Penyanderaan Tongkang Tambang Di Kotim Terus Berulang

Insiden penyanderaan tongkang dan tugboat pengangkut tambang di Kecamatan Cempaga Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah terus berulang karena dampaknya dinilai mengganggu aktivitas masyarakat. <p style="text-align: justify;">"Jumat sore memang warga sempat menahan sejumlah tongkang dan tugboat, tapi tadi malam sudah dilepas. Sudah ada negosiasi antara dua perusahaan itu dengan warga yang mengajukan tuntutan," ujar Kepala Desa Cempaka Mulia Barat, Supian Hadi dihubungi dari Sampit, Sabtu.<br /><br />Informasi didapat, warga sempat menyandera tiga tongkang bermuatan bauksit serta enam kapal tugboat penarik tongkang. Aksi itu dilakukan warga dari beberapa desa untuk menuntut pihak perusahaan memberikan kompensasi kepada warga setempat.<br /><br />Insiden penyanderaan seperti ini bukanlah yang pertama kali, tetapi sudah berulang kali. Namun sebelumnya penyanderaan terjadi akibat puluhan kali insiden tongkang menabrak rumah lanting, jamban dan kelotok milik warga di bantaran Sungai Cempaga, sedangkan kali ini tuntutan warga adalah permintaan kompensasi.<br /><br />Warga meminta kompensasi dengan alasan selama ini aktivitas hilir mudik tongkang membawa hasil tambang bijih besi dan bauksit, telah menimbulkan kerugian bagi masyarakat.<br /><br />Selain insiden tabrakan yang berakibat rusaknya aset warga yang masih kerap terjadi, dampak lainnya yang sangat dirasakan adalah makin keruhnya air Sungai Cempaga serta tingginya abrasi sungai.<br /><br />Terganggunya kualitas air sungai akibat dampak hilir mudik tongkang juga berimbas pada menurunnya penghasilan masyarakat yang mengandalkan pencaharian dari mencari ikan. Kondisi inilah yang sangat dikeluhkan masyarakat setempat.<br /><br />"Banyak sudah rumah warga yang goyang-goyang karena tanah tempat tiang rumah terkena abrasi akibat sering kena gelombang saat tongkang lewat. Kami aparat desa hanya memfasilitasi," kata Supian Hadi.<br /><br />Dalam pertemuan antara warga desa Cempaka Mulia Barat dan Desa Cempaka Mulia Timur dengan dua perusahaan tambang yang beraktivitas di kawasan itu, warga meminta kompensasi di antaranya berupa santunan Rp500 ribu/kepala keluarga per bulan dari masing-masing perusahaan.<br /><br />"Pihak perusahaan minta waktu tiga hari untuk mereka membahas tuntutan warga di internal perusahaan mereka. Kami berharap mudah-mudahan ada solusi yang bisa diterima semua pihak sehingga kejadian seperti ini tidak terus berulang," harap Supian Hadi.<strong> (das/ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.