Peneliti: Perlu Dipelajari Dampak Penggunaan Lahan Gambut

Peneliti dari Oregon State University Prof Boone Kauffman menyatakan Amerika Serikat dan Indonesia perlu mempelajari dampak penggunaan lahan gambut, baik untuk pemukiman, perkebunan, maupun lainnya terhadap perubahan iklim pada masa mendatang. <p style="text-align: justify;">"Lahan gambut dan ekosistemnya tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat lokal, melainkan juga bermanfaat bagi masyarakat dunia umumnya," kata Boone Kauffman di Pontianak, Rabu.<br /><br />Peneliti dari Oregon State University Prof Boone Kauffman dan timnya, baik dari kalangan mahasiswa yang akan menyelesaikan S2 hingga S3, serta LSM peduli lingkungan, saat ini melakukan penelitian terhadap hutan bakau di Kalimantan Timur, dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.<br /><br />Ia menjelaskan penelitian penggunaan lain terhadap lahan gambut perlu dilakukan, karena penggunaan lain itu akan berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim, karena hutan, lahan basah, dan lahan gambut berperan penting dalam menyerap karbon.<br /><br />Boone menambahkan pihaknya sudah melakukan penelitian terhadap penggunaan lain terhadap lahan gambut di 50 negara termasuk di Indonesia, dan saat ini ada empat mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di bidang lingkungan Oregon State University.<br /><br />Harapan dari penelitian tersebut, Boone menambahkan meningkatkan peran lahan gambut dalam berpartisipasi membentuk strategi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, bagaimana melakukan restorasi lahan basah secara berkelanjutan.<br /><br />"Proyek penelitian ini memasuki tahun ketiga, dan sekarang masuk tahun terakhir, semoga hasilnya dapat menyumbangkan dalam merumuskan adaptasi perubahan iklim," ujarnya.<br /><br />Menurut dia, saat ini tercatat sekitar 45 juta hektare hutan tropis di dunia, dan sekitar 25 juta hektare berada di Indonesia, kemudian hutan bakau sekitar 145 kilometer persegi, berada di 125 negara, sekitar 23 persen berada di Indonesia sehingga sangat unik.<br /><br />"Apalagi saat ini, hutan bakau paling rentan terhadap penggundulan, termasuk di Indonesia. Dampak pemanasan global semakin besar, sehingga biaya yang harusnya digunakan untuk pembangunan, tetapi malah digunakan untuk penanggulangan bencana alam akibat pemanasan global tersebut," ujar Boone. (das/ant)</p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.