Sintang

JUMAT (29/08/2014): (-SINTANG-): Bupati Sintang Letakan Batu Pertama Pembangunan Jembatan Sungai Arak *** (-SEKADAU-): Sosnakertranas Disarankan Perusahaan Perkebunan Bentuk P2K3 *** Uang Rapel Kok Belum Cair *** Warga Sungai Ayak Berang Listrik Padam Seharian

Banner
Banner

Tamrin Amal Tamagola Dituntut Hukuman Adat Dayak

Komentar (6)

11 Januari 2011, 19:22:03 WIB oleh Petrus Heri Sutopo | dilihat: 18 kali

Print
Tamrin Amal Tamagola Dituntut Hukuman Adat Dayak

Sintang-KOTA, (kalimantan-news) - Pernyataan Guru Besar Sosiologi UI, Profesor DR.Tamrin Amal Tamagola yang telah melecehkan Suku Dayak terus mendapatkan reaksi dari masyarakat Suku Dayak di Bumi Kalimantan, bahkan juga oleh masyarakat Dayak yang tersebar di seluruh Nusantara.

Setelah aksi-aksi damai dilakukan oleh komunitas masyarakat Dayak yang ada di Pulau jawa, seperti aksi damai pada hari Sabtu (08/01/2011) di Bundaran Hotel Indonesia serta aksi lainnya di lakukan di Kalimantan, termasuk kalimantan Barat, hari Selasa (11/01/2011) sekitar 500-an masyarakat Dayak dai berbagai sub-suku Dayak yang ada di kabupaten Sintang juga menggelar aksi damai mengutuk keras pernyataan dari Prof.DR.Tamrin Amal Tamagola, yang berlangsung di Bundaran Tugu Bank Indonesia.


Aksi demo damai yang langsung di koordinir oleh Dewan Adat Dayak Kabupaten Sintang ini, diawali dengan ritual adat pemotongan ayam dan babi,yang berlangsung kurang lebih 25 menit dihalaman tugu. Selama kegiatan ritual, tak sedikit umpatan kesal keluar dari peserta aksi mengutuk Tamrin Amal Tamagola. Foto Tamrin serta boneka yang digambarkan sebagai Tamrin ikut ditampilkan.

Dalam orasinya, Ketua Umum DAD Kabupaten Sintang Drs.A.Mikael Abeng, MM sangat menyesalkan pernyataan dari Guru Besar Sosiologi UI tersebut, yang dinilainya sangat melecehkan dan merendahkan harkat serta martabat Suku Dayak yang ada di Indonesia terlebih yang ada di Pulau Kalimantan khususnya.

"Pernyataan beliau tentunya tidak dapat kita terima, dan yang bersangkutan harus menerima konsekuensi dari yang sudah diungkapkannya. Apalagi pernyataan beliau tersebar luas mendunia di dunia maya (internet)," tegas Abeng.

Pada kesempatan tersebut, Mikael Abeng menyampaikan 5 poin pernyataan sikap, yakni :

  1. Bahwa kesaksian tersebut merupakan penghinaan dan merendahkan harkat serta martabat masyarakat suku Dayak.
  2. Bahwa kesaksian tersebut bukan merupakan pencerminan seorang akademisi dan intelektual Indonesia.
  3. Bahwa kesaksian tersebut telah melanggar hak asasi manusia suku Dayak.
  4. Profesor DR. Tamrin Amal Tamagola telah melanggar adat istiadat dan hukum adat suku Dayak.
  5. Kepada DAD Provinsi kalimantan Barat dan Majelis Adat Dayak Nasional agar melakukan tindakan tegas dan nyata terhadap kesaksian yang tidak bermoral tersebut berupa :
  • Agar Profesor DR Tamrin Amal Tamagola di jatuhi hukuman atau sanksi berdasarkan hukum adat Dayak.
  •  Agar Profesor DR Tamrin Amal Tamagola mencabut kesaksiannya dan menyatakan bahwa hasil penelitiannya adalah salah dan keliru.
  • Agar Profesor DR Tamrin Amal Tamagola membuat pernyataan maaf secara tertulis sebanyak 7 kali kepada masyarakat Dayak di media massa cetak, elektronik dan media online di situs internet.
  • Agar menindaklanjuti peristiwa tersebut kepada penegak hukum untuk diproses berdasarkan hukum yang berlaku.
  • Agar hasil riset dan penelitian yang dilakukan oleh Profesor Tamrin Amal Tamagola dinyatakan tidak berlaku sebagai karya ilmiah.
  • Agar gelar akademik yang dimiliki oleh Profesor Tamrin Amal Tamagola dicabut dan mohon pihak civitas akademika UI memberikan sanksi tergas berdasarkan ketentuan yang berlaku di Universitas tersebut.


