ARTIKEL : Penyu Paloh Yang Makin Terhimpit

Pantai di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat mempunyai hamparan pasir putih yang landai menjadi tempat ideal untuk penyu-penyu bertelur. <p style="text-align: justify;">Pantai dengan panjang 63 kilometer itu diakui sebagai lokasi peneluran penyu, terutama untuk jenis penyu hijau (Chelonia mydas), yang terpanjang di dunia.<br /><br />Musim puncak penyu bertelur di Pantai Paloh antara Juni hingga Oktober. Penyu hijau dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) merupakan dua penyu endemik yang paling sering mendarat di Pantai Paloh untuk bertelur.<br /><br />Namun lambat laun, pantai yang berhadapan langsung dengan Laut Natuna tersebut secara perlahan sepertinya mulai ditinggalkan penyu, hewan purba yang diperkirakan sudah ada sejak akhir zaman Jura (145 – 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus itu.<br /><br />Lembaga World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia mulai menangkap fenomena tersebut. Sejak dua tahun terakhir, WWF Indonesia baru melakukan pengamatan secara intensif di Pantai Paloh.<br /><br />"Perubahan ekosistem yang disebabkan oleh alam maupun manusia, sehingga memengaruhi penyu untuk bertelur," kata Koordinator Penyu Paloh WWF – Indonesia Dwi Suprapti.<br /><br />Berdasarkan pengamatan WWF – Indonesia, lokasi yang paling sering didarati penyu di Pantai Paloh untuk bertelur adalah area sepanjang 19,3 kilometer dari Sungai Belacan ke Mutusan. <br /><br />Di tahun 2009, jumlah sarang telur penyu hijau di pantai itu saat puncak musim adalah 2.102 buah, penyu sisik 41 buah.<br /><br />Sedangkan di tahun 2010, pada periode yang sama, ada 1.501 sarang telur penyu hijau, penyu sisik delapan sarang. Sementara sepanjang tahun 2010, total sarang penyu hijau adalah 1.994 buah, penyu sisik 46 buah.<br /><br />Jumlah penyu hijau yang mendarat di pantai tersebut, di tahun 2010 sebanyak 4.123 individu, penyu sisik 72 individu. Tidak semua penyu yang mendarat di pantai, bertelur.<br /><br />Sementara penyu belimbing (Dermochelys coriacea) sangat jarang terlihat. "Berdasarkan informasi warga, paling dalam lima tahun baru satu kali," kata Dwi Suprapti.<br /><br />Selain menjadi tempat bertelur, Kalbar juga menjadi surga bagi para pedagang telur penyu.<br /><br />Kepala Seksi Pendayagunaan dan Pelestarian pada Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Regional Kalimantan Kris Handoko mengatakan, instansi terkait perlu mengambil langkah tegas dan cepat guna menekan perdagangan ilegal telur penyu di Kalbar.<br /><br />"Dibandingkan Kaltim, lokasi perdagangan telur penyu di Kalbar lebih banyak dan tersebar. Jumlah telur yang diperdagangkan juga diprediksi jauh lebih banyak," kata Kris Handoko.<br /><br />Menurut dia, telur penyu yang diperdagangkan di Kalbar juga berasal dari wilayah sekitar seperti Kepulauan Riau dan Riau.<br /><br />Berdasarkan hasil investigasi dari WWF Indonesia yang ada di Kalimantan, menemukan bahwa Kalbar dan Kaltim sejak lama dikenal sebagai sentra perdagangan telur penyu di Indonesia.<br /><br />Bahkan, lanjut dia, Kalbar disinyalir sebagai pintu keluar bagi penyelundupan telur-telur penyu asal Indonesia ke luar negeri.<br /><br />Kris Handoko mengambil data WWF, menyatakan bahwa perdagangan telur penyu terdapat di 25 lokasi yang tersebar di lima kabupaten/kota yang ada di Kalbar. Jumlah lokasi terbanyak ada di Kota Pontianak (10 lokasi), diikuti oleh Kabupaten Sambas (6), Kota Singkawang (4), Kabupaten Bengkayang (3) dan Kabupaten Pontianak (2). <br /><br />Lokasi terdapat di berbagai tempat seperti pasar (16), rumah-rumah makan yang beberapa diantaranya adalah tempat persinggahan para sopir bus antarkabupaten (5), dalam bentuk pedagang kaki-lima di lokasi-lokasi strategis yang banyak dikunjungi orang (3), serta ada juga yang berupa rumah penduduk (1).