Sintang Peringati Peristiwa Mandor

Raden Abdul Bahry Danu Perdana yang berasal dari Panembahan Sintang merupakan salah satu korban pembunuhan massal diantara 21. 037 orang korban peristiwa pada 70 tahun lalu oleh pemerintah Jepang yang dikuburkan di 10 buah makam di Mandor Kabupaten Landak. <p>“Hal inilah yang hari ini kita peringati, renungkan, ambil hikmahnya dan kita gunakan untuk penyemangat dalam membangun daerah, mencintai para pejuang, dan menghargai keberagaman dan kemanusiaan” jelas Bupati Sintang Drs. Milton Crosby, M. Si saat menjadi pembina upacara memperingati Hari Berkabung Daerah di Halaman Kantor Bupati Sintang pada Jumat, 27 Juni 2014.</p> <p>“apa yang kita lakukan hari ini bukanlah lambang kebencian rakyat Kalimantan Barat terhadap bangsa Jepang. Tetapi untuk memperingati bukti sejarah tentang peristiwa tragis di Kalimantan Barat untuk tidak terulang lagi di masa yang akan datang” tambah Bupati Sintang.</p> <p>Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sintang Drs. Milton Crosby, M. Si menyampaikan selamat menunaikan ibadah puasa 1435 Hijriah kepada seluruh umat Islam di Kabupaten Sintang. “saya mengajak semua seluruh masyarakat Kabupaten Sintang untuk menjaga kekhidmatan bulan puasa secara bersama-sama” ajak Bupati Sintang.</p> <p>Bupati Sintang juga mengajak semua elemen masyarakat untuk menyukseskan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada 9 Juli 2014 nanti.</p> <p>Sejarah mencatat Peristiwa Mandor adalah peristiwa pembantaian massal yang menurut catatan sejarah terjadi pada tanggal 28 Juni 1944. Peristiwa Mandor ini sendiri sering dikenang dengan istilah Tragedi Mandor Berdarah yaitu telah terjadi pembantaian massal tanpa batas etnis dan ras oleh tentara Jepang dengan samurai.</p> <p>Lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat melalui paripurna DPRD Kalimantan Barat merupakan bentuk kepedulian sekaligus apresiasi dari DPRD terhadap perjuangan pergerakan nasional yang terjadi di Mandor</p> <p>Zaman pendudukan Jepang lebih menyeramkan daripada masa pendudukan Belanda. Peristiwa mandor terjadi akibat ketidaksukaan penjajah Jepang terhadap para pemberontak. Karena ketika itu Jepang ingin menguasai seluruh kekayaan yang ada di Bumi Kalimantan Barat. Sebelum terjadi peristiwa mandor terjadilah peristiwa cap kapak dimana kala itu pemerintah Jepang mendobrak pintu – pintu rumah rakyat (Tionghoa, Melayu, Maupun Dayak) mereka tidak ingin terjadi pemberontak-pemberontak terdapat di kalimantan barat. Meskipun demikian ternyata menurut sejarah yang dibantai bukan hanya kaum cendekiawan maupun feodal namun juga rakyat-rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa.</p> <p> </p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.