Kalbar Kembangkan Model Pencegahan Perdagangan Orang

Provinsi Kalimantan Barat akan mengembangkan model pencegahan, perlindungan dan pemulihan korban tindak pidana perdagangan orang melalui program "Empower". <p style="text-align: justify;">"Ini dapat menjadi langkah maju untuk menyelamatkan generasi masa depan," kata Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya saat dihubungi dari Pontianak, Jumat.<br /><br />Menurut Wagub, tindak pidana perdagangan orang adalah bentuk pelanggaran terburuk terhadap harkat dan martabat manusia yang tak hanya merampas kebebasan namun juga mengancam keberlangsungan hidup manusia terutama perempuan dan anak.<br /><br />Ia melanjutkan, tindak pidana perdagangan orang juga telah menjadi isu global dan merupakan bentuk perbudakan moderen.<br /><br />"Tak terkecuali Indonesia yang tercatat sebagai negara yang rawan terhadap terjadinya kasus tersebut," ujar Christiandy Sanjaya.<br /><br />Ia menambahkan, pandangan yang menempatkan posisi perempuan dan anak sebagai aset keluarga ditafsirkan secara kurang tepat sehingga banyak merugikan kaum perempuan.<br /><br />Diantaranya berupa budaya permisif, menikah di usia dini, relasi gender yang tidak merata antara laki-laki dan perempuan.<br /><br />"Serta adanya anggapan bahwa perempuan mempunyai posisi yang lebih rendah dibanding laki-laki," ujar dia.<br /><br />Program Empower didanai oleh United Nations Trust Fund for Human Security (UNTFHS) dengan fokus di tiga provinsi. Penyerahan program tersebut dilakukan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar di Jakarta, Kamis (3/11).<br /><br />Wagub Christiandy Sanjaya selaku Ketua Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang Provinsi Kalbar menyampaikan ucapan terima kasih dan menyambut baik dengan diluncurkannya program tersebut.<br /><br />Ia berharap pelaksanaannya dapat menjangkau masyarakat miskin, terutama perempuan dan anak perempuan sehingga dapat diberdayakan kemampuan dirinya supaya mereka dapat lebih terlindungi terhindar dari ancaman tindak pidana perdagangan orang.<br /><br />Berdasarkan data International Organization For Migration (IOM) hingga Juni 2011 tercatat 3.909 korban perdagangan orang asal Indonesia kategori dewasa, 90 persen adalah perempuan dan 10 persennya adalah laki-laki.<br /><br />Sedangkan korban usia anak sebanyak 84 persennya adalah anak perempuan dan 16 persennya adalah anak laki-laki. IOM juga mencatat di Indonesia ada enam daerah asal korban terbanyak yaitu Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Jawa tengah, Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.