<br /><br />Ia mengatakan, kategori yang disebut terakhir ini terdapat di Dusun Jeruju (Paloh-Sambas). Diprediksi total telur penyu yang diperdagangkan per hari rata-rata sejumlah 8.125 butir. "Dan jumlah inilah yang dikatakan terbesar di Kalimantan," kata dia, menegaskan.<br /><br />Lembaga internasional "Human Society International" yang berkedudukan di Australia, melayangkan surat keprihatinan kepada Presiden RI terhadap hasil temuan ProFauna mengenai perdagangan telur penyu secara ilegal di Kalimantan.<br /><br /><br /><strong>Terhimpit</strong><br /><br />Dwi Suprapti menjelaskan, penyu akan bertelur di kawasan yang kondisinya kondusif, yakni bebas dari aktivitas, tidak adanya cahaya buatan dan sampah yang mengganggu perjalanan mereka di pantai.<br /><br />Kondisi pantai yang dituju penyu untuk bertelur landai, tanpa karang.<br /><br />"Penyu hijau selalu mencari tempat teraman untuk bertelur," kata dia. <br /><br />Pantai antara Sungai Belacan dengan Mutusan relatif sepi, jarang dilalui masyarakat. Berbeda dengan kawasan pantai antara Sungai Belacan dan Desa Temajuk, berjarak sekitar 24 kilometer, yang kini menjadi jalur utama warga untuk beraktivitas.<br /><br />Namun, tantangan untuk kehidupan penyu di Pantai Paloh di masa mendatang akan semakin berat seiring rencana pembangunan pelabuhan dan pengolahan gas alam cair dari Blok Natuna D Alpha di kawasan itu.<br /><br />Pemerintah Kabupaten Sambas sudah memasukkan rencana pengembangan kawasan itu di dalam perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah jangka panjang yang berlaku 20 tahun, yakni tahun 2008 – 2028.<br /><br />Kasubid Bina Marga, Pengairan, Energi dan Sumberdaya Mineral Bappeda Kabupaten Sambas, Yoelyanto mengatakan, semua masih tergantung pusat dan provinsi karena sifatnya masih berupa usulan.<br /><br />"Tergantung juga siapa pemenangnya, mau membangun di lokasi itu atau bukan," kata Yoelyanto. Raksasa perusahaan minyak asal Malaysia, Petronas, disebut-sebut yang sudah mengincar lokasi tersebut. Terlebih lagi Desa Temajuk berbatasan langsung dengan Melanau, Sarawak, Malaysia Timur.<br /><br />Salah satu lokasi untuk pelabuhan itu adalah di Sungai Belacan, dengan areal memanjang pantai sekitar 8 kilometer. <br /><br />Dwi Suprapti mengatakan, kalau terwujud, pembangunan pengolahan dan pelabuhan untuk gas alam cair itu dapat mengganggu habitat penyu yang selama ini memanfaatkan Pantai Paloh sebagai lokasi bertelur.<br /><br />"Kalau areanya terganggu, ia dapat bergeser ke lokasi lain," kata Dwi Suprapti.<br /><br />Belum jelas kepastian pelabuhan dan pengolahan gas alam cair, puluhan hektare lahan di kawasan Pantai Paloh, telah ditebangi pohonnya oleh masyarakat.<br /><br />Puluhan batang kayu olahan dengan ukuran 10 x 10 centimeter dan 2 x 15 centimeter panjang sekitar empat meter, disimpan di halaman sejumlah pondok kayu.<br /><br />Areal yang sudah dibuka itu pun belum dimanfaatkan untuk ditanami kembali atau kegiatan lainnya.<br /><br />Di Sungai Belacan misalnya, jarak lahan yang dibuka dari tepi pantai sekitar 100 meter hingga 150 meter.<br /><br />Sementara Amat (45), salah seorang warga Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, mengaku sudah membuka lahan di Sungai Belacan.<br /><br />Menurut dia, pembukaan lahan itu untuk pembangunan perumahan terkait LNG atau gas alam cair. "Cuma kayunya sedikit. Adalah beberapa keping kayu yang bisa dijual," katanya di Temajuk. Ayah tiga anak ini sehari-hari bekerja sebagai nelayan.