Desa Teluk Pongkal Jauh Mengalami Ketertinggalan

MELAWI – Walaupun Indonesia sudah lama merdeka, namun Sekretaris Desa Teluk Pongkal, Yos, mengklaim kalau masyarakat di Desa Teluk Pongkal yang merupakan desa terujung di jalur Sungai Sokan tersebut belum sepenuhnya menikmati alam kemerdekaan.

“Listrik belum ada, harga barang mahal, Sumber Daya Manusia (SDM) kurang,” ungkapnya, belum lama ini.

Menurutnya, seperti harga barang. Harga barang yang dijual oleh pedagang di Desa Teluk Pongkal sangat tinggi, bahkan hampir dua kali lipat dari harga barang di pasar yang berada diibu kota kecamatan. Sementara harga karet yang menjadi sumber pendapatan warga tidak kunjung membaik harganya sampai sekarang, bahkan tidak mampu mengambangi harga barang.

Lebih lanjut Ia mengatakan, mahalnya harga barang di Desa Teluk Pongkal bukan kemauan para pedagang, namun karena pengaruh tingginya biaya operasional angkutan dari Teluk Pongkal ke Nanga Sokan yang merupakan ibu kota Kecamatan Sokan.

“Ongkos bawa barang dari Sokan ke Teluk Pongkal Rp 1,5 juta. Sementara kapasitas muatan tidak sampai satu ton,” ujarnya.

Yos menuturkan, mahalnya biaya operasional dan mahalnya harga barang, yang diperparah lagi dengan murahnya harga barang komuditi tersebut berdampak kepada pendidikan dan kesehatan masyarakat di Desa Teluk Pongkal yang sampai sekarang masih banyak mengidap penyakit lusung.

“Yang lulusan SMA saja bisa dihitung dengan tangan, dan yang lulusan sarjana tidak ada sama sekali,” tuturnya.

Kata dia, kalau jalan darat menuju Teluk Pongkal bagus, sebenarnya keberadaan desa tersebut dekat dari ibu kota kecamatan. Sebab disaat jalan tersebut bagus, perjalanan dari Teluk Pongkal ke Nanga Sokan tidak sampai satu jam. (Ed/KN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *