Krisis BBM Akibat Kapal Pembawa Semen Tenggelam

Sudah dua pekan terakhir beberapa kota di wilayah Kalimantan Barat mengalami krisis bahan bakar premium akibat satu unit kapal pengangkutan semen tenggelam di muara Kapuas yang menjadi pintu masuk ke Pelabuhan Dwikora, Pontianak. <p style="text-align: justify;">Antrean panjang pembelian premium terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dalam Kota Pontianak dan beberapa kota lainnya di wilayah Kalbar sejak pekan lalu. <br /><br />Pada Rabu (23/2) antrean kembali terjadi, bahkan hingga Jumat ini. Antrean baru berhenti ketika SPBU sudah memasang tanda pemberitahuan premium habis. <br /><br />Antrean BBM terutama untuk jenis premium itu terjadi, menyusul terhambatnya suplai bahan bakar tersebut sejak pekan lalu. <br /><br />Satu unit kapal pembawa 14 ribu zak semen dikabarkan tenggelam di muara Jungkat. <br /><br />Lokasi tersebut merupakan pintu masuk ke pelabuhan. Lokasinya berjarak 15 kilometer dari pusat Kota Pontianak. Setiap kapal yang akan merapat di dermaga pelabuhan, harus melintasi muara Jungkat. <br /><br />Karena ada kapal yang tenggelam, puluhan kapal tidak bisa merapat ke pelabuhan, termasuk tanker pengangkut BBM yang tidak bisa merapat ke depot Pertamina. <br /><br />Kapal Layar Motor Rahmatia Sentosa dari bahan kayu berusaha masuk alur Sungai Kapuas atau tepatnya di muara Jungkat. <br /><br />Saat bersamaan KM Waweh kapal kargo dari bahan besi berangkat dari Pelabuhan Dwikora juga menggunakan alur itu sehingga terjadilah tabrakan antarkedua kapal itu pada Kamis (10/2) pukul 23.00 WIB. <br /><br />Administrator Pelabuhan Pontianak, Sudiono, mengatakan, proses evakuasi KLM Rahmatia Sentosa sejak tenggelam di alur Sungai Kapuas hingga kini belum berhasil. <br /><br />Dia mengatakan sangat sulit untuk melakukan evakuasi karena berbagai kendala. <br /><br />Sejak kapal tenggelam Adpel berupaya menarik kapal agar tidak menghalangi alur namun gagal. <br /><br />KLM Rahmatia Sentosa mengangkut sekitar 700 ton semen, atau setara sekitar 14 ribu zak semen. <br /><br />Satu zak semen yang sebelumnya berukuran 50 kilogram, karena tercampur air sudah membatu dan beratnya menjadi 72 kilogram. <br /><br />Saat ini Adpel masih mengupayakan cara manual dengan cara mengangkat muatan semen satu persatu. <br /><br />"Puluhan penyelam sudah dikerahkan untuk mengangkut semen-semen tersebut," katanya. <br /><br />Upaya itu tidak mudah karena palka tempat semen tersebut disimpan sempit, dan menghambat proses pengangkutan. <br /><br />Ia mengungkapkan, hingga kini baru 3.600 zak semen yang diangkat. <br /><br />Upaya lainnya dengan mengapungkan dengan dua tongkang dan kalau mengapung kapal ditarik dengan kapal tug boat namun kawat yang digunakan putus. <br /><br />"Malam ini kami coba apungkan lagi dengan dua tongkang," katanya. <br /><br />Jika masih gagal, maka akan dicoba menggunakan pengapungan dengan sistem balonisasi. <br /><br />"Sabtu besok (26/2) siap, paling tidak butuh empat hari. Dan pelaksananya sudah kontrak siap untuk empat hari," kata dia. <br /><br />Setelah muatan berkurang, kapal tersebut baru dapat dipindahkan ke lokasi yang tidak menghalangi alur Sungai Kapuas. <br /><br />Sementara itu, Pihak Pertamina Kalimantan Barat mengurangi penyaluran hingga 30 persen ke SPBU karena pengiriman ke Depot Siantan Pontianak terhambat kapal tersebut. <br /><br />"Sudah hampir dua minggu, tetapi belum bisa dipindahkan. Dalam rapat koordinasi, kami minta dipercepat karena menghambat kapal tanker untuk masuk," kata Sales Area Manajer Pertamina Kalbar, Ibnu Chouldum. <br /><br />Dia mengatakan, sebenarnya tidak ada kendala pengiriman BBM dari kilang Pertamina ke Kalbar. <br /><br />Saat ini stok BBM untuk Kalbar ada di muara Sungai Kapuas karena ukuran kapal tanker yang besar tidak dapat masuk hingga ke Depot Siantan. <br /><br />Ia mengungkapkan, terhambatnya pasokan ke Pontianak juga mengganggu distribusi Pertamina secara nasional karena kapal tanker yang digunakan beroperasi tidak sesuai jadwal. <br /><br />Selain