Pemprov Kalbar-USAID IFACS Sepakati Perubahan Iklim

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama USAID Indonesia Forest and Climate Support menyepakati pengembangan kapasitas bidang perubahan iklim. <p style="text-align: justify;">"Dengan adanya penandatanganan nota kesepakatan itu, kami mendukung usaha pemerintah pusat untuk penurunan emisi 26 persen atau 41 persen dukungan pihak luar pada 2020," kata Wakil Gubernur Provinsi Kalbar Christiandy Sanjaya di Pontianak, Kamis.<br /><br />Christiandy menilai, Indonesia secara umum memang sebagian besar mengandalkan sektor kehutanan, perkebunan dan pertanian.<br /><br />"Untuk perubahan iklim tentunya kami harus berperan melalui program USAID IFACS itu," katanya menegaskan.<br /><br />Seperti diketahui, kata dia, perubahan iklim itu sifatnya global dan Kalbar tidak boleh tinggal diam terkait hal itu.<br /><br />"Artinya jika nanti Kalbar dapat menjalankannya dengan baik, maka tentunya akan berimbas pada semua sektor. Di satu sisi, bisa memanfaatkan hutan untuk kesejahteraan, dan di sisi lain kelestarian lingkungan dapat terjaga," ungkap Christiandy.<br /><br />Di Kalbar sendiri, ada empat kabupaten yang ditunjuk untuk program tersebut antara lain Ketapang, Kayong Utara, Sintang, Melawi dan Sekadau.<br /><br />"Untuk proyek rintisan akan dilakukan di dua kabupaten dulu yakni Ketapang dan Kayong Utara. Menyusul berikutnya tiga kabupaten lain," ungkap Christiandy.<br /><br />Sementara, Perwakilan USAID IFACS Indonesia Arif Wicaksono mengatakan, USAID IFACS menargetkan 50 persen pengurangan degradasi hutan untuk 6-10 juta hektare hutan tropis yang ada di seluruh Indonesia.<br /><br />Untuk itu, dalam pelaksanaannya, jelas Arif, USAID IFACS akan menargetkan perbaikan pengelolaan setidaknya 3,5 juta hektare hutan tropis yang dipilih berdasarkan kriteria hutan dengan nilai konservasi tinggi.<br /><br />"Tentunya, dengan program yang kami rintis itu setidaknya setengah pegawai pemerintah daerah setempat akan mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas serta setidaknya ada kenaikan 20 persen sumber daya keuangan untuk pengelolaan keuangan," jelas Arif tentang keuntungan program USAID IFACS.<br /><br />Program yang diharapkan dapat selesai pada 2014 itu diterapkan di 8 bentang wilayah yakni di Aceh, Kalbar, Kalteng dan Papua.<br /><br />"Dalam pengerjaan program kami yang terintegrasi mengenai perubahan iklim, pengelolaan hutan lestari, dan program pembangunan rendah emisi. Program itu juga diharapkan dapat selesai pada 2014 melalui perusahaan kontraktor dengan program hibah dan sub kontrak untuk organisasi lokal di lokasi bentang wilayah," katanya. <strong>(das/ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.