Maksimalkan Pengolahan Lahan Sawah

MELAWI – Pemerintah Kabupaten Melawi diharapkan bisa mendorong masyarakat untuk memaskimalkan kembali pengolahan lahan sawah. Sehingga Melawi bisa memproduksi padi dengan jumlah yang sebesar seperti yang pernah terjadi di zaman orde baru.

“Saat masih Kabupaten Sintang, Kota Baru Kecamatan Tanah Pinoh dikenal sebagai daerah lumbung padi di Kalbar. Kita berharap kedepan jadikan beberapa tempat di Melawi ini bisa menjadi daerah lumbung padi, sehingga Melawi bisa dikenal kembali sebagai daerah lumbung padi di Kalbar. Untuk mewujudkan hal itu, laksanakan secara maksimal semua program yang ada. Kemudian harus siap bekerjasama dengan berbagai pihak,” ungkap Andi seorang warga Kota Baru, kemarin.

Andi mengaku yakin, kalau pemerintah berkomitmen dan serius mendorong masyarakat untuk meningkatkan produksi padinya, kedepan Melawi bisa menjadi daerah lumbung padi seperti yang pernah dialami oleh Kota Baru saat masih Kabupaten Sintang.

“Apalagi sampai sekarang Pemda Melawi terus membuka lahan baru untuk dibuat cetak sawah baru,” ujarnya.

Terpisah, Syamsul seorang pemuda asal Kecamatan Ella Hilir mengatakan peningkatan produksi padi ini juga merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan masyarakat dalam membeli beras.

“Apalagi kalau Melawi sampai swasembada beras, masyarakat kita bukan hanya berhenti membeli beras, malah mereka yang akan menjual beras,” ucapnya.

Dia juga sangat sependapat kalau Kabupaten Melawi harus mampu menjadi daerah lumbung padi kedepan. Bila perlu lumbung-lumbung padi tersebut tersebar disetiap kecamatan yang ada di Kabupaten Melawi.

“Dulu mungkin hanya Kota Baru yang dikenal sebagai daerah lumbung padi. Kedepan bila perlu semua kecamatan menjadi daerah lumbung padi,” ujarnya.

Setidaknya kata Syamsul, kalau sudah mampu menghasilkan beras sendiri, walaupun harga karet murah, paling tidak sudah tidak memikirkan untuk membeli beras, sehingga uang untuk membeli beras tersebut bisa digunakan untuk keperluan yang lain.

Terpisah, Kepala Desa Madong Raya, Suhardiman, mengatakan potensi lahan yang bisa diolah menjadi lahan persawahan di Desa Madong cukup luas. Sementara yang sudah diolah oleh masyarakat untuk menanam padi sudah sekitar 60 hektar.

“Kami berharap ada dukungan dari pemerintah dalam mengelola lahan masyarakat tersebut,” ungkapnya.

Selain itu dia juga berharap adanya pembinaan dan pendampingan secara maksimal dari dinas terkait, supaya pemahaman petani dalam mengelola lahan persawahan bisa meningkat. Apalagi, sebagian besar petani di Desa Madong Raya ini baru belajar mencetak sawah.

“PPL memang rutin turun kelapangan, tapi dengan lahan yang luas dan jumlah petani yang banyak, sehingga belum mampu memberikan pembinaan secara maksimal,” ujarnya.

Termasuk juga dalam hal sarana prasarana, baik sarana prsarana pengolah lahan sawah maupun sarana pengairan sawah. Bahkan tidak kalah pentingnya lagi, bantuan mesin penggiling padi, supaya kualitas beras yang dihasilkan dari mesin penggiling tersebut kualitasnya bagus.

“Sebab beras yang kami hasilkan dari penggiling padi yang ada sekarang hasilnya kurang bagus, beras yang dihasilkan masih banyak putus. Sementara beras yang dijual dari luar, berasnya bulat dan utuh,” tuturnya.

Satu kendala lagi yang masih dihadapi oleh petani di Desa Madong Raya adalah pemasaran beras atau gabah. Karena petani bingung hasil panen dari sawah mereka itu mau dijual kemana. Sementara kalau hanya untuk dimakan sendiri berlebih.

“Mau dijual sesama warga, rata-rata warga tidak beli beras karena memiliki sawah sendiri,” pungkasnya. (Ed/KN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.