RBM Rehab Puluhan Pecandu Narkoba

MELAWI – Tak sia-sia berdirinya Rehabilitas Berbasis Masyarakat (RBM) Kota Juang di Nanga Pinoh, Melawi. Sebab sejak beberapa tahun brjalan, sudah merehab puluhan pencandu narkoba dari berbagai kabupaten di Kalbar.

RBM tersebut menjaadi panti Rehab satu-satunya di Melawi, bahkan di ujung timur Kalbar ini sudah banyak melepaskan ketergantungan narkoba para generasi muda yang sempat nyaris kehilangan masa depannya. “Kami sejak 2016 lalu sudah merawat lebih dari 60 lebih pencandu. Itu yang rawat inap saja, di luar yang rawat jalan,” kata Ketua Pengelola RBM Kota Juang, Marumi, Kamis (21/6).

Marumi mengatakan, memang tak seluruh pencandu narkoba yang dirawat RBM bisa kembali hidup normal dan tak lagi menggunakan barang haram ini. Hanya jumlahnya sangat kecil. Marumi mengatakan bila dibuatkan perbandingannya, dari 10 pasien, paling hanya satu yang akan kembali menggunakan narkoba.

“Peran paling penting agar mereka yang sudah keluar dari RBM untuk tak lagi menggunakan narkoba adalah keluarga. Lingkungan dan keluarga sangat penting. Pergaulan dan teman-teman juga sangat berpengaruh apakah para pencandu ini tak lagi kembali ke dunia itu,” katanya.

Marumi membeberkan, dari puluhan pecandu yang direhab di RBM tersebut, justru para banyak berasal dari wilayah Kota Baru, Kecamatan Tanah Pinoh. Jumlah mereka jauh lebih banyak ketimbang para pemakai dari wilayah Kota Nanga Pinoh yang kerap disebut daerah terbesar peredaran narkoba di Melawi. “Justru Nanga Pinoh tidak terlalu banyak. Yang banyak justru dari Kota Baru,” paparnya.

Marumi menuturkan, mereka yang mengalami ketergantungan terhadap narkoba dirawat selama kurang lebih enam bulan. Ada juga yang lebih lama, tergantung dengan tingkat kecanduan mereka. “Kalau yang parah, bisa sampai delapan bulan. Bahkan ada sepuluh bulan,” ujarnya.

Saat ini, tambahnya, dukungan dari Pemda cukup tinggi, utama dari bupati dan dinas sosial. Dukungan juga sudah mulai datang dari kepolisian yang mendukung program rehabilitasi bagi para pemakai yang memang merupakan korban narkoba. “Seperti dari wilayah Polsek Kotabaru yang ada mengirim sejumlah pencandu ke panti rehab kami. Mereka ini rata-rata tertangkap dan kemudian dikirim untuk direhab di sini,” katanya.

Terpisah, Ketua KNPI Melawi, Abang Ahmaddin mengungkapkan pembentukan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Melawi sudah semakin mendesak. Peredaran narkoba di Melawi saat ini sudah sangat memprihatinkan.

“Kita ingin bisa dibentuk BNNK di Melawi, karena dari pantauan yang kita lihat langsung di lapangan, kondisi pengguna dan peredaran narkoba di Melawi sudah sangat memprihatinkan. Karena tak cuma merambah pada kelompok dewasa, tapi pelajar SMA hingga SD mulai mencoba-coba,” katanya.

Pemuda yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Melawi ini menilai peredaran narkoba memang sudah darurat dimana-mana. Karena itu perlu ada langkah antisipasi sehingga pengguna narkoba bisa ditekan. Upaya serius memerangi narkoba melalui penegakan hukum mulai dari aparat kepolisian hingga BNN serta kerjasama masyarakat memang harus dilakukan.

“Kami sendiri sudah berdiskusi dengan bupati Melawi terkait usulan pembentukan BNNK. Dan bupati juga menanggapi serius dan berharap BNNK bisa segera berdiri di Melawi,” katanya.

Ditambahkan Ahmaddin, Melawi kini sudah memiliki rumah rehabilitasi pencandu narkoba yang belum lama ini diresmikan. Kini, untuk semakin memperkuat langkah memerangi narkoba bisa dengan mendorong keberadaan BNNK.

“Sehingga nantinya ada upaya sinkronisasi dari Pemda, Kepolisian serta penegak hukum dari BNN untuk memberantas peredaran narkoba di Melawi,” pungkasnya. (Edi/KN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.