Kabut Asap Masih Terasa Ganggu Di Pontianak

Jumlah titik api di Kalimantan Barat sudah berkurang, namun kabut asap di Pontianak dan sekitarnya masih terasa dan mengganggu aktivitas dan jalur transportasi. <p style="text-align: justify;">"Jumlah titik api ini mengalami penurunan sejak beberapa hari terakhir ini, tetapi kabut asap masih mengganggu," kata Prakirawan BMKG Supadio Pontianak, Dina di Sungai Raya, Sabtu.<br /><br />Berdasarkan pantauan BMKG Supadio, hingga Jumat kemarin tercatat tinggal 11 titik api di Kalbar, di antaranya lima titik api di Kabupaten Ketapang, tiga titik api di Kabupaten Kubu Raya, dua titik api di Kabupaten Pontianak dan satu titik api di Kabupaten Bengkayang.<br /><br />Meski titik api tinggal sedikit, kata Dina, kabut asap masih sangat mengganggu udara Pontianak dan sekitarnya terutama pada waktu pagi, sore dan malam hari. Apalagi hujan masih jarang turun.<br /><br />BMKG memperkirakan, hujan belum juga turun merata di Kalimantan Barat dalam dua hari ke depan dengan intensitas ringan hingga sedang.<br /><br />"Sampai pagi tadi, jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak pada pukul 05.00 hingga 06.00 hanya 300 meter, kemudian berangsur membaik pada pukul 07.00 dengan jarak pandang 600 meter," tuturnya.<br /><br />Dina mengatakan, kabut asap yang terjadi sejak Senin, 24 September 2012 itu mengakibatkan jarak pandang turun di bawah satu kilo. Dalam tiga hari terakhir jarak pandang dipagi hari jatuh hingga 500 meter.<br /><br />"Jarak pandang normal itu, 7 km, tapi dalam beberapa hari terakhir turun hingga 500 meter. Kondisi ini terjadi sejak tanggal 24 September 2012," katanya.<br /><br />Selain menggangu aktivitas masyarakat, terutama pengendara sepeda motor karena dapat membuat mata perih, kabut asap ini juga mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Supadio.<br /><br />"Bahkan sarana transportasi laut juga sudah terganggu pada pagi dan malam hari akibat jarak pandang yang sangat terbatas," kata Dina.<br /><br />Dia juga menambahkan, faktor yang menyebabkan belum turunnya curah hujan, hingga saat ini karena Kalbar memasuki musim transisi, yakni peralihan musim kemarau ke musim hujan.<br /><br />Belum turunnya hujan juga dipengaruhi, adanya gangguan massa udara di sekitar timur Laut Filipina. Sehingga secara tidak langsung mempengaruhi berkurangnya pertumbuhan awan hujan di Kalbar.<br /><br />"Kondisi ini merata hampir di seluruh wilayah Kalbar," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.