Puluhan Masyarakat Seruduk Kantor Bawaslu Sekadau

SEKADAU, KN – Puluhan masyarakat dari Nanga Taman dan 1 orang dari Nanga Mahap datangi kantor badan pengawas pemilu (Bawaslu) Kabupaten Sekadau, Selasa (30/4/19).

Kedatangan masyarakat tersebut dengan ritual, menabur beras kuning yang sudah dicampuri darah babi, darah anjing dan darah ayam di depan Kantor Bawaslu Kabupaten Sekadau.

Kehadiran puluhan masyarakat tersebut menanyakan tindaklanjut laporan mereka terkait politik uang pada pemilu 17 April 2019 yang dilakukan oleh AW calon legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sekadau daerah pemilihan (dapil) 2 dari Partai Parindo nomor urut 2.

Aloanto, dari kenamin Tinggi desa Meragun, salah satu dari masyarakat yang mendatangi kantor Bawaslu mengatakan, kedatangan mereka menanyakan tindaklanjut dari laporan mereka karna sampai saat ini belum ada kejelasannya.

“Kami mau kasus politik uang yang dilakukan oleh saudara AW ini diusut tuntas. Bahkan di blaclist dari daftar calon legislatif dapil 2 Kabupaten Sekadau,” tegas Aloanto.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Rosianus Irin dari Tamang desa Cenayan mengatakan, kedatangan pihaknya ke Bawaslu untuk mengecek apakah benar laporan ini diproses. Kalau diproses sudah sampai dimana.

“Barang bukti uang, kartu dan bukti lain sudah diserahkan ke Bawaslu,” terang Rosianus.

Dion, dari Nanga Taman meminta kepada Pimpinan Partai Parindo baik dipusat maupun daerah supaya menindak tegas kader partai Parindo yang melakukan kecurangan pada pemilu 17 April 2019.

Ketua sentra Gakumdu, Al Aminudin didepan pendemo didampingi anggota Bawaslu Kabupaten Sekadau Thedorus Sutet mengatakan, proses politik ini sedang berjalan. Beberapa hari lalu tim Gakumdu juga sudah memeriksa saksi-saksi ke Nanga Taman.

Kapolres Sekadau, Anggon Salazsar Tarmizi saat diwawancarai awak media ini mengatakan, kasus ini masih tahap verifikasi dan pemeriksaan saksi-saksi.

“Proses kasus ini masih tetap berjalan. Dua hari lagi kita turun lagi kelapangan terkait kasus ini,” jelas Anggon.

Terkait bukti-bukti, masih dialami karna terjadi di dua kecamatan yakni Kecamatan Nanga Mahap dan Nanga Taman. Orang yang membagikan uang di dua kecamatan ini juga berbeda, saksi juga beda.

Apabila terbukti, maka akan dikenakan undang-undang pasal 523 ancaman kurungan 4 tahun dan denda 48 juta rupiah. (As)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.