Indonesia Butuh Tambahan Tujuh Juta Ton Beras

Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Hermanto mengatakan Indonesia setidaknya harus menambah ketersediaan beras hingga tujuh juta ton pada 2025 – 2030 untuk mengantisipasi penambahan jumlah penduduk. <p style="text-align: justify;">"Artinya, Indonesia harus menambah lebih dari satu juta hektare lahan sawah untuk mengantisipasi hal itu," kata Hermanto saat workshop bagi jurnalis media massa dan Kasubag Humas BKKBN se-Indonesia di Jakarta, Rabu.<br /><br />Menurut dia, berdasarkan estimasi laju pertumbuhan penduduk pada rentan waktu 2005 – 2010, yakni 1,3 persen. Jumlah penduduk 233,48 juta jiwa dengan tingkat konsumsi beras bruto 139,5 kilogram perkapita, sedangkan kebutuhan beras mencapai 32,49 juta ton.<br /><br />Sementara pada 2025-2030, laju pertumbuhan penduduk diperkirakan 0,92 persen. Asumsi lain, jumlah penduduk menjadi 286,02 juta jiwa dan tingkat konsumsi beras tetap 139,5 kilogram perkapita maka kebutuhan beras menjadi 39,8 juta ton.<br /><br />Ia mengatakan, permasalahan yang muncul, terjadi konversi lahan pertanian dengan kisaran 63 ribu hektare per tahun. "Kondisi ini terutama terjadi di Jawa, sentra produksi beras Indonesia," katanya.<br /><br />Pemerintah berupaya mengalihkan ke lokasi lain di luar Jawa untuk menambah luas lahan sawah seperti Kalimantan. Namun, ungkap dia, harus diakui kondisi lahan-lahan baru itu juga tidak sesubur seperti di Pulau Jawa.<br /><br />Selain itu, ujar Hermanto, status dari lahan yang dicadangkan untuk cetak sawah baru juga masih belum jelas. <br /><br />"Di Kaltim misalnya, disebutkan 100 ribu hektare lahan siap untuk cetak sawah baru. Ternyata, yang bisa hanya dua ribu sampai tiga ribu hektare," katanya.<br /><br />Ia menegaskan, secara umum, Indonesia tidak mempunyai masalah dalam ketersediaan lahan. (phs/Ant) <br /><br />"Tetapi akses terhadap lahan yang jadi masalah," katanya.<br /><br />Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, maka dibutuhkan pengaturan terhadap laju pertumbuhan penduduk dan konsumsi beras perkapita.<br /><br />"Sehingga program KB dan ketahanan pangan mempunyai kaitan yang sangat erat," katanya.<br /><br />Upaya lain yang dilakukan dengan menggencarkan diversifikasi pangan meski saat ini masih skala kecil sehingga harganya terbilang mahal.<br /><br />"Pengadaan impor hanya untuk memperkuat cadangan beras nasional," kata Hermanto. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.