Kubu Raya Percontohan Satu Desa Satu Produk

Kabupaten Kubu Raya menjadi lokasi percontohan oleh pemerintah pusat di wilayah Kalimantan Barat dalam Program Satu Desa Satu Produk atau One Village One Product (OVOP). <p style="text-align: justify;">"Program ini sangat penting dan strategis untuk menekan angka kemiskinan. OVOP ini sangat tepat untuk masyarakat yang mau berkembang seperti di Kubu Raya," kata Wakil Bupati Kubu Raya, Andreas Muhrotien, di Sungai Raya, Rabu.<br /><br />Dia menjelaskan, untuk menjalankan program tersebut, Pemkab Kubu Raya menggelar bimbingan teknis tentang peran koperasi dalam pengembangan produk unggulan daerah.<br /><br />Andreas menilai program tersebut sangat tepat, karena di Kubu Raya tingkat kemiskinan masih tinggi, sementara masyarakatnya juga mempunyai upaya yang ulet untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.<br /><br />"Sangat cocok untuk mengembangkan OVOP," katanya.<br /><br />OVOP merupakan program yang dicetuskan Dr Morihiko Hiramatsu, Gubernur Prefektur Oita di Pulau Kyusu, Jepang.<br /><br />Program itu telah diadopsi di negara Thailand, Kamboja, China, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat.<br /><br />Sedangkan di Indonesia, program ini sudah dimulai di Kabupaten Bandung (Jabar) dan Wonosobo (Jateng) yang mengembangkan produk serat rami, Blitar (Jatim) produk belimbing yang menghasilkan produk turunan seperti jus, keripik buah, dan lainnya.<br /><br />Kriteria produk yang dikembangkan dalam OVOP ini merupakan unggulan daerah, unik, khas budaya dan keaslian lokal. Berpotensi pasar domestik dan ekspor, bermutu dan berpenampilan baik serta diproduksi secara kontinyu dan konsisten.<br /><br />Andreas menjelaskan, dengan dicanangkannya OVOP ini, tentunya secara otomatis akan menggali dan mempromosikan produk inovatif dan kreatif lokal dari sumberdaya yang bersifat unik dan khas daerah.<br /><br />"Bernilai tambah tinggi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, memiliki image dan daya saing yang tinggi," paparnya.<br /><br />Ia mengingatkan, dalam menentukan produk unggulan daerah itu, harus berbeda antara suatu kawasan dengan lainnya.<br /><br />"Produknya apa, jangan ikut-ikutan, kalau membuatnya ramai-ramai, nanti malah pasarnya tidak ada," katanya.<br /><br />Di tempat yang sama, Asisten Deputi Pemberdayaan Lembaga Pengembangan Bisnis, Kemenkop dan UKM RI, Ahmad Zabani, mengatakan, dalam menentukan suatu komoditas yang akan dikembangkan menjadi produk unggulan daerah harus berbasis pasar.<br /><br />"Itu penting sekali, jangan sampai kita memproduksi suatu komoditas secara besar-besaran tetapi ternyata tidak diterima oleh pasar," katanya.<br /><br />Menurut Zabadi, penting sekali dilakukan penelitian pasar sebelum menentukan suatu produk unggulan daerah yang akan dikembangkan.<br /><br />"Akses pasarnya, harus mampu memenuhi kebutuhan dan kemauan pasar. Kalau pasarnya tidak tersedia, pada akhirnya akan mengalami kerugian," jelasnya.<br /><br />Ia menambahkan, boleh saja melakukan improvisasi dan kreativitas yang mengarahkan potensi pasar ke produk unggulan yang dikembangkan.<br /><br />"Tetapi tetap kita harus memperhitungkan konsumen mau menerima produk yang kita kembangkan atau tidak. Artinya harus berbasis pasar," ucap Zabadi.<br /><br />Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kubu Raya, Sutoyo, mengatakan, dalam pengembangan program OVOP ini, dinas yang dipimpinnya menjadi koordinator.<br /><br />"Langkah awal yang kita lakukan, yakni menggali potensi seluruh kecamatan di Kubu Raya," ujarnya.<br /><br />Melalui pencanangan OVOP di Kubu Raya ini, kata Sutoyo, diharapkan akan muncul produk-produk unggulan yang dapat diangkat ke permukaan atau dikembangkan.<br /><br />"Setelah Bimtek terkait OVOP diharapkan segera ada wujudnya, harus ada keterpaduan, antara program pusat ini dengan dukungan dari kita melibatkan instansi-instansi terkait," kata Sutoyo. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.