Kemenag Kalsel Nyatakan Hilal Belum Tampak

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimatan Selatan Muhammad Tambrin menyatakan hilal atau bulan sabit tanda masuknya bulan suci Ramadhan 1435 Hijriah belum tampak. <p style="text-align: justify;">Hal ini disampaikan pada saat gelar rukyatul hilal di atas gedung Bank Kalsel di jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin, Jumat, sekitar pukul 16.23 Wita yang disaksikan juga oleh sejumlah organisasi Islam lainnya.<br /><br />"Kami nyatakan hilal tidak terlihat di daerah kami. Dan ini akan kami laporkan ke pusat," katanya.<br /><br />Menurut dia hasil peneropongan hilal pada Jumat petang akan menjadi referensi bagi pemerintah dalam hal ini Kanwil Kementerian Agama RI, untuk memutuskan datangnya awal Ramadhan.<br /><br />"Jadi kita tunggu saja sidang isbat yang digelar Kemenag RI malam ini," katanya.<br /><br />Dikatakannya Kanwil Kemenag Kalsel menggelar rukyatul hilal dengan alat teropong jenis Theodolite Nikon, yang fungsinya sebagai teropong sudut, yakni mengetahui posisi dan ketinggian benda (bulan).<br /><br />"Ini teropong cukup canggih, tapi memang daerah tempat kami meneropong ini cukup sulit melihat jelas, karena tingginya uap laut," ucapnya.<br /><br />Tambrin mengatakan berdasarkan teori perhitungan (hisab), saat matahari terbenam di Banjarmasin pada pukul 18.23 Wita pada tanggal 27 Juni 2014 tersebut, kondisi ketinggian hilal adalah 0 drajat 10 menit 10 detik (0” 10′ 10") di atas ufuk, yang berarti ketinggian hilal masih di bawah 2 drajat di atas ufuk.<br /><br />"Kalau menurut pemerintah posisi bulan di bawah 2 derajat itu belum masuk 1 Ramadhan 1435 H," terang Tambrin.<br /><br />Sebab, tegasnya, kondisi bulan di bawah 2 derajat itu, belum memenuhi kriteria imkanurrukyat (Mabims) yang disepakati pemerintah dalam menentukan masuknya bulan baru.<br /><br />"Kalau posisi bulan di bawah 2 derajat secara ilmiah, tidak mungkin untuk bisa di rukyat atau dilihat, dengan demikian menurut kriteria imkanurrukyat 1 Ramadhan 1435 H, bertepatan pada hari Minggu, 29 Juni 2014 M," kata Tambrin.<br /><br />Sebab, ujarnya, kalau posisi bulan di bawah 2 derajat tersebut, dimungkinkan bulan Sya’ban dijadikan 30 hari.<br /><br />Dia pun berharap masyarakat tidak bertentangan dengan hasil keputusan itu nantinya, dan menghormati setiap perbedaan pendapat segai rahmat Allah SWT.<br /><br />"Sebab Muhammadiyah sudah memutuskan awal Ramadhan pada Sabtu, 28 Juni 2014 ini, dan kita harus menghormati keputusan mereka itu," katanya. <strong>(das/ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.