Lirik Budidaya Gaharu Sebagai Alternatif Kesejahteraan Masyarakat

Nilai jual Gaharu di kancah dunia sangat menggiurkan. Sehingga dapat menjadi alternative untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. <p style="text-align: justify;">Apalagi permintaan terhadap gaharu yang dijadikan bahan dasar, untuk berbagai produk seperti parfum, kosmetik, obat dan sebagainya sangat tinggi. Tentunya tanaman yang memiliki aroma khas ini sangat menjanjikan untuk dibudidayakan oleh para petani di Melawi.<br /><br />“Sudah saatnya petani di daerah kita ini, melirik untuk membudidayakan Gaharu. Jadi tak hanya menanam karet ataupun sawah saja, yang selama ini digeluti oleh sebagian besar masyarakat,” ungkap Koordinator Wilayah Global Gaharu Indonesia (GGI) Melawi, Wahyudi, kemarin.<br /><br />Lebih anjut Yudi mengatakan, harga kualitas super gaharu, bisa mencapai Rp 5 juta per kilogramnya. Beberapa jenis tanaman gaharu yang dikenal antara lain Aquilaria malaccensis, A. filaria, A. hirta, A, agalloccha, A. macrophylum dan beberapa puluh jenis lainnya. <br /><br />Dari puluhan jenis tanaman yang berpotensi tersebut, Aquilaria malaccensis adalah tanaman penghasil gaharu berkualitas terbaik dengan nilai jual yang tinggi, jenis ini termasuk dalam family Thymelleaceae.<br /><br />“Membudiyakan Gaharu tidaklah terlalu sulit jika kita mengetahui proses membudididayakannya dengan benar. Buktinya sudah banyak petani yang sukses karena membudidaya Gaharu. Jadi mengapa kita tidak ikut membudidayakan gaharu dengan menanamnya,” timpalnya.<br /><br />Gaharu adalah produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dalam bentuk gumpalan, serpihan atau bubuk yang memiliki aroma keharuman khas bersumber dari kandungan bahan kimia berupa resin (α-β oleoresin). <br /><br />Gaharu terbentuk dalam jaringan kayu, akibat pohon terinfeksi penyakit cendawan (fungi) yang masuk melalui luka batang (patah cabang). Gaharu pertama dikenal dalam bentuk gubal, ditemukan di Assam, India dari pohon jenis Aquilaria agaloccha rottb pada abad ke-7. <br /><br />Di Indonesia dikenal mulai abad ke-12 diperdagangkan barter antara masyarakat Kalbar dan Sumsel dengan pedagang Kwang Tung, China. Gaharu dalam bentuk gubal semula dipungut dari pohon penghasilnya di dalam hutan dengan cara menebang pohon hidup dan mencacahnya untuk mendapatkan bagian yang bergaharu. <br /><br />Meskipun taaman gaharu harganya sangat istimewa bila dibandingkan hasil hutan lainnya, tambah Yudi, gaharu dapat dikembangkan sebagai salah satu komoditi HHBK yang jadi andalan alternatif untuk penyumbang devisa sektor kehutanan, selain dari hasil hutan kayu selama ini. “Saya yakin jika petani kita sudah membudidayakan Gaharu, dapat menjadi salah satu penyumbang bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ujarnya. (KN)</p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.