Budidaya Padi Dengan Teknologi Sri Untungkan Petani

Budidaya padi dengan pola pendekatan teknologi Sistem Rice Intensifications (SRI) atau teknik budidaya intensif dan efsien akan memberikan keuntungan cukup besar bagi petani di Provinsi Kalimantan Timur, mencapai kisaran Rp35 juta hingga Rp44 juta per hektare. <p style="text-align: justify;">"Penelitian mengenai pola SRI sudah dilakukan oleh akademisi Unmul Samarinda dan saat ini terus intesif kami sosialisasikan kepada petani," ujar Kepala Bidang Produksi Pertanian dan Hortikultura Dinas Pertanian Kaltim Ir Gunawan saat menjadi pembicara dalam Seminar Hasil Sensus Pertanian di Samarinda, Senin.<br /><br />Ia mengatakan, selama ini para generasi muda kurang berminat mengelola usaha pertanian, karena penghasilannya yang akan diperoleh relatif kecil sehingga mereka lebih memilih bekerja di kota atau bekerja di perusahaan tambang dan di sektor lain yang menjanjikan penghasilannya lebih besar.<br /><br />Karena itu, katanya, melalui penerapan SRI, maka akan dapat menarik minat generasi muda untuk bertani karena inti dari ketidakmauan pemuda dalam menggarap sawah, sangat berkaitan erat dengan pendapatan.<br /><br />"Rata-rata, pekerja sawah didominasi kaum tua atau mereka yang usianya 35 tahun ke atas, karena di usia ini merasa tidak ada pilihan lain dalam bekerja sehingga seolah bertani merupakan keterpaksaan, padahal jika kita serius menggarap sawah, maka hasilnya akan besar," katanya.<br /><br />Menurut dia, pengembangan pertanian tanaman padi dengan pola SRI, setiap hektarenya hanya memerlukan Rp6 juta baik untuk pembelian bibit dan biaya operasional, tetapi hasilnya lumayan besar karena hasil panen bisa mencapai 8 ton gabah kering giling (GKG).<br /><br />Dia mengatakan, jumlah tersebut jika dikonversi akan setara pada kisaran 5 hinga 6 ton beras. Apabila dikalkulasikan setelah dijual, maka keuntungannya bisa mencapai Rp44 juta dengan estimasi harga beras Rp10 ribu per kilogram.<br /><br />Rincianya adalah 5 ton dikali Rp10 ribu, sehingga pendapatan kotor sebesar Rp50 juta, kemudian dikurangi modal tanam yang sebanyak Rp6 juta, maka keuntungan bersih petani mencapai Rp44 juta per hektare, atau bisa sebesar Rp35 juta apabila ada biaya lain yang tak terduga.<br /><br />Akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Rusdiansyah mengatakan pola SRI tidak beda jauh dengan pola tanam yang selama ini sudah dilakukan petani, yakni mengolah tanah, system, benih padi dan tanam varietas. Perbedaannya hanya terletak pada cara yang intensif dan efisien.<br /><br />"Jika sebelumnya menggunakan bibit tua usia 20-40 hari, maka pola SRI dengan bibit usia 14 hari. Jika sebelumnya semaian basah, dengan sistem baru itu dengan semai kering untuk memudahkan tanam," ujarnya.<br /><br />Selain itu, katanya, yang sebelumnya dilakukan tanam mundur, maka dengan pola SRI dilakukan dengan menggunakan tanam maju dan terarah.<br /><br />Penerapan pola itu, menurut dia, menjadikan penggunaan bibit lebih hemat yang tergantung pada lebaran penyemaian. Selain itu, jarak semainya lebar juga menguntungkan dari sisi hasil anakan dan antisipasi serangan hama tikus, pasalnya tikus tidak suka dengan tanaman yang jarang-jarang. <strong>(das/ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.