MABT Pertanyakan AS Dugaan Pelaku TPKTA Masih Berkeliaran

SEKADAU, KN – Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) pertanyakan perkembangan kasus dugaan, kekerasan terhadap anak dibawah umur oleh AS terhadap William Fernando (5th) asal Kabupaten Sekadau, anak dari Bapak Hadi Candra dan Ibu Chung Lang (Achun).

Sekretaris MABT Kabupaten Sekadau, Julianto didampingi Aphin, pengurus MABT saat ditemui beberapa awak media mempertanyakan, sampai dimana proses dan kelanjutan kasus ini.

“Kasus ini sudah dilaporkan pihak keluarga korban ke Polres Kabupaten Sekadau. Tapi kami belum mendengar berita yang siginifikan tentang kelanjutan kasus ini,” ujarnya.

Julianto mengatakan, karna kasus ini merupakan kekerasan terhadap anak dibawah umur, supaya ditindak sesuai hukum yang berlaku.

“Pelakunya juga masih berkeliaran. Jika tidak diproses, kita akan melanjutkan dan melaporkan ke tingkat yang lebih tinggi,” tegasnya.

Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kalimantan Barat ikut turun tangan dalam kasus ini.

Ketua KPPAD Kalbar, Eka Nurhayati Ishak mengatakan pihaknya sudah turun langsung melakukan pendampingan terhadap korban.

“Dalam hal ini, KPPAD Kalbar memberikan pendampingan dari proses hukum dan pemberian konseling trauma hiling untuk korban,” kata Eka (14/6).

KPPAD Kalbar juga mendesak pihak berwajib untuk secepatnya menangani kasus tersebut.

Eka menyatakan, mengacu pada UU Perlindungan Anak nomor 35 tahun 2014, anak sebagai korban diberikan perlindungan khusus dan pengawasan selama proses hukum berjalan.

“Dikarenakan korban anak dibawah umur yang dilindungi oleh UU khusus anak, KPPAD berharap pihak penegakan hukum yakni Polres sekadau dapat memproses pelakunya secara tegas,” ujar Eka.

Di konfirmasi kepada Kasat Reskrim Polres Sekadau, Muhamad Ginting melalui akun Whatsapp-nya mengatakan bahwa kasus ini naik.

Dengan berdasarkan:
1. Laporan Polisi Nomor : LP / B / 22 / VI /  Res.1.6 / 2019 / Kalbar / Res Sekadau, tanggal 30 Mei 2019 perkara tindak pidana “Kekerasan Terhadap Anak” Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 Ayat (1) Undang – Undang Nomor 35 Tahun 2014 Jo Pasal 351 KUH Pidana;
2. Surat Panggilan terhadap tersangka Nomor : Sp.Gil / 91 / VI / 2019 / Reskrim, tanggal 07 Juni 2019.

Kronologis Kejadian :
Pada hari selasa tanggal 28 Mei 2019 sekira jam 20.00 Wib Jalan Raya depan Star Market Jln. Kapuas Desa Sungai Ringin Kecamatan Sekadau Hilir Kabupaten Sekadau kejadian bermula pada saat pelapor sedang kerja di salah satu toko buah Harum Manis dan melihat anak pelapor dalam keadaan menangis dibawa oleh terlapor an. AS dengan menggunakan 1 (satu) Unit sepeda motor Honda vario warna silver milik terlapor, kemudian pelapor menghampiri terlapor AS dan pelapor menanyakan tujuan membawa anaknya tersebut dan pada saat itu terjadi pertengkaran mulut (cekcok) antara pelapor dan terlapor AS selanjutnya terlapor AS tiba – tiba pergi meninggalkan pelapor sambil membawa anak pelapor dalam keadaan menangis,  selanjutnya pelapor menghubungi nomor telepon terlapor namun tidak diangkat oleh terlapor,  tidak lama kemudian terlapor menghubungi pelapor dan mengatakan akan menginap di Hotel Pelangi kemudian pelapor bertemu terlapor dimeja reseptionis Hotel Pelangi tersebut kemudian terlapor membawa pelapor ke dalam kamar Hotel Nomor 330, setelah didalam kamar Hotel pelapor diberitahu anak pelapor bahwa anak pelapor kencing dalam celana dan dipukul oleh terlapor pada dibagian bahu dan kepalanya.  Atas kejadian tersebut pelapor melaporkan ke Polres Sekadau.

Pasal yang dilanggar kata Ginting,
Perkara tindak pidana “Kekerasan Terhadap Anak” Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 Ayat (1) Undang – Undang Nomor 35 Tahun 2014 Jo Pasal 351 KUH Pidana. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.