PKK: Jaga Lingkungan Mulai Dari Pekarangan Rumah

Upaya menjaga lingkungan untuk penyelamatan lingkungan dan perubahan iklim mulai dari yang kecil-kecil, yakni dari pekarangan rumah, kata Sekretaris Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga Provinsi Kalimantan Barat. <p style="text-align: justify;">"Menghijaukan pekarangan rumah dengan tanaman yang bermanfaat, seperti sayur-sayuran, pagar hidup, ubi kayu, cangkok manis, kunyit dan jahe, secara tidak langsung perempuan berperan dalam menjaga lingkungan," kata Sekretaris Tim Penggerak PKK <br /><br />Provinsi Kalbar Uray Titin saat menjadi pembicara dialog publik Perempuan, Lingkungan dan Perubahan Iklim di Universitas Panca Bhakti Pontianak, Jumat.<br /><br />Ia menjelaskan, dijadikannya pekarangan rumah menjadi hijau dengan tumbuhan yang bermanfaat maka peran perempuan dalam menimbulkan semangat untuk menjaga lingkungan sangat besar yang ditanamkan mulai dari lingkungan keluarga, anak-anak sejak <br /><br />kecil.<br /><br />"Selain itu kami juga punya sepuluh program pokok PKK, salah satu programnya menjaga lingkungan agar tetap lestari," kata Titin.<br /><br />Program Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar juga telah mensosialisasikan pada anggotanya dan para ibu-ibu di 14 kabupaten/kota yang dikenal dengan, tebar, tanam dan pelihara. Tebar artinya menebar benih apa saja yang bermanfaat, tanam yakni menanam apa saja di pekarangan rumah yang bermanfaat bagi ekonomi keluarga, dan pelihara apa saja yang telah ditebar dan ditanam.<br /><br />Selain Tim Penggerak PKK Kalbar tahun 2011 merencanakan membentuk "Desa Model" maksudnya desa yang bisa dijadikan percontohan karena telah berhasil menjabarkan 10 program pokok PKK yang rencananya akan dibentuk di lima kabupaten/kota, kata Titin.<br /><br />Anggota DPD RI dari daerah pemilihan Kalbar Maria Goreti menyatakan, apa yang telah dilakukan oleh tim penggerak PKK Kalbar cukup bijak di dalam menjaga lingkungan agar selalu hijau, di samping itu lingkungan yang dibuat hijau itu bisa dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari seperti sayur-mayur.<br /><br />"Indonesia perlu belajar lebih banyak lagi dari negara Jepang yang sangat memperhatikan lingkungan mulai dari memilah sampah hingga menekan seminimal mungkin setiap aktivitas sehari-hari dengan tidak menghasilkan sampah," katanya.<br /><br />Malah menurut dia, Jepang menargetkan pada tahun 2020 bebas dari sampah, maksudnya sampah yang dihasilkan bisa bermanfaat dengan cara didaur ulang.<br /><br />Selain itu, masyarakat Jepang juga sangat menghargai hutan sehingga mereka memang memelihara hutan agar lingkungan tetap terjaga hingga anak cucu mendatang, kata Maria Goreti.<br /><br />Ketua Pelaksana Dialog Publik tentang peran perempuan terhadap lingkungan, Mein Odop menyatakan, dialog tersebut diselenggarakan bagian dari peringatan Hari Bumi 22 April.<br /><br />Dialog tersebut digelar mengingat kaum perempuan sebagai bagian dari entitas manusia Indonesia terhadap upaya penyelamatan lingkungan sehingga tidak bisa diabaikan.<br /><br />"Naluri keibuan yang ada itu menjadikan perempuan lebih peka dengan lingkungan sekitarnya," ujarnya.<br /><br />Tidak hanya itu, kata dia, keterlibatan kaum perempuan dalam berbagai sektor kehidupan sosial kemasyarakatan termasuk dalam aktivitas keseharian di pedesaan yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber daya alam yang sangat menarik dibahas dalam ruang publik.<br /><br />"Bahkan, kaum perempuan jugalah yang sangat rentan dan cenderung banyak menerima dampak dari eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali," kata Mein. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.