<br /><br /><strong>Pilihan </strong><br /><br />Masyarakat Kecamatan Paloh sebenarnya mendukung konsep kebijakan pembangunan yang mengusung upaya konservasi alam di kawasan itu.<br /><br />Menurut Sekretaris Kecamatan Paloh Rohaimi di Liku, Sambas, Paloh memiliki potensi besar di sektor wisata dan perikanan. "Garis pantainya membentang sepanjang 63 kilometer dan berbatasan langsung dengan Malaysia," kata dia.<br /><br />Selain itu, pantai di kecamatan tersebut menjadi lokasi peneluran penyu hijau dan sisik.<br /><br />Ia menambahkan, jika potensi itu dapat dikelola maksimal akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.<br /><br />Namun, lanjut dia, hingga kini tidak ada kejelasan dan kepastian kapan megaproyek pembangunan pelabuhan dan pengolahan gas alam cair itu terwujud di Kecamatan Paloh.<br /><br />Meski, kata dia, tim survei dari Petronas sudah melakukan kajian sejak tahun 2009. Sedangkan cetak biru pembangunan kawasan untuk pengolahan LNG itu yang kerap disosialisasikan Bupati Sambas Burhanuddin A Rasyid, sudah ada.<br /><br />"Ke depannya, Paloh akan dibuat seperti Batam. Gubernur Kepri kabarnya pernah melihat lokasi dari udara," kata dia.<br /><br />Ia sendiri sepakat kalau masalah lingkungan lebih diutamakan. "Terserah aktivitas pembangunan seperti apa, asalkan tidak mengganggu lingkungan," kata Rohaimi.<br /><br />Namun, sebagai bagian dari pemerintahan, Kecamatan Paloh tetap mendukung kebijakan Pemkab Sambas terhadap setiap program pembangunan.<br /><br />Yoelyanto mengatakan, untuk pembangunan pengolahan gas alam cair dari Natuna, Pemkab Sambas berkomitmen sebaik-baiknya dalam mengkaji dampak lingkungan mengingat kondisi alam di wilayah itu.<br /><br />Sedangkan di satu sisi, ada kebutuhan yang harus dipenuhi yakni pertumbuhan ekonomi masyarakat.<br /><br />"Salah satu upaya, membuka infrastruktur, akses masyarakat mudah, sehingga investasi masuk," kata Yoelyanto.<br /><br />Untuk penyu, hasil kajian menunjukkan bahwa perlu ada tempat khusus, dan hasilnya berupa Tempat Wisata Alam Selimpai.<br /><br />Sekretaris Bappeda Kabupaten Sambas, Agus Supardan mengatakan, kalau tidak ada pembangunan skala besar, kabupaten itu tidak akan "bergerak". "Untuk pengembangan ke depan, daerah Paloh yang akan ditata," kata Agus Supardan.<br /><br />Harapannya, daerah perbatasan di Paloh tidak tertinggal dibanding negara tetangga. Di Melanau, yang berbatasan darat dengan Temajuk, ada gedung SD bertingkat tiga, lengkap dengan fasilitas komputer yang sangat memadai.<br /><br /><br /><strong>Siapa Diuntungkan?</strong><br /><br /><br />Pembangunan pelabuhan dan pengolahan gas alam cair di Kecamatan Paloh dipastikan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah banyak. Baik sebelum, saat maupun setelah dibangun.<br /><br />Ribuan tenaga kerja diperkirakan yang akan terserap untuk megaproyek tersebut. Namun, harus diingat bahwa pengolahan gas alam cair bukan lah teknologi murahan melainkan teknologi tinggi yang membutuhkan keahlian khusus bagi pengelolanya. <br /><br />Dwi Suprapti mengatakan, kalau pun disiapkan tempat khusus untuk penyu bertelur dalam jarak tertentu sepanjang pantai, menjadi hal yang sangat sulit.<br /><br />"Penyu bukan seperti mobil, yang dapat berbelok menghindari kapal yang pasti akan banyak lalu lalang di seputar perairan Paloh. Penyu butuh tempat tenang, sepi, baru mau bertelur," kata Dwi Suprapti.<br /><br />Penyu, lanjut dia, merupakan bagian dari ekosistem laut yang sangat penting. "Penyu menunjukkan kesuburan laut di suatu kawasan perairan," katanya. Lokasi sumber makanan penyu hijau adalah padang lamun dan algae. Padang lamun merupakan rumput laut yang mempunyai akar pengikat pasir yang dapat mencegah abrasi.