Kemampuan Manajerial Rendah Perajin Sulit Serap Modal

Usaha kerajinan terutama yang dikelola oleh perempuan di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan kesulitan untuk mendapatkan pinjaman permodalan karena dinilai belum memiliki kemampuan manajerial dengan baik. <p style="text-align: justify;">Kepala Bidang Kelangsungan Hidup Perempuan BP3AKB Hulu Sungai Utara (HSU) Muhyidin di Amuntai, Jumat, mengungkapkan, sebanyak 202 kelompok usaha perempuan di daerahnya baru sebagian kecil yang mendapat dana bantuan pemerintah daerah.<br /><br />"Masih sedikit perajin yang mampu menyerap dana bantuan pemerintah kabupten, provinsi maupun pusat, karena kemampuan manajerialnya yang belum baik," katanya.<br /><br />Hal tersebut, membuat kegiatan usaha milik kaum perempuan tersebut kekurangan modal usaha, karena masih terbatasnya bantuan dan pinjamandana dari pemerintah daerah.<br /><br />Masih rendahnya manajemen pengelolaan usaha kaum perempuan tersebut membuat pemerintah daerah menunda rencana pemberian bantuan maupun pinjaman modal usaha.<br /><br />Berbagai usaha milik Kaum perempuan dinilai masih perlu ditingkatkan terlebih dahulu agar mampu berkembang dan mampu mengeoloa dana bantuan.<br /><br />"Kami tidak berani memberikaan bantuan usaha apabila kelompok usaha yang mereka kelola belum memperlihatkan perkembangan sebagaimana yang diharapkan," katanya.<br /><br />Muhyidin yang dijumpai disela Acara Bimbingan Manajemen Usaha di Aula Kantor Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) HSU ini mengungkapkan, kelompok usaha perempuan yang telah diberi bantuan dana yakni Kelompok perempuan Indonesia Maju Mandiri (Perima) dan UPPKS.<br /><br />Sebanyak 62 kelompok usaha perempuan dari Perima dan UPPKS ini, katanya, masing-masing mendapat bantuan dana sebesar Rp5 juta terdiri dari dana bantuan sosial (Bansos) Pemda HSU untuk 50 kelompok, dan bantuan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk 12 kelompok.<br /><br />Sisanya sebanyak 140 kelompok usaha, yang sebagian besar berasal dari kelompok Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) belum mendapat dana bantuan.<br /><br />Dari jumlah tersebut, pelaku usaha rumahan yang jumlahnya paling banyak di HSU.<br /><br />"Khususnya usaha rumahan ini mereka mendapat pembinaan, karena biasanya lebih memilih usaha perorangan dibanding kelompok," kata Muhyidin.<strong> (das/ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.