Pembangunan Infrastruktur Pertambangan Batu Bara Jalan Terus

Sejumlah proyek infrastruktur untuk menunjang pertambangan batu bara telah direncanakan dan segera dibangun di Sumatera serta Kalimantan, meski harga ekspor batu bara per ton saat ini sedang berada pada level terendah. <p style="text-align: justify;">"Selain untuk mempertahankan produksi kita yang mencapai 600 ribu ton per tahun, kita tidak berpikir untuk saat ini saja, tapi setidaknya hingga 2025," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Supriatna Suhala dihubungi dari Balikpapan, Sabtu.<br /><br />Sebelumnya, Suhala adalah pembicara dalam seminar pertambangan di ajang Balikpapan Energy Expo di Gedung Pertemuan dan Olahraga (Dome), Balikpapan, 7-9 November.<br /><br />Pembangunan infrastruktur tersebut terutama untuk moda transportasi, yaitu kereta api untuk angkutan batubara. Dampaknya adalah membuka isolasi wilayah, memudahkan arus orang, barang, dan jasa, dan membawa kemajuan.<br /><br />Dengan pola pikir itu, akan dibangun jalan kereta api dan pendukungnya di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sumater Barat, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.<br /><br />Suhala memaparkan, di Kalimantan dengan berbagai macam skema kerja sama, rel kereta akan dibangun membentang dari Puruk Cahu, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, di mana sungai terlebar di Indonesia, Sungai Barito berhulu, hingga Bangkuang, dan terus hingga Batayang di pantai selatan Kalimantan Tengah di Kabupaten Kapuas.<br /><br />Proyek bernilai 3,2 miliar dolar itu akan menghubungkan lima kabupaten sekaligus, yaitu Kabupaten Barito Utara, Murung Raya, Barito Selatan, Barito Timur, dan Kabupaten Kapuas sepanjang lebih dari 385 km.<br /><br />Saat ini, kelima kabupaten itu justru lebih banyak melewati Kalimantan Selatan yang jaringan jalannya lebih baik dan lebih maju untuk transportasi orang dan barang.<br /><br />"Batu baranya lewat Sungai Barito, yang kalau musim kemarau tidak bisa dilayari hingga ke hulu sehingga jalur kereta api itu memang bukan sekedar alternatif," kata Suhala.<br /><br />Selain untuk mengangkut batubara, kereta api juga akan digunakan untuk mengangkut kelapa sawit. Perusahaan-perusahaan perkebunan dan pertambangan yang akan merasakan langsung manfaatnya adalah PT Billiton Indonesia/BHP Indonet Coal, PT Indika Indonesia Energy, dan PT Asmin Coalindo Tuhup.<br /><br />Di Kalimantan Timur, investor dari Rusia akan membangun rel kereta sepanjang 183 km ke barat laut ke Kutai Barat pada tahap pertama, dan sejauh 60 km lagi untuk mencapai Murung Raya pada tahap kedua. Nilai proyek ini 2,4 miliar dolar AS.<br /><br />Juga masih akan terus dibangun pelabuhan-pelabuhan batubara (coal terminal) dan fasilitas pengolahan (blending) si emas hitam.<br /><br />Proyek-proyek ini bagian dari Master Plan Percepatan Perkembangan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Sebab itu, menurut Suhala, kelangsungan dijamin oleh PT Penjamin Infrastruktur Indonesia.<br /><br />Di Sumatera, sebagai pelengkap pelabuhan akan dibangun pelabuhan batubara dan fasilitas blending di Lampung dan Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau. Kereta api akan digunakan untuk hauling batubara di Sumatera Selatan dan Jambi.<br /><br />PT Kereta Api Indonesia, misalnya, akan mengembangkan jalur tunggal yang selama ini dipakai PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk menjadi dua jalur dari Sumatera Selatan ke Lampung ke Tarakan Coal Terminal. Proyek ini akan selesai tahun 2015 dan menelan invesasi sebesar 1,8 miliar dolar AS.<br /><br />"Dengan double track itu, Bukit Asam akan mampu mengangkut hingga 26 juta ton per tahun atau lebih dari 2 kali lipat dari kapasitas sekarang yang 11 ribu ton per tahun," tutur Suhala.<br /><br />Ada pula proyek jalan kereta baru yang akan dibangun PT Transpacific Railway, perusahaan patungan antara PT Rajawali Corporation milik taipan Peter Sondakh, dengan China Railway Engineering Co dan PT Bukit Asam Tbk.<br /><br />Proyek ini menanamkan modal 1,3 miliar dolar AS untuk membangun dua jalur kereta untuk menghubungkan tambang batu bara Banko Tengah di Jambi ke Srengsem Coal Terminal di Lampung.<br /><br />"Baru akan selesai 5-6 tahun ke depan. Rel itu juga akan meningkatkan produksi Bukit Asam menjadi 65-70 juta ton per tahun di tahun 2019 nanti," ujarnya.<br /><br />Bukit Asam juga menggandeng Pemprov Sumatera Selatan dan PT Adani Global untuk membangun rel jalur ganda sepanjang 270 km untuk menghubungkan tambang batubara Tanjung Enim ke Tanjung Api-Api di Sumatera Selatan.<br /><br />Rel itu untuk mengantarkan sebanyak 50 juta ton batubara per tahun ke India, dimana 35 juta tonnya dibeli oleh Adani Enterprise, induk Adani Global di Ahmedabad, India.<br /><br />Sama seperti penggunaan di India, kalorinya yang rendah, batubara Sumatera cocok untuk pembangkit listrik mulut tambang. PLN merencanakan mengintegrasikan seluruh pembangkit di Sumatera dan Jawa dalam jaringan interkoneksi.<br /><br />Bahkan, juga menyambungkannya dengan Malaysia dan Singapura, dimana PLN sudah meneken nota kesepahaman dengan TNB, perusahaan pembangkit listrik milik Malaysia.<br /><br /&gt;Beroperasinya pipa gas yang menghubungkan Sumatera-Jawa memungkinkan gas dari Sumatera Selatan dialirkan ke industri dan perkotaan di Jawa.<br /><br />"Jadi yang harus dilakukan para pengusaha pertambangan saat ini adalah melakukan efisiensi hingga krisis ini bisa kita lewati bersama," demikian Supriyatna Suhala, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia. <strong>(das/ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.