BI Waspadai Inflasi Akhir Tahun

Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur meningkatkan kewaspadaan terhadap indikasi inflasi (kenaikan harga) di akhir 2015, sehingga BI bersama pihak terkait menguatkan koordinasi. <p style="text-align: justify;">"Pada Oktober 2015, Kaltim mengalami inflasi 0,46 persen, atau mencapai 7,65 persen (yoy), tetapi di akhir tahun ini ada kecenderungan inflasi kembali naik, jadi perlu diwaspadai," kata Kepala Perwakilan BI Kaltim Mawardi B.H Ritonga di Samarinda, Rabu.<br /><br />Pendorong utama inflasi Oktober bersumber pada dua kelompok komoditas, yaitu kelompok administered prices (harga yang diatur oleh pemerintah) dan kelompok volatile foods (bahan makanan).<br /><br />Tekanan inflasi terhadap kelompok administered price dipicu oleh kenaikan tarif angkutan udara di Kota Balikpapan dan kenaikan harga rokok (kretek dan filter).<br /><br />Sementara itu, tekanan inflasi terhadap kelompok volatile foods mengalami peningkatan seiring meningkatnya intensitas el nino.<br /><br />Hal ini tercermin dari meningkatnya harga kelompok sayur-sayuran seperti sawi hijau, kangkung, tomat, bayam, wortel, termasuk beras yang menjadi komoditas utama yang dibutuhkan masyarakat.<br /><br />Dia melanjutkan, tekanan inflasi dari kelompok inti juga meningkat meskipun relatif terkendali. Kenaikan inflasi inti tercermin dari adanya kemungkinan spekulasi kenaikan harga kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor) yang memberikan andil tekanan inflasi pada Oktober.<br /><br />Hal ini dilakukan para produsen sebagai dampak dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah, pada Septembeber dan Oktober.<br /><br />"Inflasi Kaltim pada Oktober sejalan dengan Survei Pemantauan Harga yang dilakukan KPw Bank Indonesia Kaltim. Hasil survei mengindikasikan inflasiterjadi pada komoditas inti dan komoditas volatile food," ujarnya.<br /><br />Sementara itu dalam Survei Konsumen yang juga dilakukan oleh KPw BI Kaltim, kenaikan tarif angkutan udara merupakan salah satu komoditas yang tidak terprediksi oleh konsumen, tercermin dari indeks ekspektasi harga 3 dan 6 bulan ke depan yang justru mengalami penurunan, khususnya kelompok transportasi.<br /><br />"Sedangkan untuk menyikapi kondisi tren inflasi pada akhir tahun yang cenderung meningkat, Bank Indonesia maupun Pemerintah Daerah senantiasa memperkuat koordinasi dalam rangka pengendalian inflasi, baik untuk jangka pendek maupun menengah," tutur Mawardi.<br /><br />Menurutnya, berbagai upaya stabilisasi harga yang dilakukan pemerintah daerah, demi untuk menjaga inflasi khususnya pada kelompok volatile foods, seperti memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi.<br /><br />Kemudian menyediakan infrastruktur yang lebih baik, komunikasi lintas sektoral untuk meredam kenaikan harga pada komoditas selain pangan, dan keterlibatan aparat hukum dalam pengawasan kelancaran distribusi komoditas pangan maupun pupuk untuk produksi pangan. (das/ant)</p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.