Ciptakan Budaya Gemar Membaca

Pembamngunan fisik di Melawi sedang marah, namun jangan lupa membangun karekter masyarakat sangat penting. <p style="text-align: justify;">Pembangunan karekter ini bisa melalui memciptakan budaya gemar membaca. Gerakan ini harus menjadi pemikiran seluruh elemen daerah ini, mulai dari orang tua murid sampai daerah kepala daerah ini. <br /><br />“Masyarakat haru memahami bahwa tidah suka membawa adalah masalah fatal. Bisa mengakibatkan kebodohan. Sekolah saja tidak cukup untuk memberantas kebodohan, diperlukan keinginan untuk membaca. Seluruh elemen daerah harus memahami ini,” kata fraktisi pendidikan Melawi, Lo Ling Yun.<br /><br />Membaca merupakan upaya untuk memberantas kebodohan, terang laki-lai yang akrab disapa Alin, mengusulkan harus ada tindakan atau perbuatan nyata yang dilakukan elemen masyarakat dan pemerintah daerah ini. Paling tidak, kata Alin, memberi contoh pada generasi muda untuk menyukai membaca. <br /><br />“Orang tua tidak hanya menyuruh anaknya untuk belajar atau menyukai membaca, sementara mereka tidak melakukan itu. Kalau orang tua menyuruh belajar, sementara ia hanya menonton TV, perintah tersebut sulit untuk diterapkan anaknya. Tetpi kalau orang tua yang sedang membaca buku atau Koran menyuruh anaknya untuk membaca maka peritah tersebut akan diikuti,” paparnya.<br /><br />Diterangkannya, budaya membaca atau menulis bukan budaya orang timur, khususnya orang indonesia. Membaca dan menulis adalah kegiatan baru untuk orang Indonesia. Orang Indonesia mengenal budaya tutur atau budaya bercerita.<br /><br />Setiap kisah-kisah raja atau kejadian-kejadian besar hanya diturunkan pada benerasi berikutnya melalui bercerita. Sementara budaya orang barat, dalam hal ini eropa telah mengenal membaca ribuan tahun lalu. Sehingga di eropa ditemukan berbagai kitab-kita kuno yang memceritakan sebuah kejadian atau silsilah para raja. “Jika dibandingkan,  peradapan daerah yang memiliki budaya membaca dan menulis ini jauh lebih besar dari pada peredapan yang memiliki budaya bertutur atau bercerita,” terangnya.<br /><br />Budaya membaca ini akan menghasilkan individu-individu yang gemar meneliti, bermain dengan data-data yang akurat. Tetapi budaya bertutur akan menghasilkan orang-orang yang suka berbohong. “Karena daya ingat manusia terbatas, jika bercerita ia tidak menyadari ada sesuatu yang berkurang, ujung-ujungnya menghasilkan orang yang suka berbohong,” pungkasnya. (Ira/Kn)</p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.