Sintang

JUM'AT (19/09/2014):(-SINTANG-): Bangun Rumah Duka, Pemkab Sintang Bantu 1,3 Milyar *** (-SEKADAU-): Sebagian Besar Desa di Belitang Hulu Belum Dialiri Listrik PLN *** Kerap Byarpet, PLN Sebut Gangguan Jaringan Udara *** Angin Kencang Sebabkan Perabot Rumah Rusak *** Wabup Tinjau Bencana Puting Beliung di Desa Pantok *** (-MELAWI-): Firman Tegaskan Nyogok Tak Menjamin Lolos CPNS *** Cegah DBD Dengan Perangkap Nyamuk Sederhana

Banner
Banner

Krisis Ukraina Dan Ekonomi Indonesia

Komentar (0)

05 Maret 2014, 06:22:16 WIB oleh Ida Bagus Alit Wiratmaja SH | dilihat: 50 kali

Print

Jakarta, (kalimantan-news) - Krisis yang sedang terjadi di Ukraina, negara pecahan Uni Soviet itu ternyata menjadi perhatian serius sejumlah negara. Bahkan, ada kekhawatiran berdampak pada perekonoimian dunia, khususnya yang berhubungan dengan suplai energi dan bahan pangan.

Harga kontrak minyak mentah brent di London misalnya dalam tiga hari terakhir ini  telah mengalami kenaikan dua persen, harga kontrak gandum di Chicago juga meningkat 3,9 persen, sedangkan kontrak emas di New York naik 1,9 persen dalam tiga hari terakhir ini.

Laporan sejumlah kantor berita juga menyebutkan bahwa harga gandum meningkat 4,5 persen menjadi 266,97 dolar AS per ton, sedangkan harga jagung juga melonjak 3,7 persen menjadi 4,875 dollar AS per gantang.

Ukraina adalah negara eksporter gandum nomor lima di dunia dan nomor tiga untuk eksportir jagung. Sebagaimana kita ketahui, Ukraina walau negaranya kecil, namun dapat memberikan dampak yang serius   bagi perekonomian dunia, walaupun tidak berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

Namun demikian, kita harus tetap  mencermati dan bagaimana krisis Ukraina segera dapat diatasi. Mengapa harus segera teratasi krisis tersebut, dengan pertimbangan minimal ada lima alasan yaitu:

Pertama: Ukraina adalah penghubung terpenting perdagangan Rusia¬Eropa. Walau Ekonomi Ukraina tidak memiliki kekuatan dalam ekonomi global, namun justru karena kondisi geografisnya. Rusia menyuplai 25 persen kebutuhan gas Eropa dan setengah kebutuhannya dipompa melalui Ukraina.

Kedua: Salah satu prospek yang tidak biasa pada 10 negara ekonomi terbesar adalah memberi sanksi pada anggotanya. Amerika Serikat sedang mempertimbangkan sanksi bagi Rusia yang melakukan invasi.  Amerika Serikat juga   sedang "mempertimbangkan semua pilihan".  Hampir setengah perdagangan Rusia adalah dengan negara¬negara Eropa. Rusia juga memerlukan impor untuk menjaga pasokan barang bagi rakyatnya.

Ketiga: Kenaikan harga di Eropa dan beberapa negara lainnya. Ukraina merupakan eksportir gandum dan jagung terbesar. Indonesia ternyata menjadi pengimpor kedua komoditas tersebut. Harga kedua komoditas ini sekarang sudah  meningkat, apalagi krisis Ukraina terus berlanjut. Hal ini akan meningkatkan ketidakseimbangan harga di wilayah yang mengkonsumsi kedua komoditas tersebut.

Keempat:  Pemerintah Ukraina memerlukan bantuan, karena tahun ini negara tersebut harus melunasi 13 miliar dollar AS dan 16 miliar dollar AS di akhir 2015. Tanpa bantuan keuangan, negara ini akan menghadapi “default”. Ukraina tidak akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan tanpa reformasi. Tidak jelas dari mana bantuan uang yang akan  didapatkan, terutama setelah Moskow membekukan dana talangan sebesar 15 miliar dollar AS. Sumber dana lain yang bisa diupayakan adalah dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Kelima: Ukraina bukan satu¬satunya negara berkembang yang rentan krisis. Instabilitas Ukraina muncul di tengah masa¬masa sulit bagi negara berkembang di seluruh dunia. Hal ini terjadi setelah bank sentral AS melakukan pengurangan stimulus atau quantitative easing (QE). Situasi di Ukraina mendorong investor untuk mengurangi risikonya di negara berkembang lain yang ekonominya juga sedang melambat.

Sementara itu, kenaikan harga gandum dan jagung dikhawatirkan juga akan berdampak ke Indonesia, karena Indonesia mengimpor gandum dan jagung dalam jumlah besar.  Oleh sebab itu, industri yang akan kena dampak adalah industri makanan dan pakan.

Semoga kenaikan harga kedua bahan pangan tersebut dan kenaikan harga energi dunia tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Dewan Keamanan PBB harus segra turun tangan menciptakan perdamaian di Ukraina. (Alit/WDA/das/RRI)

Komentar (0)

Beri Komentar

Belum ada komentar, silahkan jadi yang pertama

Beri Komentar




Security Number