Festival Tari Japin Upaya Lestarikan Budaya Melayu

MELAWI- Jarang sekali kita mendengar adanya festival Japin Melayu di Melawi ini. namun belakangan ini festival tersebut sudah sering dilaksanakan. Salah satunya yng dilaksanakan oleh Sanggar Tudong Saji Desa Ella Hulu, Kecamatan Menukung  beberapa hari lalu. Festival yang mempertandingkan kesenian tari japin tradisional ini terbilang istimewa karena diikuti para peserta yang rata-rata sudah berusia diatas 50 tahun.

Ketua Panitia, Aspar saat penutupan festival japin tersebut, menerangkan pelaksanaan festival ini lebih pada upaya penggalian seni budaya melayu yang sudah mulai punah yakni seni tari japin tradisional. “Kami sebenarnya mengundang desa-desa di Menukung dan Ella Hilir, namun hanya dua desa yang ada mengirimkan peserta,” katanya, belum lama ini.

Ada 27 peserta yang ikut dalam festival ini. Dan keseluruhannya sudah berusia paruh baya, bahkan mungkin lanjut usia. Namun, langkah gerak mereka masih tetap luar biasa, walau bisa jadi sudah puluhan tahun gerakan tari japin tradisional tersebut tak lagi dilakukan.

“Dulu biasa kami melakukan tari japin ini saat menjelang persiapan pesta pernikahan. Misalnya sebelum mulai masak-masak. Sekarang hampir jarang ada japin. Maka banyak anak-anak sekarang tak mengetahui gerak tarian ini,” kata Apong, salah seorang peserta yang berhasil menjadi juara dalam festival ini.

Ketua Sanggar Tudong Saji, Slamet mengatakan tujuan sanggarnya menggelar festival japin melayu ini memang untuk melestarikan budaya melayu, khususnya tari japin tradisional yang nyaris tenggelam karena tak lagi dipelajari dan ditampilkan dalam acara-acara pernikahan atau acara lainnya.

“Dalam festival ini, selain memperlombakan japin tradisional, kita juga melakukan dokumentasi terhadap tari japin. Kedepannya juga akan kita pelajari dan bisa kita latih pada anak-anak muda sehingga budaya ini tak hilang,” katanya.

Slamet juga memaparkan filosofi nama sanggar yang ia bentuk yakni Tudong Saji yakni Tuah Dijunjong, Seni dan Budaya di Kaji. Tudong sendiri merupakan perlengkapan penutup makanan yang digunakan agar makanan tak terkena kuman atau racun. “Dalam hal ini, sanggar Tudong Saji akan berupaya mengamankan budaya yang ada di Ella Hulu,” jelasnya.

Pada penutupan festival japin tradisional yang dilakukan Ketua DPRD Melawi, Abang Tajudin, juga dihadiri pengurus DPD POM Kabupaten Melawi. Tajudin pada penutupan mengaku terpesona dengan penampilan para orang tua yang masih mampu menampilkan tari japin tradisional secara baik. Bahkan ia menilai hampir 10 atau 20 tahun ini dirinya baru lagi melihat tari japin ini ditampilkan  dipanggung. “Padahal japin menjadi budaya melayu yang dari dulu sangat diagungkan oleh nenek moyang kita.  Japin merupakan perpaduan budaya melayu yang bernafaskan Islam,” katanya.

Tajudin pun berharap aar kedepan Sanggar Tudong Saji bisa menggelar kegiatan yang lebih besar dan luas. Festival nya juga tak terbatas pada japin, tapi juga berbagai jenis seni budaya Melayu dengna mengundang seluruh kecamatan. “Nanti pakai kelmpok umur, artinya tak hanya orang tua, tapi juga anak-anak dan remaja. Kita harus terus melestarikan budaya melayu sehingga tak hilang ditelan zaman,” pesannya. (edi/KN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.