Sukses Berawal dari Seekor Sapi

Keberhasilan dan kesuksesan adalah hak semua orang. Tidak melihat dari mana latar belakang seseorang berasal. <p style="text-align: justify;">Jika ada kemauan dan semangat, maka keberhasilan dan kesuksesan akan diraih. Kalimat-kalimat di atas ternyata prinsip Amolin warga Dusun Ponti Raya Desa Pangkal Baru Kecamatan Tempunak Kabupaten Sintang. <br /><br />Amolin diketahui bukanlah seorang pria yang terlahir dari keluarga yang berkecukupan, justru sebalikannya. Ia terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, bahkan sangat berkekurangan. <br /><br />Berbagai pekerjaan pun ia jalani, demi menambah penghasilan keluarganya. Mulai dari menjadi upahan mengambil buah tengkawang, menjadi buruh Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Yang mengharuskan dirinya setiap hari masuk ke lobang sedalam 15 kali sambungan tangga hingga menjadi pengojek barang-barang sembako perusahaan dengan cara di gendong. <br /><br />Sehari dirinya mampu dua kali dengan membawa beban rata-rata 60 s/d 70kg. Karana jarak tempuh dan medan perjalanan yang dilaluinya cukup menguras tenaga. Pekerjaan-pekerjaan tidak tetap seperti ini terus ia jalani dengan sabar dan iklas. Meskipun terkadang ia rasakan tidak sanggup tetapi semangat yang ia miliki tidak pernah luntur. Agar harapannya mendapat uang  bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri terwujud. <br /><br />Ditahun 1997 ada berita baik yang selama ini dirinya impikan. Pasalnya ditahun ini dirinya dan masyarakat setempat mendapat bantuan dari pemerintah satu hektar kebun karet unggul. Selama proses perawatan mereka menerapkan sistem gotong-royang. Mulai dari menebas rumput, perawatan bibit hingga pada proses pemupukan. namun karena Amolin tidak mempunyai uang untuk membeli pupuk, akhirnya dirinya harus merawatnya dengan cara manual. Meskipun dirinya sering kali diejek oleh orang lain, dengan kata-kata yang kurang menyenangkan. <br /><br />“sehebat apapun kamu merawat kebunmu, kalau tidak diberi pupuk tidak akan bisa tumbuh subur seperti milik masyarakat lainnya yang menggunakan pupuk” kenang Amolin mengulang ucapkan masyarakat kepadanya. <br /><br />Tetapi berkat kegigihan dan semangat yang terus ia tunjunkkan, empat tahun kebun karet unggul milikinya sudah bisa disadapnya. Mulai dari situ penghasilannya sudah mulai bertambah. Pada tahun 2005 tepatnya dibulan agustus Amolin dan masyarakat setempat kedatangan tamu dari CUKK untuk memberikan Pelatihan Dasar tentang CU. mulai dari mengenal produk hingga pada keuntungan menjadi anggota. Penjelalan ini disampaikan secara detail, sehingga di hari kedua pelatihan Amolin langsung tertarik dan memutuskan masuk menjadi anggota di Tempat Pelayanan JKK. <br /><br />Dihari itu juga dirinya langsung meminjam pinjman kapitalisai sebesar Rp 1 juta, untuk menambah tabungan awalnya. Resmi masuk anggota CUKK, Amolin semakin hari semakin giat bekerja dan selalu menyisihkan dari penghasilannya untuk ditabung. Pinjaman yang ia pinjam sebagai pinjaman kapitalisasi tiga bulan angsuran lunas diangsurnya. <br /><br />Ditahun 2006 tepatnya dibulan Febuari Amolin memberanikan diri mengajukan pinjaman sebesar Rp 6 juta rupiah. Untuk membeli seekor sapi. Melihat kesungguhannya untuk maju, lembaga pun mengabulkan permohonannya. Berkat kegigihan dan tangan dinginnya dalam mengembangbiakkan sapi, sapi tersebutpun berkambangbiak menjadi enam ekor. <br /><br />Dari hasil sapi ini, Suami Y Maria Seri (36) peruntukkan untuk memperbayak kebun karet unggulnya. Pelan-pelan tapi pasti dari hasil sapi itu, hingga sekarang kebun karet unggul yang dimilkinya sudah diperkirakan 32 hektar. Selama dalam proses pengembalian uang pinjaman, Amolin selalu mengangsur sesuai dengan perjanjian, yakni tepat waktu dan tepat jumlah ketika diri mengajukan pinjaman. <br /><br />Tidak heran ketika dirinya mengajukan pinjaman berikutnya untuk membangun rumah, lembaga kembali mengabulkan pinjamannya hingga proses pengembaliannya selesai ia cicil. Bapak tiga anak inipun kembali mengajukan pinjaman untuk yang kesekian kalinya. Yang ia peruntukkan sebagai modal awal dirinya membuka warung sembako sekaligus sebagai modal dirinya untuk jual beli kulat. <br /><br />Berkat ketekunan dan kerja keras yang ia jalani, kesusksesan pun sekarang ini boleh ia raih. Bahkan sekarang dirinya telah memiliki 5 orang karyawan tetap dan 11 orang kontrak yang fokus merawat kebun karetnya. Berkat kesuksesannya ini masyarakat setempatpun sering kali memintanya mulai dari menjadi kepala Desa, Dusun, hingga ke ketua RT. Karena masyarakat menilai dirinya sangat layak dijadikan seorang pemimpin sekaligus inspirasi masyarakat. <br /><br />Tetapi tawaran mamsyarakat ini tetap dipercayakannya kepada yang telah ditunjuk sebelumnya. Ia sadar bahwa menjadi seorang pemimpin itu tidak mudah, dan harus orang yang benar-benar panggilan, bukan seperti dirinya. Meski tidak terlibat dalam kepengurusan desa, Amolin tetap tidak pernah absen mengikuti kegiatan. Bahkan tidak sedikit masyarakat di kampungnya yang telah berhasil ia tolong mulai yang tidak punya apa-apa hingga sekarang juga telah punya kebun karet dan kendaraan sepeda motor sendiri. <strong>(ast/cukk)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.