Analis: Sekolah Dirasa Tempat Tidak Menyenangkan

Perusahaan analis Prapanca Research menyatakan hasil pantauan terhadap perbincangan di jejaring sosial "twitter" selama dua tahun sejak 22 Agustus 2011 menemukan bahwa sekolah dirasa menjadi sebuah tempat yang tidak menyenangkan. <p style="text-align: justify;">Cindy Herlin Marta, analis dari Prapanca Research dalam keterangan di Pontianak, Sabtu menyatakan, seharusnya sekolah merupakan wahana pengayaan wawasan dan pengetahuan.<br /><br />Namun hasil pemantauan ternyata tidak dipandang demikian oleh sebagian peserta didiknya. "Ada113 ribu perbincangan tentang sekolah selama kurun waktu tersebut," ujar dia.<br /><br />Ia melanjutkan, di antara perbincangan-perbincangan paling marak yang menyinggung kegiatan ajar-mengajar, secara tersirat pesan mereka mengesankan aktivitas tersebut di sekolah tidak menyenangkan.<br /><br />Ia mencontohkan salah satunya adalah kicauan dari akun @salam_jakarta. Pada 23 Juli 2012, akun ini menyampaikan pesan, "Di sekolah itu hal yang paling menyenangkan ialah kelas kosong, gurunya sakit dan rapat".<br /><br />Pernyataan di Twitter itu, "dikicaukan" atau "retweet" hingga enam ribu kali. Contoh kicauan lainnya adalah dari @areailmu yang dikicaukan ulang hingga dua ribu kali. Isinya, "Di Belgia, kebanyakan sekolah belajar hanya 3 jam selebihnya mengasah kemampuan, kalo di Indonesia?" Namun ia menambahkan, tidak sedikit pula di antara kicauan-kicauan dengan peringkat edar tinggi melihat sekolah dengan cara sebaliknya, yakni sebagai tempat yang menyenangkan. Tetapi, lanjut dia, bukan karena para siswa bisa menimba ilmu di sana, melainkan karena dapat berjumpa kawan, "gebetan", atau pacar.<br /><br />Hal itu terlihat pada "posting" semacam dari @galauansmp yang dikicaukan ulang hingga tujuh ribu kali. Isinya, "Kangen sekolah, kangen temen, kangen ketawa bareng, kangen main bareng-bareng :(".<br /><br />Menurut Cindy, ada dua pandangan siswa pada umumnya terhadap institusi sekolah, yaitu sekolah menyenangkan karena adanya teman-teman. "Dan sekolah menyebalkan karena harus masuk kelas," kata dia.<br /><br />Sedangkan di saat tertentu, pendidikan bisa sangat identik dengan stres. Kata "stres" terpantau mengalami lonjakan pesat di Twitter pada 14 April 2013, atau tepat menjelang Ujian Nasional SMA.<br /><br />Ia mencatat, kata stres mencapai angka perbincangan 40.816 kali di Twitter hari itu, paling tinggi dalam dua tahun. "Kedekatan lonjakan ini dengan dimulainya UN jelas bukan kebetulan," kata dia.<br /><br />Namun, disamping adanya persepsi tidak mengenakannya kegiatan pendidikan formal, masih ada masih memegang pandangan ideal bahwa pendidikan bagaimanapun adalah hal yang bermanfaat. Hal ini terlihat dari adanya kicauan semacam dari @sindiranjenius yang dikicaukan enam ribu kali, isinya "Sekolah itu ajang nyari ilmu bukan ajang pamer harta ortu".<br /><br />Ia menilai, larisnya novel-novel yang mengangkat perjuangan tokoh-tokohnya untuk menempuh pendidikan, seperti "Laskar Pelangi", menunjukkan masyarakat memandang bahwa pendidikan merupakan hal yang perlu diperjuangkan.<br /><br />"Bila pendidikan yang menyenangkan dan menstimulasi kreativitas seperti di novel-novel laris itu dapat dinikmati siswa-siswi kita, alangkah baiknya," demikian Cindy. <strong>(das/ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.