Layakkah Kami di Perhatikan

Keberadaan masyarakat Indonesia yang berada di perbatasan tidak pernah lepas dari masalah, baik infrastruktur jalan, ekonomi dan maupun masalah lainnya. <p style="text-align: justify;">Salah satu isu adalah masalah ketenaga kerjaan dan nasionalisme yang menipis. Masyarakat perbatasan ada yang mengantungkan hidupnya bekerja sebagai buruh sawit harian dan tukang bangunan dengan gaji 25 ringit sampai 40 ringit Malaysia perhari. <br /><br />Khusus buruh perkebunan sawit harian mereka pulang pergi tiap hari dari pondok mereka yang berdekatan digaris batas Malindo. <br /><br />Karena kurangnya lapangan kerja dan belum bisa mengelola potensi Sumber Daya Alam yang ada mereka rela pulang pergi ke Malaysia. <br /><br />Untuk tukang bangunan atau yang bekerja di kota atau jauh dari batas, mereka juga sudah merasa nyaman karena mereka merasa aman dan terjamin baik keamanan dan kesejahteraannya karena bos/toke tempat mereka bekerja sudah saling percaya karena sudah lama dan saling kenal meskipun tanpa surat keimigrasian dan ketenagakerjaan.<br /> <br />Mengenai nasionalisme masyarakat perbatasan tetap cinta Indonesia, namun tidak dapat dipungkiri masalah media Radio Televisi Malaysia sedikit banyak juga mempengaruhi rasa nasionalisme mereka.  <br /><br /><br />Untuk Radio Repoblik Indonesia (RRI) jarang sekali didengar, malah radio siaran malaysia. Itulah yang setiap hari didengar. <br /><br />Siaran-siaran kenegaraan malaysia sampai hiburan-hiburan (nasihat dan lagu) semuanya acara malaysia bahkan banyak yang hafal lagu kebangsaan Malaysia.<br /><br />Yang tidak punya parabola tidak mungkin dapat nonton siaran TV indonesia apa lagi yang tinggal dekat garis batas tanpa parabola, hanya pakai antena biasa bisa nonton siaran TV malaysia.<br /> <br />Mohon pihak terkait dapat memperhatikan daerah perbatasan. Mohon bantuan pemerintah membantu pengadaan radio komunitas perbatasan di desa, karena posisi get border dan dapat menjangkau desa-desa sekitarnya, kami juga rindu dengan Siaran Indonesia.<em><strong> (Tomi/das)</strong></em></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.