itu, jumlah kapal tanker kecil Pertamina juga terbatas sehingga pihaknya harus bekerja keras selama dua minggu terakhir. <br /><br />Pertamina pernah mencoba menggunakan metode "ship to ship", yakni BBM dipindahkan dari tanker besar ke tanker kecil dengan ukuran kedalaman lambung kapal maksimal empat meter. <br /><br />"Metode tersebut sebenarnya tidak dibolehkan karena berbahaya, terutama untuk premium, dan ini tidak kami lakukan lagi," kata dia. Itu dilakukan karena untuk memenuhi kebutuhan BBM di Kalbar. <br /><br />Saat ini yang dilakukan adalah menggunakan ponton-ponton kecil atau memindahkan BBM di tanker untuk diangkut ponton sehingga kedalaman kapal dapat berkurang hingga maksimal empat meter. <br /><br />Sehari lalu, sebanyak 1.000 kilo liter premium didatangkan dari Ketapang menggunakan ponton. "Jatah Ketapang terpaksa dialihkan ke Pontianak," kata Ibnu Chouldum. <br /><br />Selain kebutuhan Pontianak dan sekitarnya hingga pesisir utara Kalbar, juga harus memasok ke daerah pehuluan yang dipusatkan di Depot Sintang. <br /><br />Pengaturan tersebut membuat pasokan premium ke SPBU dikurangi antara 20 persen hingga 30 persen. <br /><br />Sales Representative Pemasaran BBM Retail Rayon VI Kalbar, John Haidir menambahkan, suplai BBM akan berjalan normal jika KLM Rahmatia Sentosa berhasil dievakuasi dari muara Jungkat. <br /><br />"Selama kapal itu masih tenggelam, suplai BBM tidak akan normal," katanya. Jika suplai BBM normal kembali, distribusi lancar, maka tidak ada antrean lagi. <br /><br />Pertamina juga menyewa kapal kecil untuk mengangkut BBM hingga ke depot di Siantan. <br /><br />"Kami belum menghitung berapa biaya dan kerugian akibat itu," kata John Haidir, dengan alasan masih fokus memberikan pelayanan kepada masyarakat. <br /><br />Pertamina juga sudah pernah memberlakukan pembatasan pembelian premium di wilayah Eks Pontianak yang meliputi Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sanggau, Kota Singkawang, Kabupaten Sambas, Landak dan Bengkayang, pada pekan lalu. <br /><br />Satu unit kendaraan roda empat hanya mendapat jatah Rp50 ribu atau 11,11 liter premium sedangkan roda dua Rp10.000 ribu atau sekitar 2,22 liter. <br /><br /><strong>Segera diatasi </strong><br /><br />Gubernur Kalimantan Barat Cornelis sehari lalu juga sudah mengingatkan agar pihak terkait segera mengatasi terhambatnya arus barang dan jasa menuju Pelabuhan Pontianak. <br /><br />"Saya sudah minta beberapa kali agar masalah itu segera diatasi," kata Cornelis, di Pontianak, Kamis. <br /><br />Menurut dia, permintaan tersebut juga disampaikan langsung ke Pusat agar juga menangani hal itu karena sudah di luar kemampuan daerah. <br /><br />Sehingga sampai didatangkan peralatan khusus dari Jakarta agar kapal yang tenggelam bisa segera dievakuasi. <br /><br />Ia memberi batas waktu satu minggu agar persoalan tersebut sudah diatasi. <br /><br />"Sampai sekarang belum ada laporan. Nanti akan dicek kembali," kata Cornelis. <br /><br />Sementara Sekda Pemerintah Provinsi Kalbar M Zeet Hamdy pada pekan lalu mengimbau masyarakat setempat untuk tidak panik atas musibah tersebut. <br /><br />General Manajer Pelabuhan Indonesia II Cabang Pontianak Solikhin mengatakan kapal dengan kedalaman lambung empat meter masih bisa dilayani untuk melewati alur yang terhalang KLM Rahmatia Sentosa. <br /><br />Administrator Pelabuhan Pontianak Sudiono menanggapi usulan mengenai kemungkinan muatan diledakkan, sulit untuk dilakukan karena dampak yang diakibatkan. <br /><br />"Selain aspek lingkungan terganggu, pecahan material dapat semakin mengganggu bagian muara sungai menambah sedimentasi," kata Sudiono. <br /><br />Ia juga sudah menuntaskan Berita Acara Pemeriksaan Pendahuluan untuk anak buah kapal dari dua kapal yang tabrakan di alur tersebut. <br /><br />"Dari KLM Rahmatia Sentosa dan KM Wewah sudah dimintai keterangan. Hasilnya akan disampaikan ke Mahkamah Pelayaran dan akan ada sanksi siapa yang bersalah dalam peristiwa itu, kata Sudiono. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.