Pembakaran Naga, Akhir Rangkaian Cap Go Meh

MELAWI- Akhir dari perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2569/2018 di Kabupaten Melawi, Kalbar, diakhiri dengan pembakaran reflika naga, Sabtu sore (3/3) di lapangan sepak bola Tanjung Niaga, Nanga Pinoh. Ritual pembakaran naga ini merupakan akhir dari seluruh rangkaian perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang berlangsung pada hari ke-16 bulan pertama tahun Imlek. Prosesi pembakaran naga ini pun menjadi pusat perhatian warga.

Ketua Panitia Perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2569 Kabupaten Melawi, Taufik, disela-sela prosesi pembakaran naga itu mengatakan satu ekor naga yang dibakar ini merupakan naga yang sudah menjalani ritual buka mata beberapa hari yang lalu.

Taufik, yang juga sebagai Ketua Majelis Adat Budaya Tionghua (MABT) Melawi itu mengungkapkan, naga yang dibakar ini setelah buka mata beberapa hari yang lalu, juga telah melakukan atraksi di kawasan Kota Nanga Pinoh dan didaerah tetangga seperti di Sintang dan Sekadau dengan mendatangi rumah-rumah warga atau fasilitas umum.

Ritual pembakaran naga tersebut, jelasnya, wajib dilakukan, yang merupakan bentuk harapan, agar memperoleh keselamatan, kesehatan, dijauhkan dari bencana dan roh-roh jahat serta dipermudah rezeki. “Intinya dari prosesi pembakaran ini adalah mengantar kembalinaga tersebut pulang ke negeri asalnya,” ujarnya.

Selain itu diterangkan Taufik, ritual tutup mata dan pembakaran naga itu merupakan bagian dari rangkaian perayaan tahun Imlek dan Cap Go Meh. “Keluarga Tionghoa percaya, naga yang telah turun ke bumi membawa tujuan kebaikan, sehingga harus diantar kembali ke langit,” jelasnya.

Pada hari sebelumnya, yakni Jumat (2/3), MABT Melawi menghadirkan tatung. Ada sembilan Tatung yang ikut ambil bagian dalam pelaksanaan pawai tatung di sekitar jalan lingkungan pasar kota Nanga Pinoh. Diiringi dengan dua ekor naga dan penampilan barongsai, tatung yang menunjukkan kekebalannya terhadap benda tajam ini menjadi perhatian ratusan masyarakat Nanga Pinoh yang memang sejak awal sudah menanti di tepi jalan.

Panitia Imlek dan Cap Go Meh MABT Melawi, Ming Fung menerangkan secara total sebenarnya ada sembilan tatung yang dihadirkan oleh MABT untuk memeriahkan peringatan Cap Go Meh di Melawi. “Total ada sembilan Tatung, yang ikut beraksi. Hanya yang ditandu ada empat. Mereka berasal dari Sintang, ada juga dari Melawi,” katanya.

Menurut Ming Fung kehadiran para Tatung memang sudah menjadi budaya dan kerap dinanti masyarakat. Selain Tatung, dalam pawai kali ini juga dilibatkan kesenian barongan dari salah satu paguyuban kuda lumping masyarakat Jawa di Melawi.

“Ya itu inisiatif mereka untuk ikut memeriahkan pelaksanaan Cap Go Meh. Sehingga tidak hanya dari kita etnis Tionghoa, tapi juga ada partisipasi dari etnis lainnya yang ada di Melawi. Seperti dari masyarakat Jawa,” katanya.

Sementara itu, Pengusaha Melawi, Feby menilai perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Melawi sebenarnya termasuk luar biasa. Apalagi ditambah dengan antusias masyarakat yang juga sangat tinggi. Tak hanya dari etnis Tionghoa, tapi juga etnis-etnis lain juga ikut merasakan terhibur dengan perayaan tersebut.

“Kita mungkin hanya kalah dari Singkawang dan Pontianak untuk perayaan Cap Go Meh. Kegiatan yang digelar juga berbagai macam. Dibandingkan dengan kabupaten lain di wilayah timur Kalbar, saya rasa Melawi justru lebih meriah,” katanya.

Ketua Badan Sosial Pemadam Bahaya Kebakaran (BSPBK) Melawi ini menuturkan keramaian masyarakat bisa dilihat saat puncak hiburan rakyat di malam Imlek dan Cap Go Meh beberapa tahun terakhir. Seluruh lapisan masyarakat berbaur menjadi satu untuk ikut melihat hiburan.

“Kegiatan kebudayaan ini luar biasa untuk mempersatukan dan menunjukkan bahwa kita dari etnis Tionghoa adalah salah satu warga NKRI yang juga tak bisa dipungkiri berperan aktif sampai sekarang,” katanya.

Masyarakat yang menikmati perayaan Imlek maupun Cap Go Meh di Melawi, lanjut Feby juga tak hanya mereka yang berdiam di kabupaten ini. Tapi juga masyarakat dari kabupaten tetangga seperti Sintang, Sanggau dan Sekadau, bahkan dari Kucing, Serawak Malaysia datang untuk menyaksikan perayaan disini.

“Kedepan kita harapkan tim dari MABT bisa komitmen menggelar kegiatan ini secara kontinuitas. Sehingga Melawi bisa terpandang sebagai daerah yang kebersamaan masyarakatnya tinggi,” harapnya. (edi/KN)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *