Pertanian Sintang Diarahkan Berbasis Agroindustri

Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sintang, Florentius Anom mengatakan pertanian berbasis agroindustri di kabupaten itu sangat diperlukan. <p style="text-align: justify;">"Ini sudah menjadi agenda penyuluhan kiat untuk mendorong peningkatan produksi pertanian di Sintang," katanya. <br /><br />Menurutnya, peningkatan sektor pertanian sangat penting untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar. <br /><br />"Karena setiap saat orang pasti memerlukan hasil pertanian sehingga ini menjadi peluang bagi kita untuk terus berinovasi dalam mengembangkan sektor ini," katanya. <br /><br />Menurutnya, petani harus bangga mengatakan pekerjaan mereka adalah petani karena saat ini dunia dihadapkan pada persoalan pangan yang cukup serius. <br /><br />"Untuk mengatasi masalah pangan itu, semua orang di dunia akan sangat bergantung pada produksi dari petani sehingga ada kebanggaan tersendiri dan itu adalah pekerjaan mulia," katanya. <br /><br />Ia mengatakan petani saat ini memang masih terbentur pada persoalan modal dan pasar yang belum bisa diakses langsung oleh kebanyakan petani. <br /><br />"Petani kita sebenarnya sudah sangat cerdas menyikapi situasi ini, misalnya ketika mereka menanam pisang, yang harus dipikirkan adalah kemana menjualnya, kalau pasar lokal tidak mampu menampung banyak, mereka juga tidak akan membuka lahan dalam jumlah luas," katanya. <br /><br />Padahal katanya, bila dilihat lebih jauh, ternyata semua hasil pertanian yang dihasilkan mampu diserap sepenuhnya oleh pasar. <br /><br />"Tinggal bagaimana akses pasar itu dibuka dan ini juga jadi salah satu tugas pemerintah untuk membuka akses tersebut," jelasnya. <br /><br />Ia mengatakan, bisa saja itu berupa produk cabe, maka pemerintah mencoba untuk mengomunikasikan hal itu kepada pembeli utama yang bisa diakses langsung petani. <br /><br />"Bisa ke perusahaan mie instan atau pabrik pengolahan cabe botol, begitu juga dengan jagung bisa ke pengusaha peternakan," ucapnya. <br /><br />Selain itu, untuk bisa mengakses langsung kepada pembeli, petani bisa membuka outlet hasil pertanian di pinggir jalan yang tak jauh dari lahan usaha taninya. <br /><br />"Ini sudah kita lakukan di jalan Sintang-Kelam, sudah bermunculan outlet petani di pinggir jalan yang memasarkan langsung hasil pertaniannya ke pembeli," jelasnya. <br /><br />Selama ini menurutnya dalam pemasaran produk pertanian, ada mata rantai pemasaran yang panjang sehingga petani hanya mendapatkan nilai lebih sedikit saja dari hasil usaha taninya. <br /><br />"Petani yang berhujan dan berpanas hanya mendapatkan sedikit, sementara orang yang hanya bermodalkan beberapa liter bensin ternyata mendapatkan nilai lebih yang cukup besar, tanpa mereka harus kena hujan atau panas di lahan pertanian," ucapnya. <br /><br />Wakil Bupati Sintang, Ignasius Juan menilai orientasi petani Sintang selama ini lebih cenderung pada pasar-pasar tradisional besar yang sudah ada seperti di Sungai Durian maupun di pasar Junjung Buih. <br /><br />"Padahal pasar adalah tempat pertemuan antara permintaan dan penawaran, dari rumahpun bisa terjadi transaksi, tanpa harus pergi ke pasar," jelasnya. <br /><br />Ia mengatakan dalam memasarkan hasil pertanian juga dituntut untuk kreatif sehingga produk yang ditawarkan memiliki nilai yang besar. <br /><br />"Petani juga bisa mengolah hasil pertanian mereka menjadi berbagai produk turunan yang tentunya memiliki nilai yang lebih tinggi," jelasnya. <br /><br />Menurutnya, pemerintah juga tidak bisa membantu banyak petani dalam mengembangkan usaha tani apalagi jika dilihat anggaran yang tidak terlalu besar. <br /><br />"Tapi pemerintah bisa membantu melalui penyuluh pertanian yang ada untuk memberikan motivasi agar pertanian di Sintang ini bisa lebih maju dan berkembang," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.