Sintang

SABTU (19/04/2014): (-SINTANG-): Bawa Senjata Tajam Saat Pleno di KPU Dua Orang di gelandang ke Mapolres *** Rayakan Paskah, Jemaat GKII Gracia Kunjungi STTI Kelansam

Banner
Banner

Banjir Landa Kota Barabai Kalimantan Selatan

Komentar (0)

08 April 2013, 06:01:56 WIB oleh Admin

Print
Banjir Landa Kota Barabai Kalimantan Selatan

Kalimantan Selatan-HULU SUNGAI TENGAH, (kalimantan-news) - Musibah banjir melanda Kota Barabai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan, setelah hujan mengguyur kota tersebut sejak Minggu (08/04/2013) satu hari penuh.

Banjir yang mulai menggenangi Kota Barabai sejak Senin sekitar pukul 03:00 Wita dinihari itu melumpuhkan aktivitas warga karena hampir seluruh jalan utama, perkantoran, dan rumah penduduk tergenang air. Air yang masuk rumah warga hampir di seluruh daerah Kota Barabai mencapai antara 30 sentimeter hingga satu meter.

"Ini merupakan banjir terbesar sejak 2008, karena air hampir menutup semua kota di Barabai, saya bahkan tidak bisa memanfaatkan aliran listrik, karena takut konslet," kata Yuni penduduk setempat.

Selain perumahan, sejumlah perkantoran kini juga terendam antara lain kantor DPRD HST, Kodim 1002, Polres, Kantor Bupati HST, bahkan beberapa sekolah yang ada di tengah kota Barabai. Akibat banjir besar tersebut, sebagian besar warga memilih untuk tetap berada di dalam rumah.

"Padahal hujannya tidak terlalu deras, hanya saja satu hari penuh tidak henti-henti, dan tiba-tiba tadi malam air naik," tambah Yuni.

Diperkirakan, air akan terus naik seiring dengan meluapnya sungai Barabai, yang merupakan sungai terbesar di daerah ini. Kota Barabai merupakan salah satu daerah langganan banjir di wilayah Banua Enam, akibat pendangkalan beberapa sungai di daerah tersebut.

Selain itu, banjir juga terjadi akibat kerusakan hutan Pegunungan Meratus di beberapa kabupaten di sekitar Kabupaten Hulu Sungai Tengah, yang mengakibatkan alam tidak mampu menahan air hujan.

Pemerintah Kabupaten HST sendiri telah berupaya untuk melakukan penanganan banjir diantaranya mengolah sodetan dan menguruk sungai di daerah tersebut. Selain itu, pemerintha daerah juga menolak masuknya pertambangan, untuk mencegah terjadinya kerusakan alam di daerah tersebut. (phs/Ant)

Komentar (0)

Beri Komentar

Belum ada komentar, silahkan jadi yang pertama

Beri Komentar




Security Number