<br /><br />Lamun merupakan tanaman biji-bijian. Biji yang dimakan penyu akan dikeluarkan kembali menjadi bibit yang disebar ke berbagai perairan. Sedangkan penyu hijau memakan karang-karang tua yang dapat memicu tumbuhnya karang-karang baru. "Sisa makanan karang berupa pasir yang dikeluarkan kembali oleh penyu sisik," kata Dwi, dokter hewan alumni Universitas Udayana, Bali itu.<br /><br />Lokasi makanan itu akan terganggu, misalnya, akibat tingkat keruh air yang tinggi disebabkan aktivitas manusia, sehingga penetrasi cahaya matahari tidak menjangkau lamun.<br /><br />Lamun, sebagai rumput laut, membutuhkan sinar matahari untuk tumbuh. "Tumpahan minyak juga mengganggu kualitas `feeding area` penyu," ucap Dwi, yang asli Singkawang, Kalbar itu.<br /><br />Selain itu, peningkatan suhu air laut memicu terjadinya pemutihan karang, sehingga tidak dapat hidup dan tumbuh. Padahal, karang dapat berfungsi sebagai sumber makanan biota laut dan pemecah ombak di pantai. "Kalau dalam satu ekosistem ada yang hilang, maka akan terganggu ekosistem tersebut," papar Dwi. Penyu siap untuk bereproduksi setelah usia 29 – 30 tahun. Masa bertelur juga berdasarkan siklus tertentu, yakni dalam kurun waktu 3 – 5 tahun. Selama periode tersebut, telur bisa bertelur lima sampai delapan kali. Kemudian, penyu akan kembali bertelur tiga sampai lima tahun lagi.<br /><br />Satu kali penyu bertelur rata-rata sebanyak seratus butir.<br /><br />Kris Handoko mengatakan, solusi dari pemanfaatan perairan Paloh, harus memberi keuntungan bagi kedua belah pihak, baik lingkungan, maupun pemerintah.<br /><br />Ia menambahkan, di kawasan itu dapat dibentuk Kawasan Konservasi Laut Daerah. Selain itu, perlu dibuat zonasi daerah pesisir di Kabupaten Sambas sehingga tahu pemanfaatannya mendatang untuk apa.<br /><br />Menurut Kris Handoko, banyak daerah yang berstatus kawasan konservasi, menjadi tujuan wisata yang menghasilkan pendapatan berlimpah bagi warga sekitar. Ia mencontohkan kawasan pusat penyu di Kepulauan Cayman. Atau di Sabah, Malaysia Timur, yang mengenakan biaya 935 ringgit Malaysia atau hampir tiga juta rupiah per orang untuk mengunjungi resor kecil di kawasan itu yang dijadikan tempat penyU bertelur.<br /><br />Ada juga program ekotour berupa ekspedisi penyu laut selama dua minggu di Kostarika. Program relawan lingkungan bagi konservasi penyu berbasis masyarakat (Costa Rica & Sri Lanka), biayanya antara 1.100 dolar AS hingga 1.400 dolar AS per orang.<br /><br />Dwi Suprapti mengatakan, kalau pembangunan pelabuhan dan pengelolaan gas alam cair itu terwujud, tidak menutup kemungkinan penyu-penyu tersebut akan pindah ke lokasi lain yang lebih kondusif.<br /><br />Lokasi terdekat, adalah Melanau, Sarawak, yang berbatasan dengan Temajuk. "Terlebih kalau penyu yang bertelur di Melanau, berasal dari genetik yang sama," kata Dwi Suprapti.<br /><br />Musim puncak bertelur tahun ini, pihaknya akan melakukan pengamatan lebih lanjut mengenai kemungkinan itu.<br /><br />Ia mengungkapkan, harus diakui bahwa Melanau lebih siap untuk "menyambut" penyu bertelur. Ia mencontohkan, di tepi pantai Melanau, hanya ada satu lampu yang hidup dengan nyala redup.<br /><br />Petronas, sebagai perusahaan multinasional, yang kebetulan juga milik Malaysia, pasti akan memanfaatkan tenaga ahli yang dimiliki untuk mengelola kilang di Paloh, kalau mereka menang tender dan jadi membangunnya.<br /><br />Seperti daerah-daerah lainnya, ada kecenderungan kalau masyarakat lokal tidak sepenuhnya diuntungkan dengan kehadiran perusahaan berskala besar namun berteknologi tinggi. Mereka, yang berpendidikan rendah, hanya mendapat pekerjaan yang sifatnya umum seperti satpam, atau buruh kasar lain.<br /><br />Jadi, siapa yang lebih diuntungkan?</p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.