Sejak Dulu Kartini Telah Perhatian Soal Agama

Pakar hukum dan aktivis pemberdayaan perempuan, Dr Elleonora Moniung, di Jakarta, Selasa, mengatakan, Raden Ajeng Kartini tak hanya memperjuangkan eksistensi kaumnya, tetapi sejak dulu begitu amat memprihatinkan masalah-masalah agama. <p style="text-align: justify;">Pakar hukum dan aktivis pemberdayaan perempuan, Dr Elleonora Moniung, di Jakarta, Selasa, mengatakan, Raden Ajeng Kartini tak hanya memperjuangkan eksistensi kaumnya, tetapi sejak dulu begitu amat memprihatinkan masalah-masalah agama.<br /><br />"Simak saja suratnya kepada sahabatnya, Stella Zoehandelaar di Negeri Belanda, per tanggal 6 November 1899," tuturnya kepada ANTARA, masih terkait perayaan Hari Kartini, sekaligus merespons berbagai aksi radikal atasnama agama belakangan ini.<br /><br />Dalam suratnya itu, paparnya lagi, Kartini memprihatinkan masalah agama dengan mengungkapkan: "Tapi kita bisa menjadi orang baik tanpa harus menjadi religius kan Stella." "Saya kini mencoba mengembangkan dahsyatnya pemikiran seorang remaja putri bernama Kartini yang ketika itu baru berusia 16 tahun dan tersurat dalam lembaran-lembaran berharga kepada sahabat penanya Stella antara tahun 1899 hingga 19O3," ungkapnya lagi.<br /><br />Elleonora Moniung juga mengajak semua kita di abad ini, untuk merenungkan kembali berbagai konflik sosial bernuansa keagamaan dan ketidakadilan "gender", dengan menyimak isi hati serta pemikiran Kartini yang ketika itu sangat berkeinginan berlanglangbuana ke Eropah.<br /><br />"Dari keprihatinannya terhadap ketidakadilan ‘gender’ dan urusan agama itu, ia kemudian menulis lagi surat per tanggal 25 April1903 kepada Stella, dengan berkata: "Kau tahu kalau dari dulu hingga kini salah satu mimpi terbesar kami adalah pergi ke Eropah melanjutkan pendidikan," ujarnya.<br /><br />Artinya, demikian Elleonora Moniung, ada keinginan sangat besar untuk mencari pencerahan dan peningkatan kualitas di negeri lain, dan menunjukkan pula betapa tingginya cita-citanya.<br /><br />Belajar untuk pecah Dalam kaitan pemikirannya tentang eksistensi agama, demikian Elleonora Moniung, dalam surat RA Kartini per tanggal 6 November 1899, benar-benar menunjukkan suasana hatinya yang kurang ‘sreg’.<br /><br />"Kata-katanya … "Tapi kita bisa menjadi orang baik tanpa harus menjadi religius …", menunjukkan, Kartini lebih suka dengan menjadi orang baik, tanpa harus mengikuti berbagai aturan yang membuatnya pecah dengan sesama," katanya.<br /><br />Sebab, menurut Elleonora Moniung, agama dimaksudkan sebagai rahmat.<br /><br />"Yakni, rahmat bagi semua umat manusia, untuk bisa menjadi orang baik, menjadi tali penghubung antara semua ciptaanNya. Bahwa, kita semua bersaudara bukan karena satu keturunan, tetapi karena satu Tuhan yang berkuasa di atas sana," ujarnya.<br /><br />Tetapi, lanjutnya, jika agama itu kemudian dijadikan alasan oleh segelintir orang untuk pecah, apakah lebih baik ia tidak ada saja? "Karena, pada dasarnya agama itu mengajarkan untuk damai, toleransi, bukan belajar untuk pecah. Tetapi yang realitas sekarang, justru agamalah penyebab perselisihan, perpecahan. dan pertumpahan darah dan bukan menjadi tali pemersatu umat manusia," tandasnya.<br /><br />Ia kemudian menunjuk adanya sesama suku saling berselisih hanya karena berlainan keyakinan.<br /><br />"Suasana hati kurang ‘sreg’ yang dialami remaja putri Kartini di masa lalu, kini juga masih terjadi. Perbedaan antara dua orang karena keyakinan, mengakibatkan dinding pemisah bagi dua hati yang mestinya berkasih-kasihan," katanya lagi.<br /><br />Kartini menyuarakan realitas Siratan dari surat-surat RA Kartini tersebut, menurutnya, merupakan renungan yang amat menyentuh hati sanubari kita di abad modern dengan segala keberadabannya.<br /><br />"Dengan membaca surat Kartini, saya sering bertanya pada diri sendiri, apakah agama merupakan rahmat kalau prakteknya malah seperti ini? Kata orang, agama akan menjaga kita dari perbuatan dosa, namun berapa banyak dosa yang telah diperbuat atas nama agama," tanyanya.<br /><br />Kartini sebenarnya, menurutnya, melihat menyuarakan realitas keagamaan dan juga berbagai ketidakadilan.<br /><br />"Bahkan di surat-surat lain dia memikirkan kehidupan orang miskin. Kepada Stella ditulisnya: "motto hidupku …aku mau …. aku tipe orang yang penuh harapan, penuh semangat," ungkapnya.<br /><br />Kalimat beribu makna ini, demikian Elleonora Moniung, kini menjadi kenyataan di mana-mana.<br /><br />"Kini impian, pemikirannya telah terwujud kepada banyak Wanita Indonesia di berbagai profesi dan gelanggang kehidupan. Obsesi Kartini dalam surat-suratnya melukiskan semangat yang luhur, dan merupakan semangat umum diselaraskan dengan ‘esprit general’," katanya.<br /><br />Yaitu, lanjutnya, semangat umum warga negara yang sangat berpengaruh kepada pihak berkuasa, sebagaimana pemikiran Montesque dalam "Spirit of Laws".<br /><br />"Kenyataan peran dan pengaruh semangat Kartini di abad 20 sampai dengan sekarang sngat berarti. Harapan saya, Pemerintah cepat tanggap dalam mengeluarkan berbagai kebijakan terhadap pemberdayaan wanita kita," tegasnya.<br /><br />Termasuk adanya hak-hak yang adil sesuai visi Undang Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional.<br /><br />"Lebih dari itu, adanya usaha sungguh-sungguh dari semua pihak untuk mengembangkan sekaligus memberi arti atas pemikiran-pemikiran brilian remaja putri Kartini seperti yang ada dalam surat-suratnya itu," pungkas Elleonora Moniung. (Eka/Ant)</p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.