Kerusakan Hutan Mangrove Balikpapan Di Depan Mata

Pengamat lingkungan menilai bahwa kerusakan hutan mangrove di Teluk Balikpapan, Kaltim sudah di depan mata, yakni terkait kebijakan pemerintah daerah akan membabat 30 persen dari kawasan itu untuk pengembangan industri. <p style="text-align: justify;">"Jika 30 persen kawasan hutan tropis dataran rendah itu dibuka maka bisa dipastikan kerusakan lebih besar terjadi pada kawasan mangrove di pesisir barat Kota Balikpapan itu, " kata Stanislav Lhota yang juga seorang peneliti kehidupan satwa langka di Teluk Balikpapan di Balikpapan, Kamis.<br /><br />Menurut pengamat lingkungan dari University of South Bohemia & Usti nad Labem Zoo, Republik Cehnya itu, dampak berikutnya adalah kian terbukanya akses kawasan yang menjadi habitat berbagai satwa langka tersebut.<br /><br />Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Balikpapan, Suryanto pada 26 juli 2011 di media mengungkap tentang rencana untuk membuka kawasan mangrove di sekitar Pulau Balang dengan formulasi 30:70 persen.<br /><br />"Artinya di kawasan mangrove yang tinggal 70 persen itu ada sebuah kawasan pengembangan industri," katanya.<br /><br />Dampak pembukaan lahan seluas itu (30 persen dari 20 Ha) bisa menimbulkan kerusakan lebih parah terkait adaya rekalamasi pantai, erosi tanah dan sedimentasi di Teluk Balikpapan serta sungai-sungai sekitarnya, ujar Lhota.<br /><br />"Pada gilirannya, konversi hutan yang seluas itu dipastikan akan melahirkan bencana ekologis, akibat rekalamasi pantai, erosi tanah dan sedimentasi di Teluk Balikpapan serta sungai-sungai," imbuh dia.<br /><br />Padahal kelestarian hutan mangrove Balikpapan sangat strategis dalam upaya penyelamatan berbagai satwa langka.<br /><br />Hutan mangrove Balikpapan misalnya menjadi rumah bagi bekantan (Nasalis larvatus) atau sering disebut monyet hidung panjang (hidungnya menyerupai belalai).<br /><br />Berdasarkan penelitian Stanislav Lhota, keberadaan bekantan di Teluk Balikpapan begitu penting, pasalnya kawasan itu menjadi salah satu tempat populasi bekantan terbesar di dunia.<br /><br />Populasi bekantan mencapai 1.400 ekor di Teluk Balikpapan mewakili lima persen primata berbulu kuning itu di seluruh dunia.<br /><br />Ekonomi Nelayan Kerusakan hutan mangrove Teluk Balikpapan juga dipastikan akan berdampak langsung bagi kehidupan ekonomi nelayan setempat karena produksi ikan akan menurun drastis, terkait mangrove sebagai "rumah bayi" bagi biota laut untuk berkembang.<br /><br />"Konversi hutan tidak hanya terjadi di dalam kawasan industri kariangau (KIK) akan tetapi akan terjadi di luar kawasan industri juga, dimana kawasan ini termasuk sebagai kawasan lindung dan area yang sangat penting sebagai koridor penyebaran satwa langka di antara hutan lindung sungai wain (HLSW) dan pesisir Teluk Balikpapan," papar dia.<br /><br />Yang disayangkan, Kota Balikpapan hakikatnya telah mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat pada tahun 2005 karena perencanaan dan tata kelola ruangnya yang patut di contoh, ujar dia.<br /><br />Rencana tata ruang tersebut telah mengintegrasikan antara perencanaan dan kelautan, yang dibuat berdasarkan proses konsultasi umum yang lengkap dan mengalokasikan sebanyak 51 persen dari wilayah kota Balikpapan untuk kawasan hijau.<br /><br />"Jadi sebaiknya rencana Bappeda untuk membabat 30 persen hutan mangrove Teluk Balikpapan tidak dilaksanakan atau ditinjau ulang," katanya menegaskan.<br /><br />Sebelumnya, hutan mangrove di Balikpapan sudah mendapat tekanan dengan kehadiran perusahaan pengelolaan minyak kelapa sawit mentah yang dibangun di luar kawasan industri kariangau yaitu PT. Mekar Bumi Andalas (MBA) dan oleh PT. Dermaga Kencana Indonesia (DKI) membuka kawasan lindung di Sungai Tempadung.<strong> (das/ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.