Mulainya Digitalisasi Sekolah di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal

JAKARTA, KN — Suatu daerah ditetapkan sebagai daerah tertinggal dengan kriteria yang meliputi aksesibilitas, keuangan daerah, karakteristik daerah, faktor SDM, ekonomi, dan sarana prasarana. Pembangunan dan pengembangan daerah tertinggal sudah menjadi tanggung jawab pemerintah yang diatur dalam PP 78/2014 tentang Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Perpres 131/2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal tahun 2015-2019. Kondisi pendidikan merupakan salah satu persoalan utama yang terdapat di daerah tertinggal dan membutuhkan perhatian khusus, karena tingginya angka putus sekolah, sarana prasarana yang belum memadai, minimnya pengajar, dan rendahnya mutu pelayanan pendidikan.

“Kondisi permasalahan pendidikan di Indonesia di daerah daerah tertinggal ini, semakin jauh dari ibukota kabupaten, jumlah gurunya itu semakin kurang. Masalah kualitas, tidak semua guru-guru yang mengajar di sekolah SD maupun SMP itu punya kualifikasi seperti yang dipersyaratkan. Banyak guru-guru yang hanya lulus D1 sampai dengan D3, dan walaupun mereka lulus S1 pun biasanya tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan, bukan dari pendidikan guru SD atau SMP,” ujar Supriyo, Kasubdit Pendidikan, Direktorat PSDM, Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal.

Setelah mengumumkan kerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi pada Mei 2019 untuk mengembangkan daerah tertinggal, pada akhir Agustus 2019 lalu Zenius Education mengunjungi Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, salah satu daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) di Indonesia untuk mengimplementasikan Zenius Prestasi. Zenius Prestasi adalah sebuah kotak peladen (server) yang bisa digunakan oleh para penggunanya untuk mengakses materi pelajaran Zenius Education tanpa koneksi internet. Dengan fitur video belajar yang lengkap mengikuti perkembangan kurikulum, paket soal latihan dan ujian dengan komposisi Higher Order Thinking Skill (HOTS) dan Lower Order Thinking Skill (LOTS) yang proporsional, dan pemetaan kemampuan siswa dan prediksi rekomendasi belajar, Zenius Prestasi dapat membantu siswa untuk belajar dan membantu daerah yang memiliki keterbatasan jumlah guru untuk memantau perkembangan belajar siswa dan menyusun program pembelajaran selanjutnya.

“Untuk membantu pemecahan permasalahan pendidikan di Indonesia yang cukup luas dan kompleks memang tidak bisa hanya bergantung kepada satu pihak, apalagi hanya dengan pemerintah saja. Kami dari Kementerian Desa mengupayakan kemitraan kerjasama untuk bersama-sama bekerja bersama untuk membantu pemecahan masalah pendidikan. Kenapa Zenius, karena dengan inovasi ini dapat membantu untuk mengurangi beban tugas dari guru dan juga memungkinkan dengan jumlah guru yang sedikit tapi bisa melayani siswa dengan jumlah yang cukup besar,” ujar Priyono, Direktur PSDM, Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal.

Hingga saat ini, Zenius telah memasang Zenius Prestasi di 15 sekolah di Kabupaten Sambas. Untuk tingkat SD, sekolah yang sudah didigitalisasi menggunakan Zenius Prestasi adalah SDN 01 Mentawa, SDN 02 Dalam Kaum, SDN 27 Kartiasa, SDN 19 Sebambang, SDN 10 Daup, SDN 05 Sagu Galing, SDN 07 Sasak, dan SDN 02 Sungai Bening. Untuk tingkat SMP, Zenius Prestasi sudah terpasang di SMPN 01 Sambas, SMPN 02 Sambas, SMPN 03 Sambas, SMPN 6 Galing, SMPN 1 Sajingan Besar, dan SMPN 2 Sajingan Besar.

Program digitalisasi sekolah ini juga mengundang antusiasme guru-guru yang cukup besar. Khoirotun, salah satu guru yang mengajar di SDN 02 Sambas, mengatakan, “Siswa sangat antusias dan senang dengan adanya tambahan materi pembelajaran dari Zenius. Teknologi seperti ini sangat membantu guru dalam kegiatan KBM sehari-hari. Sebagai tenaga pendidik, kami siap belajar terhadap perkembangan teknologi yang akan kami hadapi di kemudian hari.”

Ke depannya, Zenius bercita-cita Zenius Prestasi juga bisa mentransformasi digital sekolah-sekolah di daerah 3T lainnya dan juga di seluruh Indonesia. “Zenius Prestasi ada untuk para Bapak/Ibu guru, dan dalam proses pengembangannya kami aktif melibatkan para guru untuk memastikan fitur-fiturnya relevan dan sesuai kebutuhan kegiatan belajar mengajar di kelas. Zenius terus bertumbuh dalam karya dan kepedulian terhadap pendidikan di seluruh Indonesia, dan implementasi Zenius Prestasi di Sambas ini menandai dimulainya naik kelasnya pendidikan di daerah tertinggal melalui digitalisasi dan teknologi. Kami berharap Zenius tidak hanya dapat menemani siswa dalam belajar, tetapi juga membantu guru-guru dalam memfasilitasi pembelajaran, menginspirasi siswa, dan membentuk karakter muda-mudi Indonesia,” ujar Amanda Witdarmono, Chief of Education Initiatives Zenius Education.

Video dokumentasi mengenai implementasi Zenius Prestasi di Sambas, Kalimantan Barat dapat dilihat di tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=7Rd9zCn7TIk. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.