Melestarikan Hutan Melalui Kearifan Lokal

Ancaman degradasi dan deforestasi hutan di Kalimantan memang begitu nyata. Alih fungsi lahan menjadi areal perkebunan, pertambangan atau pemukiman kini dilakukan secara besar-besaran. <p>Dampaknya, kerusakan alam mempengaruhi perubahan iklim yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh dunia, termasuk mereka yang penghidupannya tergantung pada alam semesta.<br /><br />Rusaknya lingkungan termasuk hutan sendiri terlihat saat kami sejumlah jurnalis lokal dan nasional menuju kecamatan Tumbang Titi dan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang. Kedatangan para kuli tinta sendiri dalam rangkaian kegiatan journalist visit yang digelar oleh USAID IFACS selama 1-4 September lalu. <br /><br />Kunjungan para jurnalis di empat desa, yakni Petebang Jaya dan Tanjung Beulang yang masuk dalam kecamatan Tumbang Titi, serta Desa Rangga Intan dan Pasir Mayang di Kecamatan Jelai Hulu dilakukan untuk melihat bagimana empat desa ini bisa mempertahankan hutan dan melestarikan alam dengan kearifan lokal dan adat istiadat yang mereka jaga hingga kini. <br /><br />“Jurnalis tidak saja sekadar untuk menuliskan dan mempublikasikan persoalan maupun praktik terbaik yang dilaksanakan masyarakat di 4 desa tersebut diatas, tetapi juga agar para jurnalis bisa menjadi teman diskusi masyarakat setempat,” kata Alexander Mering, tim komunikasi dari USAID IFACS saat menjelaskan program tersebut pada para jurnalis.<br /><br />Petualangan pun dimulai pada Hari Minggu (31/8) dimana setelah seluruh jurnalis tiba di Ketapang. <br /><br />Dengan menggunakan empat buah kendaraan double gardan, para jurnalis dan tim dari USAID IFACS menikmati perjalanan Ketapang-Tumbang Titi dengan medan jalan yang berguncang-guncang. <br /><br />Sepanjang perjalanan, pemandangan perkebunan sawit, jalan rusak, hutan yang telah berubah menjadi padang ilalang mewarnai petualangan kami disana. <br /><br />Seluruh jurnalis pun kemudian tiba di Desa Petebang Jaya, dimana pada malam harinya dilanjutkan bersilaturahmi dengan warga dan perangkat desa setempat. <br /><br />Dan dipagi harinya kami para jurnalis bersama masyarakat dari empat desa kemudian melakukan penanaman pohon bersama di areal lahan kritis desa Petebang Jaya.<br /><br />Dari perbincangan hangat dengan warga Petebang Jaya terlihat bahwa sebenarnya perubahan iklim dan kerusakan alam sudah dirasakan masyarakat setempat sejak bertahun-tahun lalu. <br /><br />Pak Otong, salah satu warga mengungkapkan, selain bencana kebakaran hutan terbesar tahun 1997 yang menyebabkan jutaan hektar hutan menghilang, masyarakat juga dilanda bencana hama belalang yang menyebabkan banyak ladang mengalami gagal panen di tahun 1999.<br /><br />“Saya sampai menangis waktu itu karena yang tersisa di ladang tinggal ubi. Mau cari bibit padi saja harus ke kampung orang,” ungkapnya.<br /><br />Sedangkan, Hasan, mengeluhkan jalan menuju desanya yang dalam kondisi rusak berat. Bahkan saat kemarau sekalipun. Maklum saja, jalan dari Tumbang Titi ke Petebang masih berupa jalan tanah dan medan yang berbukit. <br /><br />Kondisi ini tentunya mempersulit akses transportasi ke Petebang, serta sejumlah desa yang berada jauh di dalamnya seperti Pasir Mayang dan Rangga Intan.<br /><br />Sementara itu, Fransiskus Darmadi, warga setempat yang juga sudah menjadi pendamping desa dari Yayasan Dian Tama mengungkapkan bahwa saat ini karet dan pola kehidupan berladang sudah sulit menopang perekonomian masyarakat setempat. <br /><br />Dengan harga karet yang hanya Rp 5 ribu per kilonya plus hasil ladang yang tak cukup dimakan hingga setahun kedepan menjadi alasan banyak masyarakat di sekitar hutan yang hidup dibawah garis kemiskinan.<br /><br />Ancaman masuknya perkebunan, perambahan hutan untuk ilegal loging membuat luas hutan terus berkurang, termasuk di wilayah empat desa tersebut. <br /><br />Syamsi yang menjadi fasilitator dari Dian Tama pun mengungkapkan desa-desa ini saat ini sudah dikelilingi areal perkebunan dan tambang. <br /><br />Oleh karena itu, Dian Tama atas support IFACS melakukan pendampingan pada warga di empat desa agar kelestarian hutan dapat terus terjaga. (bersambung)</p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.