Sekolah Jarak jauh di Dusun Keluas Meniba Desa Harapan Jaya Yang Memprihatinkan

MELAWI – Memprihatinkan, itulah suara yang terdengar dari setiap warga yang melihat kondisi bangunan sekolah jarak jauh yang dibangun warga seadanya menggunakan atap daun dan dinding dari kulit kayu, di Dusun Keluas Meniba Desa Harapan Jaya. Bangunan sekolah tersebut dibangun warga seadanya karena keberadaan perumahan warga sangat jauh dari sekolah induk SDN 05 Landau Tubun kecamatan Tanah Pinoh Barat.

“Sekolah ini dibangun secara swadaya oleh warga diluar menggunakan dana apapun. Tentunya dengan sangat dibawah standar kesederhanaan. Hanya ada satu lokal, tanpa jendela dan pintu. Sekolah yang menginduk ke SD Negeri 05 Landau Tubun ini sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah dan dinas terkait. Karena semuanya ini warga lakukan hanya untuk kepentingan anak anak mereka agar bbisa mengenyam pendidikan walaupun harus menggunakan atap daun, dindingnya kulit kayu, sedangkan lantainya langsung ke tanah. Sementara papan tulisnya menggunakan papan pengumuman di Kantor Desa,” kata Sudarmono, Kepala Desa (Kades) Harapan Jaya, kepada sejumlah wartawan, kemarin.

Lebih lanjut Ia mengatakan, bangunan SD yang mulai beroperasi sejak akhir tahun 2016 ini hanya berukuran 4×6 meter untuk menampung 12 murid Kelas I.

“Gurunya dua orang, yakni guru umum dan agama. Keduanya masih honor, dibiayai dengan Dana BOS,” bebernya.

Mendirikan SD Jarak Jauh tersebut, menurut Sudarmono memang atas permintaan warga serta orang tua murid setempat dan didukung sekolah induk.Dasar pertimbangan secara kemanusiaan.

“Sebab, jika anak-anak dari dusun tersebut bersekolah ke SD Negeri 5 Landau Tubun, harus menempuh jarak 6 Kilometer, melewati hutan belantara dan naik turun gunung yang memakan waktu ber jam-jam,” jelasnya.

Sudarmono menambahkan, Dusun Keluas Meniba tersebut hanya berisikan 41 Kepala Keluarga (KK) dan tidak seorangpun yang tamat SD. Tetapi keinginan tinggi mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya sangat luar biasa.

Kondisi ini mengundang perhatian berbagai pihak. Yang ada di desa setempat.dan tidak ingin membiarkan generasi anak bangsa terus terusan putus sekolah bahkan tidak merasa kesetaraan pendidikan yang dirasakan oleh daerah lain. Kebutuhan pendidikan anak-anak harus diperhatikan. Sebab suksesnya pendidikan juga menunjukkan kesuksesan dalam pembangunan.

”Melihat semangat warga dusun tersebut, Kades Sudarmono pun membantu proses belajar mengajar di SD Jarak Jauh tersebut. “Kita rencanakan untuk membantu honor dua guru di sekolah tersebut, menggunakan Dana Desa,” katanya.

Dia juga berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Melawi dan propinsi bisa membangun gedung SD yang refresentatif di Dusun Keluas Meniba. Bahkan Masyarakat sudah menyiapkan lahan untuk dihibahkan sebagai lokasi pembangunan gedung sekolah tersebut.

Masyarakat secara swadaya membangun lokal tanpa pintu dan jendela untuk murid Kelas I itu, lantaran menjadi satu-satunya pilihan yang paling tepat. Mengingat jauhnya jarak tempuh ke sekolah induknya. Disisi lain, di Melawi cukup banyak gedung sekolah yang di bangun di lokasi yang kurang tepat, yang mana lokasinya tidak strategis. Sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam penerimaan peserta didiknya.sementara itu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Melawi, pernah menjelaskan bahwa sesuai berdasarkn aturan yang ada, dilarang mendirikn SD jarak jauh atau pilial, karena tidak efisien.

“Jika dirikan SD jarak jauh, maka syarat utama harus bisa mnjaring minimal 60 siswa,” paparnya.

Sementara ituAnggota DPRD Melawi Asal Kota Baru, Nur Ilham mengaku sangat prihatin dengan kondisi sekolah jarak jauh di Dusun Keluas Meniba. Dimana sekolah tersebut menjadi alternatif satu-satunya agar para anak-anak bangsa yang berada jauh dari sekolah induk juga bisa mengenyam pendidikan seperti anak-anak lainnya.

“Jika memang aturan yang dimaksud Kadisdikbud tidak membolehkan pembukaan sekolah jarak jauh atau filial, maka harus ada solusi yang disediakan pihak pemerintah. Jangan sampai terbenturnya aturan membuat anak-anak tersebut terkesan diabaikan tanpa perhatian pemerintah,” ucapnya.

Pemerintah dalam hal ini Disdikbud, harusnya menginventarisir persoaln-persoalan pendidikan sepeti persoalan jarak banyaknya anak murid yang jauh dari sekolah induk.

“Setelah itu mencari solusi atau terobosan agar persoalan sekolah jarak jauh ini bisa teratasi,” pungkasnya. (DI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.