa ke dokter, yang bersangkutan tidak memberitahukan kalau anak tersebut terkena gizi buruk. Padahal kata dia, kalau dari awal sudah tahu, mungkin Adit sudah dibawa berobat kemana-mana jauh-jauh hari sebelum kondisi separah sekarang. (Ira/Kn)</p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.