Hilangnya Simbol-Simbol Ke-Tuhanan Dalam Dagangan Politik

Bursa Calon Presiden 2014 sudah mulai digulirkan. Bahkan Partai Demokrat yang perolehan suaranya diperkirakan turun pada Pemilu 2014, tetap percaya diri akan menggelar konvensi Calon Presiden. <p style="text-align: justify;">Namun, dari itu semua, ternyata bursa calon presiden mendatang, tidak diramaikan oleh kandidat yang berasal dari ormas Islam atau Partai Islam atau juga atas nama Agama yang lain.<br /><br />Bulan Juni, sesungguhnya adalah bulan istimewa bagi bangsa ini. Pada Bulan Juni ada penyampaian pertama kali kata Pancasila dan ada juga perumusan otentik naskah Pancasila dalam Piagam Jakarta.<br /><br />Salah satu yang menarik adalah sejak adanya BPUPKI dan PPKI, Islam selalu dikaitkan dengan sejarah pembentukan Negara dan bangsa Indonesia. Bahkan, lima sila yang menjadi dasar Negara Republik Indonesia, pertama sekali ditetapkan oleh Panitia 9 BPUPKI dalam Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945 dan dikompromikan penanggalan 7 kata terkait syariat Islam pada tanggal 18 Agustus 1945.<br /><br />Tokoh-tokoh Islam juga menjadi penggerak Indonesia Merdeka. Ada Ki Bagus Hadikusumo, ada Kasman Singodemejo, ada kyai Haji Wachid Hasjim ada  Abdul kahar Muzakir dan ada Muhammad Yamin serta nama-ama besar lainnya.<br /><br />Pada Pemilihaan Umum 1955, Masyumi atau Majis Syuro Muslimin Indonesia sebagai wahana berpolitik umat Islam di Indonesia memperoleh suara yang sangat signifikan untuk membentuk pemerintahan saat itu.<br />Sempat redup kerena kebijakan politik Orde Baru, namun pada era Reformasi, tokoh-tokoh berbasis massa Islam atau berpartai Islam cukup meramaikan panggung politik nasional. Sebutlah nama Kyai Haji Abdurrahman Wahid sebagai Presiden Republik Indonesia, Hamzah Haz yang pernah menjabat Wakil Presiden, serta Amin Rais dan Hidayat Nur Wahid yang pernah menduduki jabatan Ketua MPR.<br /><br />Akan tetapi era tersebut hanya sampai tahun 2009. Setelah Pemilihan Umum tahun 2009, seluruh jabatan Penting Negara, seperti Presiden, Wakil presiden, Ketua DPR dan Ketua MPR  dipegang oleh Kaum Nasionalis dan Nasionalis Religius. Bahkan kini, menjelang pemilihan Umum legislative dan pemilihan Presiden 2014, tokoh-tokoh berbasis massa Islam atau berasal dari Partai Islam, tidak ada yang diunggulkan.<br /><br />Sebagai contoh, berdasarkan rilis Media Survey Nasional pada bulan May 2013, nama Gubernur DKI Jakarta Jokowidodo memiliki tingkat popularitas tertinggi hingga mencapai angka 92 persen.<br /><br />Kemudian mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menempati peringkat kedua dengan popularitas sebesar 91,8 persen, berikutnya Megawati 91,3 persen, Aburizal Bakrie 82,6 persen dan Prabowo Subianto 78,7 persen. Sementara, urutan tiga teratas partai politik yang diunggulkan pada Pemilu mendatang, adalah partai non Islam.<br /><br />Fakta-fakta tersebut tentu menarik untuk dikaji dan menjadi perhatian partai-partai Islam atau ormas-ormas Islam. Dapat saja kemudian muncul jawaban bahwa ternyata rakyat Indonesia tidak lagi mementingkan nama agama sebagai simbol dan untuk meraih kekuasaan. Sebab, tidak saja partai berasas Islam, sejumlah partai pada pemilu sejak era reformasi hingga 2009 yang menggunakan isyu dan dikaitkan agama juga tidak menjadi pilihan menarik.<br /><br />Bahkan, umat yang dikaitkan dengan agama tersebut pun hanya sebagian kecil saja yang memberikan dukungannya. Artinya, simbol-simbol ke-Tuhanan sebagai barang dagangan politik sudah mulai tidak laku bagai warga bangsa negeri ini.<br /><br />Sila pertama Pancasila, Ketuhahan Yang Maha Esa, bagi bangsa ini diyakini sebagai landasan keyakinan dan perbuatan serta akhlak yang mulai dibanding menjadi isyu untuk semata meraih kekuasaan. Meminjam istilah Nurcholis Madjid, ternyata keyakinan yang bersifat kultural lebih diterima dibandingkan yang bersifat structural. Sekian Komentar. <em><strong>(das/ds/wd/hf/rri)</strong></em></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.