Perkebunan Sawit Tidak Pengaruhi Penangkaran Arwana

Sejumlah penangkar ikan arwana jenis "super red" di Kecamatan Semitau dan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar menyatakan perluasan perkebunan sawit di kecamatan itu tidak mempengaruhi usaha mereka. <p style="text-align: justify;">Dulkarim (44) salah seorang penangkar arwana saat dihubungi di Semitau, Minggu (06/03/2011), mengatakan, hingga saat ini ikan arwana yang dipeliharanya tetap bertelur hingga menjadi anak meskipun sekeliling kolamnya sudah berubah fungsi dari hutan menjadi perkebunan sawit sejak dua tahun terakhir. <br /><br />"Buktinya kolam saya berdampingan dengan kebun sawit tetapi tetap saja masih produktif," ujarnya. <br /><br />Ia mengatakan, budidaya arwana membutuhkan perawatan khusus dan memerlukan tingkat keasaman air dan tanah tertentu. <br /><br />"Asal tingkat keasamannya tetap terjaga maka tidak berpengaruh meski lokasi kolam berada di dekat kebun sawit," katanya. <br /><br />Dulkarim menambahkan, dari hasil usaha budidaya arwana ia mampu menyekolahkan anaknya hingga di perguruan tinggi di Jakarta dan mampu membeli dua unit mobil. <br /><br />Dulkarim mengaku beberapa waktu lalu memanen anak ikan arwana sebanyak 200 ekor senilai Rp250 juta. <br /><br />"Untuk pemasaran tidak ada masalah, malah ekspor arwana kita ke Jepang, China belum memenuhi kuota," katanya. <br /><br />Hal senada juga diakui oleh Sukarman (43) salah seorang penangkar di Suhaid yang mengatakan, budidaya ikan arwananya tetap bisa bertahan, bertelur hingga menjadi anak meskipun jarak kolamnya hanya 50 meter dari perkebunan sawit. <br /><br />"Malah saya mulai budidaya arwana setelah perkebunan sawit PT Kartika Prima Cipta sudah mulai tahap tanam," ujarnya. <br /><br />Ia menjelaskan, tidak benar pengembangan perkebunan sawit berdampak pada budidaya arwana. <br /><br />"Buktinya dalam tahun pertama budidaya arwana saya sudah dua kali panen atau sebanyak 50 ekor dijual seharga Rp2,5 juta per ekor atau sebesar Rp125 juta," ujarnya. <br /><br />Namun ia mengakui belum balik modal karena investasinya untuk dua kolam sekitar Rp300 juta. <br /><br />Kecamatan Semitau dan Suhaid salah satu daerah penghasil arwana super red endemik Taman Nasional Danau Sentarum. <br /><br />Menurut data, ada sekitar 100 tempat budidaya arwana super red di dua kecamatan itu. <br /><br />Sebelumnya, Eldimart Controler PT KPC mengatakan, pihaknya memang menerapkan penggunaan pestisida dengan sistem tepat dosis, tepat cara, tepat waktu, serta menerapkan prinsip ramah lingkungan sehingga tidak mengganggu budidya arwana. <br /><br />"Selain komitmen kami agar tidak mengganggu budidaya arwana, penggunaan pestisida juga dilakukan dengan hati-hati dan sesuai prosedur yang berlaku," katanya.  <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.