Jeffray Berharap, 2019 Tidak Terjadi Lagi Karhutla di Sintang

SINTANG – Perhatian Pemerintah Pusat untuk pencegahan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) terus dilakukan. Analisis Global Forest Watch menunjukkan bahwa 75% peringatan titik api terjadi di wilayah lahan gambut.

Kebakaran di lahan gambut berlangsung lebih lama dan menghasilkan asap lebih banyak dibandingkan kebakaran lainnya, dan berperan besar dalam menyumbangkan kabut asap berbahaya selama setahun terakhir.

Kebakaran lahan gambut juga lebih susah dipadamkan dan menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca ke atmosfer dibandingkan kebakaran lainnya, dan juga menghasilkan asap yang berhubungan erat dengan peningkatan resiko gangguan pernapasan dan serangan jantung.

Oleh sebab itu, otoritas pemerintah Indonesia, termasuk pemerintah nasional dan lokal, para penegak hukum, para pelaku bisnis, dan masyarakat, harus memprioritaskan pencegahan kebakaran di lahan gambut, dengan usaha khusus yang difokuskan kepada Kecamatan dan Kabupatan. Hal itu pula membuat Ketua DPRD Sintang, Jeffray Edward berharap tak ada lagi terjadi Karhutla di Sintang.

“Kita berharap tidak terjadi lagi Karhutla tahun 2019 ini, khususnya di Kabupaten Sintang,” ujar Jeffray, Jumat (15/3/2019).

Jeffray juga meminta kepada para petani, cara-cara bercocok tanam yang masih dengan membakar lahan harus diganti dengan cara yang modern.

“Itu harapan kita, kalau pun masih ada kebakaran lahan, jangan sampai besar sehingga menimbulkan kabut asap yang sangat banyak,” katanya.

Memang kata Jeffray, dirinya memahami sekali kebiasaan masyarakat lokal yang masih banyak melakukan berladang dengan cara membakar. Hanya saja, itu harus ditinggalkan dengan cara berlahan-lahan.

“Kita dari pemerintah dan tentu aparat penegak hukum juga terus mensisialosasikan, supaya kebakaran lahan yang merugikan ini bisa ditekan. Peran serta penyuluh lapangan, terutama bidang pertanian juga harus lebih gencar,” pintanya.

Ia melihat, bahwa program pemerintah dengan pembukaan cetak sawah juga mesti difollow up terus. Jangan menyerah memberikan pemahaman agar dapat bercocok tanam dengan benar dari program cetak sawah tersebut.

“Karena saya melihat, masih ada beberapa sawah yang digarap melalui cetak sawah ini belum maksimal. Maka dari itu, pelaksanaannya mesti baik sehingga menjadi sawah yang baik pula,” pungkasnya. (KN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.