Sintang

SENIN (20/10/2014): (-SEKADAU-): Petani Karet Menjerit Harga Makin Anjlok *** Pembekalan Kepada CPNS K-2, Sekda : Pegawai Harus Jaga Sikap Mental *** Sujinem Terharu Terima Dana Kemanusiaan *** (-KALSEL-): Kotabaru Bangun Rumah Singgah Bagi Warga Dayak *** (-KALTENG-): BPJS Kesehatan Dorong RSUD Seruyan Jadi BLUD *** (-NASIONAL-): Idha Diberikan Waktu Tiga Hari Hadirkan Saksi *** TNI: Malaysia Cabut Rambu Suar Tanjung Datuk *** (-SANGGAU-): Satpol PP Sanggau Amankan Remaja Pengguna Narkoba *** (-KALBAR-): BPMPD : Pemerintah Makin Selektif Mekarkan Desa *** (-PARIWISATA-): Keraton Tayan Gelar Tradisi Mandi Bedil-Perang Ketupat *** (-SINTANG-): Pemkab Sintang Tetapkan Het Gas Tiga Kilogram *** (-EKONOMI-): GAPKI: Perkuat Infrastruktur Hilirisasi Sawit Luar Jawa (-KALTIM-): Pemprov Kaltim Dorong Percepatan Penerapan Pertanian Modern

Banner
Banner

Warga Semuntai Dambakan Jembatan

Komentar (0)

03 April 2010, 21:48:37 WIB oleh Kris Lucas | dilihat: 33 kali

Print
Warga Semuntai Dambakan Jembatan

Sintang (kalimantan-news) - Desa Semuntai Kecamatan Ketungau Hilir, yang terdiri dari Dusun Ratu Damai; Dusun Tanjung Batas; Dusun Penyaok Lestari; Dusun Sungai putih; dan Ampu Penawan, wilayahnya terpecah-pecah oleh keberadaan sungai Setunai dan sungai Ampu.

Kondisi seperti ini, tentu cukup mempersulit warga dalam beraktivitas, termasuk anak-anak sekolah yang akan pulang-pergi ke sekolah. Begitu Kepala Desa (Kades) Semuntai, Lukas Asriyanto, memulai perbincangan ketika bertandang ke dapur kalimantan-news (1/4/10).
Di Desa Semuntai ini, hanya ada 1 Sekolah Dasar yaitu, SDN No. 10 Ampu. Anak sekolah dari Dusun Ratu Damai dan Dusun Penawan, jika akan menuju ke sekolah, harus menyeberangi sungai Setunai. Sementara itu, titian penyeberangan sepanjang 30 Meter yang terpasang di sungai tersebut, lantainya hanya terbuat dari 3 keping papan.

“Sudah berkali-kali ada anak sekolah yang terjatuh ke sungai. Terlebih dimusim banjir, dimana permukaan titian tersebut sudah berada dibawah permukaan air,” tutur Lukas.

Masih menurut Lukas, selama 3 tahun dirinya menjabat sebagai Kades, telah 2 kali mengusulkan pembangunan jembatan sungai Setunai dalam Musrenbang. Itu, belum termasuk yang telah diusulkan oleh pejabat Kades terdahulu. Dan dalam Musrenbang Tahun 2011 tingkat Desa dan Kecamatan yang digelar pada Februari 2010 lalu, usulan ini bersama-sama dengan jembatan gantung sungai Ampu, kami masukan dalam 1 paket, .

Selain jembatan Entunai, sebetulnya, masih ada 1 persoalan lagi yang selama ini sangat mengganggu kelancaran aktivitas warga. Yaitu, kondisi jembatan gantung di sungai Ampu. Lantai jembatan gantung tersebut, sekarang sudah disokong disana-sini dengan menggunakan kayu bulat.

“Sebetulnya, jembatan ini sudah tidak layak lagi untuk difungsikan, karena membahayakan bagi keselamatan warga,” keluh Lukas.

Diakhir perbincangan, Kades yang mengayomi 353 KK/1.489 jiwa ini hanya berharap, agar dalam musrenbang kali ini, pembangunan dan rehabilitasi kedua jembatan tersebut dapat dikabulkan pemerintah, pungkasnya. (PHS)

Komentar (0)

Beri Komentar

Belum ada komentar, silahkan jadi yang pertama

Beri Komentar




Security Number