Sintang

SENIN (28/07/2014): Bupati Sintang Melepas Takbir Keliling *** Kebakaran Hutan Jadi Tontonan Warga *** Sehari Menjelang Labaran Harga Daging Sapi Di Sintang Tembus Rp 200 Ribu/Kg *** (-SPORT-): Dua Atlet anggar Sintang akan berlaga pada Sea Games 2018 *** (-KALIMANTAN SELATAN-): Muslim Kalsel Do'akan Keselamatan Palestina *** (-KALIMANTAN TENGAH-): Trans Kalimantan Poros Selatan Masih Ramai Pemudik *** (-KALIMANTAN BARAT-): Ziarah Kubur Warnai Lebaran Pertama Di Sambas *** Pembangunan Masjid Mujahidin Pontianak Capai 75 Persen *** Khatib Mengajak Umat Islam Jaga Fitrah *** (-KALIMANTAN TIMUR-): Kebakaran Hanguskan 54 Rumah Di Kutai *** Wali Kota Balikpapan : Mari Kembali Jalin Persatuan

Banner
Banner

Disperindag Kalsel Kumpulkan Distributor Atasi Kekosongan Gula

Komentar (0)

24 November 2010, 14:53:04 WIB oleh Admin | dilihat: 9 kali

Print

Kalimantan Selatan-BANJARMASIN, (kalimantan-news) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalimantan Selatan mengumpulkan seluruh distributor gula untuk membahas kekosongan gula di daerah itu yang terjadi sejak beberapa hari terakhir. Rapat koordinasi yang dipimpin oleh Plt Kepala Disperindag Kalsel Aksa Zuzaimah di Banjarmasin, Selasa (23/11/2010), dalam rangka mencari solusi terbaik agar kekosongan gula segera diatasi.

"Masalah ini akan segera kita sampaikan ke Gubernur Kalsel Rudy Ariffin untuk dibahas bersama-sama, sehingga saya belum bisa memberikan konfirmasi, kemungkinan besok, Rabu (24/11) baru ada jawaban," katanya.

Gula pasir pada tingkat distributor Kalsel kosong karena pengiriman gula rafinasi dari Sulawesi Selatan sebanyak 150 kontainer atau sekitar 3.700 ton sedang dalam proses pemeriksaan aparat kepolisian.

Distributor gula pasir Aftahudin yang ditemui usai pertemuan mengatakan, telah terjadi kesalahan antara pengiriman gula dari Sulawesi Selatan dan surat dari Kementerian Perdagangan.

Berdasarkan surat persetujuan perdagangan gula rafinasi antar-pulau (SPPGRAP) dari Kementerian Perdagangan, gula rafinasi yang dikirim ke Kalsel hanya seribu ton, ternyata terkirim 3.700 ton.

Karena kelebihan pengiriman tersebut, kata dia, kapal pengangkut gula itu kini sedang dalam pemeriksaan aparat kepolisian sehingga belum bisa didistribusikan.

Kronologinya, kata Aftahudin, seperti biasanya, sebelum jatah gula rafinasi dari pabrik dikirim ke Kalsel, distributor harus mengirimkan surat permohonan ke Dirjen Perdagangan Industri Makanan dan Minuman.

"Biasanya tidak pernah ada masalah, jatah gula untuk UMKM sebanyak 10.000 ton untuk tiga bulan selalu dipenuhi," katanya.

Pada awal September, kata dia, pihaknya kembali mengirimkan surat ke Dirjen untuk meminta jatah gula Kalsel selama tiga bulan yaitu September, Oktober dan November 2010.

Ternyata surat tersebut tidak kunjung mendapatkan balasan dan baru pada 8 November, surat tersebut mendapatkan persetujuan Dirjen.

Mendengar bahwa surat SPPGRAP telah keluar, kapal yang sebelumnya telah dipersiapkan langsung berangkat mengantisipasi agar jangan sampai terjadi kekosongan gula di daerah ini.

"Ternyata di luar dugaan, pemerintah yang biasanya selalu memenuhi kebutuhan Kalsel 10 ribu ton untuk tiga bulan ternyata hanya dikirim seribu ton. Sementara kapal yang mengangkut gula sekitar 150 kontainer tersebut sudah terlanjur berangkat," katanya.

Akibatnya, karena muatan tidak sesuai dengan surat dari Dirjen, terpaksa kapal ditahan untuk sementera waktu sambil menunggu ada jalan keluar terbaik dari pemerintah.

Kebutuhan gula rafinasi khusus usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) bagi 600 UMKM yang terdaftar dan lebih dari 1.500 UMKM yang belum terdaftar, sebanyak 3.500 ton per bulan, sehingga untuk tiga bulan sebanyak 10.000 ton.

Sementara itu, kata dia, kebutuhan konsumsi masyarakat sebanyak 6.000 ton per bulan sehingga total kebutuhan gula di Kalsel 10.000 ton per bulan.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat 6.000 ton per bulan, kata Aftahudin, daerah memberikan keleluasan kepada distributor untuk mendatangkan gula rafinasi dari Sulsel.

Kebijakan tersebut dibuat, kata dia, karena pemerintah belum mampu memenuhi gula non rafinasi atau gula lokal, kalaupun ada harganya sangat mahal.

Harga gula non-rafinasi yang biasanya didatangkan dari Jawa Timur, jauh di atas HET yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp6.400.

Sementara distributor Jatim menjual ke Distributor Kalsel sebesar Rp9.600 per kilogram ditambah ongkos kirim Rp4.000 per kilogram, sehingga harga sampai di Kalsel menjadi Rp10.000 per kilogram.

Harga tersebut, kata dia, ditambah dengan penyusutan yang terjadi sebanyak empat kilogram setiap karung isi 50 kilogram, sehingga bila ditotal harga mencapai Rp15.000 per kilogram.

Berbeda dengan rafinsi dengan kualitas jauh lebih bagus harga sampai di Kalsel tidak lebih dari Rp9.500 per kilogram. (phs/Ant)

Komentar (0)

Beri Komentar

Belum ada komentar, silahkan jadi yang pertama

Beri Komentar




Security Number