Membaiknya Harga Karet Menimbulkan Konversi Lahan

Membaiknya harga karet alam beberapa tahun belakangan ini telah menimbulkan konversi lahan secara besar-besaran dari lahan non kebun karet dijadikan hamparan kebun karet. <p style="text-align: justify;">Beberapa warga di bilangan Desa Inan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Kamis menuturkan membaiknya harga karet memberikan semangat bagi warga untuk memperluas kebun karet.<br /><br />Karena lahan di wilayah ini terbatas akhirnya banyak lahan non kebun karet di ubah menjadi hamparan hijau kebun karet, seperti perkebunan pisang kini sudah disulap jadi kebun karet.<br /><br />Apalagi tanaman pisang belakangan ini sering diserang penyakit layu daun maka pisang dinilai sudah tidak ekonomis lagi.<br /><br />Kebun kopi, kebun kemiri, dan kebun buah-buahan pun sudah banyak dikonversi menjadi kebun karet.<br /><br />"Kami menilai kebun lain selain karet kurang menghasilkan, seperti kebun buah itu hanya sekali setahun panen, sementara kebun karet bisa disadap setiap hari dan mampu menghasilkan uang lebih banyak," kata Muhamad penduduk setempat.<br /><br />Menurut penduduk setempat, hampir tidak ada lagi lahan di kawasan tersebut yang terlantar, karena dimana ada lahan langsung digarap oleh penduduk menjadi kebun karet.<br /><br />Apalagi tehnologi budidaya kebun karet varietas unggul sudah dikuasai penduduk maka tak sulit lagi mengembangkan jenis kebun tersebut.<br /><br />"Kita berkebun karet sekarang, tunggu lima tahun karet unggul sudah bisa disadap dan lateksnya juga banyak, bila dijual karetnya menghasilkan uang lebih baik pada hasil kebun lain," tambahnya.<br /><br />Bila berkebun buah mulai tanam hingga panen itu menelan waktu puluhan tahun, dan bila berbuah pun hanya sekali setahun, sehingga sekarang dinilai sudah tidak menguntungkan lagi.<br /><br />Karena itu banyak jenis buah-buahan lokal yang kini mulai punah lantaran pohonnya ditebang dibuat kayu olahan dan lahannya dikonversi menjadi kebun karet, seperti buah lokal kapul, ramania, lahung, pampakin, durian, kalangakala dan banyak jenis buah lainnya yang terus ditebang.<br /><br />Berdasarkan keterangan harga karet alam setempat pernah menembus angka Rp16.000,- per kilogram, dan sekarang bertahan pada harga Rp10.000,- hingga Rp11.000,- per kilogram.<br /><br />Karet yang diolah warga setempat jenis lum, yaitu lateks yang dibekukan menggunakan cuka atau pupuk kemudian dikumpulkan menjadi satu sebesar kelapa lalu dijual ke pedagang pengumpul yang banyak berkeliaran di wilayah tersebut.<br /><br />Dengan harga karet demikian maka penduduk memiliki kebun karet unggul mudah saja memperoleh penghasilan Rp100 ribu per hari. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.