Masyarakat : Polemik DAD Sintang Selesaikan Dengan Komunikasi Dan Rekonsiliasi

Konflik internal di kepengurusan DAD Kabupaten Sintang, menjadi keprihatinan semua pihak khususnya warga masyarakat Dayak kabupaten Sintang. Mereka menilai, hal tersebut akan mengakibatkan citra yang buruk tidak hanya dimasyarakat Dayak, namun juga masyarakat umum dan juga bagi daerah. Mereka beranggapan hal itu tidak perlu terjadi jika semua pihak sepaham dengan tujuan dari DAD itu sendiri. <p style="text-align: justify;">“Apakah mereka tidak dapat berdialog dulu sebelum melaksanakan sehingga tidak muncul berbagai versi,” ujar Ambresius Murjani dari Ketungau Hulu, yang juga Koordinator KIMTAS, saat ditemui kalimantan-news.com, Minggu (22/07/2012).<br /><br />Murjani mengingatkan, seharusnya mereka yang berkonflik di internal DAD Kabupaten Sintang dapat menjunjung tinggi tatakrama serta menghargai orang lain. Menurutnya, ketika Gawai tersebut sudah dimasuki oleh kepntingan-kepentingan lain, sehingga tradisi  “basa” hanya terlaksana sepihak.<br /><br />“Orang hanya minta basa saja tanpa memperhitungkan orang lain,” katanya.<br /><br />Lanjutnya, satu-satunya cara untuk mendinginkan suasana yang sudah memanas ini, hendaknya mereka yang berpolemik dapat menahan diri dan lebih mengutamakan komunikasi serta rekonsiliasi internal.<br /><br />“Orang Dayak itu tidak identik dengan kekerasan dan identiknya dengan tatakrama,” tegasnya.<br /><br />Dirinya melihat, Gawai Dayak yang dilaksanakan belum lama ini sudah bergeser dari tujuan utama suatu kegiatan adat. Pada dasarnya, gawai adalah sebagai pengungkap rasa syukur kepada pencipta, atas hasil panen yang melimpah.<br /><br />“Itu yang terjadi di kampung-kampung bahwa gawai sebagai ungkapan syukur kepada pencipta, dengan berbagai kegiatan dan ritual adat. Inilah wujud kebersamaan orang Dayak. Berkumpul, berdoa dan makan bersama untuk mengungkap syukur kepada Jubata, pencipta alam semesta. Jadi bukan seperti yang terjadi saat ini, kegiatan gawai hanya untuk memperebutkan pengaruh dan kepentingan,” jelasnya.<br /><br />Hal senada juga diungkapkan Rangking Dunda, yang juga warga masyarakat Ketungau Hulu. Menurutnya, apa yang terjadi pada Gawai tahun ini sudah jauh melenceng dari maksud serta tujuan dari kegiatan Gawai yang sesungguhnya.<br /><br />“Saya tidak menyebut politik mana-mana, tapi memang sedikit ada kerancuan dari Gawai tahun ini karena nuansanya berbeda makna dari Gawai Dayak yang sesungguhnya. Jelasnya ada tarik menarik kepentingan,” kara Rangking.<br /><br />Tambahnya, Gawai Dayak 2012 ini sudah mengarah pada perpecahan karena adanya kepentingan sesaat. Padahal hakekatnya bagi orang Dayak, Gawai itu bertujuan untuk mempersatukan masyarakat Dayak itu sendiri.<br /><br />“Untuk itu saya sebagai orang Dayak, meminta kepada Pengurus DAD untuk tidak menggiring masyarakat Dayak kedalam hal-hal yang dapat merugikan masyarakat Dayak itu sendiri. Para petinggi yang ada di Organisasi untuk dapat memahami ini. Putuskanlah masalah dengan kebersamaan, dan jangan membenturkan pada kepentingan kubu si A atau si B,” pintanya.<strong> (*)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.