Kotim Operasionalkan Gudang Pengering Dan Kemasan Padi

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, merealisasikan janji pembangunan gudang pengering dan pengoperasian pusat kemasan padi lokal untuk membantu petani setempat. <p style="text-align: justify;"><br />"Selama ini petani lokal hanya mengandalkan pengeringan dengan cara tradisional. Cara itu tidak maksimal karena gabah yang dikeringkan tidak merata, sehingga kualitas berasnya rendah. Kalau dengan pemanfaatan teknologi, hasilnya lebih bagus," kata Kepala Dinas Pertanian Peternakan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (DP3KP) Kotawaringin Timur I Made Dikantara di Sampit, Kamis.<br /><br />Gudang pengeringan dan kemasan itu dibangun di Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit. Kawasan ini dipilih karena selama ini merupakan lumbung beras Kotim.<br /><br />Selama ini petani lokal sulit mempertahankan kualitas gabah, karena dengan sistem pengeringan manual kualitas gabah lokal kurang.<br /><br />Akibatnya, banyak petani yang tergoda menjual gabah kepada pengusaha dari luar daerah seperti Banjarmasin dan Palangka Raya.<br /><br />Dengan tersedianya gudang pengering dan mesin kemasan, pemerintah daerah berharap produksi beras Kotim makin meningkat.<br /><br />Selain itu, beras lokal diharapkan juga mampu bersaing di pasaran dengan kemasan yang menarik.<br /><br />Disinggung tentang cadangan beras, Made meyakinkan stok beras di Kotim mencukupi karena beberapa waktu lalu dilakukan panen raya padi. Kekeringan yang terjadi saat ini diyakini tidak sampai mempengaruhi produksi beras, namun hanya membuat musim tanam menjadi molor.<br /><br />Saat ini penanaman untuk periode Asep (April-September) hanya terlaksana di Kecamatan Kotabesi dan Pulau Hanaut dengan total luas sekitar 200 hektare. Made yakin, setelah hujan kembali turun maka penanaman padi bisa kembali dilakukan dan diharapkan membawa hasil menggembirakan.<br /><br />"Target kita aman karena periode tanam Okmar (Oktober-Maret) sudah panen 20.000 hektare lebih. Asep ini cuma tambah sekitar 4.000 hektare. Target 4.000 hektare tapi kalau bisa sebanyak-banyaknya," jelas Made.<br /><br />Saat ini petani lokal hanya mampu memproduksi beras sekitar 48.000 ton per tahun. Jika mengacu pada angka kebutuhan beras per orang per tahun mencapai 121 kilogram, maka berarti Kotim masih kekurangan beras sekitar 18.000 ton untuk mencukupi kebutuhan lokal. (das/ant)</p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.