Forsip Terbentuk di Melawi, Sukartaji Terpilih Menjadi Ketua

MELAWI,KN-Forum Silaturahmi Insanak Pantai Utara (Forsip) terbentuk secara resmi dalam acara tumpahan salok dan Musyawarah besar, Minggu sore (25/8) kemarin di Gedung Pertemuan MABT Melawi. Forsip sebagai wadah silaturahmi masyarakat pantai utara Kalbar di Melawi.
Bahkan, telah pengurus inti Forsip secara musyawarah. Ketua diembankan kepada Sukartaji. Sekretaris Sudiono dan Merianto sebagai bendahara. “Kita telah membentuk dan memilih struktur inti Forsip. Dalam satu dua minggu ke depan kita akan segera menyusun kepengurus yang lebih lengkap,” kata ketua sidang Musyawarah, Aspiandi, kemarin.
Tempat sama, pemimpin Forsip yang juga ketua kecil pembentukan organisasi, Sukartaji mengungkapkan soal aturan main lembaga sudah dibahas sejak 5 bulan lalu. AD/ART sudah dibahas. Visi dan tujuan lembaga sudah juga dibahas dan disepakati.
Katanya, Visi Forsip unntuk mempererat talisilaturahmi keluarga besar Pantai Utara (keluarga besar berbudaya sambas) dalam mendukung pembangunan Kabupaten Melawi melalui budaya Tujuan Forsip ada tiga. Pertama, mengembangan dan memperkuat budaya Sambas di Kabupaten Melawi. Kedua, mempererat silaturahmi warga pantai utara (warga budaya sambas) di Kabupaten Melawi. Dan terakhir, mendukung program Pemerintah Kabupaten Melawi melalui budaya.
“ini perjuangan panjang kawan-kawan semua, yang berdiskusi di warung kopi dan rapat-rapat resmi berbulan-bulan. Ini langkah awal. Sebab banyak hal yang akan kita lakukan bersama,” ulasnya.
Lantas laki-laki yang akrab disapa Taji ini menerangkan, ke depan perjuangan untuk masyarakat pantai utara bagi pengurus Forsip cukup berat. Untuk menjawab hal-hal yang melatarbelakangi terbentunya organisasi ini.
Dia pun menjelaskan latarbelakang pembentukan Forsip penerimaan Aparatur Sipil Negara (ASN) tahun lalu, ada pelamar dari Sambas kebingungan dengan tempat menginap. Bahkan tidak mendapatkan orang untuk bertanyak soal desa tempat dia bertugas. “Forsip paling tidak kita bisa menjadi wadah untuk bertanya,” ujarnya.
Malah, banyak kali kasus ditemukan ada orang dari pantai utara terkatung-katung di Melawi. Awalnya, akan dipekerjakan di perusahaan. Namun, dibohongi atau tidak bekerja. Mau pulang ke Pantura tidak punya duet.
“Paling tidak orang Pantura yang sudah ada di Melawi bisa memberi tumpangan sementara. Dan bisa membantu kepulangan orang tersebut. Itu banyak kita jumpai,” papar Taji
Ada satu lagi yang melatarbelakangi pembentukan Forsip bahwa ada kerinduan terhadap adat istiadat dan budaya sambas. Rindu akan bersaprahan, rindu akan music Tanjidor. Bahkan, kadang rindu terhadap percakapan Bahasa sambas. Banyak Bahasa sambas tua yang ketika didengar lagi membuat orang Pantura yang berbahasa sambas bahagia. “Kalau kami mendengarkan kata-kata tua, kita menjadi tertawa dan bahagia,” ungkapnya.
Lalu, jelas Taji, orang Pantura yang telah berdomisili di Melawi dengan berbagai profesi bisa menjalin kerjasama dalam bidang usaha. Kata ada orang Pantura yang punya modal, ada orang yang ahli dalam bidang usaha tetapi kekurangan modal, maka dengan Forsip kedua belah pihak itu bisa berkomunikasi.
“Kalau ada dua orang Patura yang bekerja sama, paling tidak Forsip bisa mengingatkan untuk saling jujur dalam usaha itu. Intinya, Forsip akan bergerak dalam bidang budaya, sosial, dan ekonomi,” pungkasnya. (ed/KN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.