Aksi damai yang dilakukan masyarakat Dayak dari berbagai sub-suku yang ada di kabupaten Sintang tersebut, mendapatkan pengawalan dari pihak kepolisian Polres Sintang. Aksi berlangsung sekitar satu jam ini, tidak membuat kemacetan arus lalulintas di seputaran tugu BI. Pernyataan sikap dari DAD Kabupaten Sintang ini, juga diserahkan oleh perwakilan dari DAD ke Pimpinan DPRD Sintang agar ditindak lanjuti. (phs)

Komentar (6)

Beri Komentar
  • Natanael Sintang

    Natanael Sintang:

    12 Januari 2011, 05:40:40 WIB

    Guru besar UI yg paling bodoh.....

  • Natanael Sintang

    Natanael Sintang:

    12 Januari 2011, 05:42:22 WIB

    Kalau tidak mengerti Suku Dayak....jangan bicara Dayak.....
    Guru besar koq otak nya di simpan di dengkul.....

  • ASTER SITOHANG

    ASTER SITOHANG:

    12 Januari 2011, 21:34:29 WIB

    Dari ke-enam tuntutan di atas hanya tuntutan ke empat yg masuk akal,,yg lainnya menurut saya sangat tak masuk akal di berlakukan di negara hukum indonesia,,dan hal-hal yg bersifat ilmiah, kalau ada yg keberatan dapat melakukan penelitian yg juga berdasarkan kaidah ilmiah dan akdemik untuk membatah penelitian sebelumnya dan tentu perlu di uji disebuah sidang ilmiah juga.
    Dan perlu diingat dulu copernikus pernah di hujat dan dihukum karena pendapatnya yg sekarang malah menjadi kebenaran,,?

  • ASTER SITOHANG

    ASTER SITOHANG:

    12 Januari 2011, 21:34:39 WIB

    Dari ke-enam tuntutan di atas hanya tuntutan ke empat yg masuk akal,,yg lainnya menurut saya sangat tak masuk akal di berlakukan di negara hukum indonesia,,dan hal-hal yg bersifat ilmiah, kalau ada yg keberatan dapat melakukan penelitian yg juga berdasarkan kaidah ilmiah dan akdemik untuk membatah penelitian sebelumnya dan tentu perlu di uji disebuah sidang ilmiah juga.
    Dan perlu diingat dulu copernikus pernah di hujat dan dihukum karena pendapatnya yg sekarang malah menjadi kebenaran,,?

  • pangeran prabu jaya Tanah Merah

    pangeran prabu jaya Tanah Merah:

    13 Januari 2011, 02:22:10 WIB

    kecam tegas pelecehan yang merendahkan harkat dan martabat dayak,,di hutan mana seorang prof UI penelitian tu....???....X.

  • Agung Gunung tanah merah

    Agung Gunung tanah merah:

    13 Januari 2011, 02:27:42 WIB

    Tindak lanjuti dengan tegas atas penghinaan ini,onang bejantoh tek pengalam bon datang ke koyak,

Beri Komentar




Security Number