UMKM Kalsel Serap Kredit Hingga Rp 11,65 Triliun

Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Kalimantan Selatan (Kalsel) tumbuh dengan baik yang dibuktikan dengan penyerapan kredit untuk sektor tersebut mencapai Rp 11,65 triliun naik sebesar 23,44 persen dibanding pada 2009 sebesar Rp 9,44 triliun. <p style="text-align: justify;">Kepala Bank Indonesia Banjarmasin Kalimantan Selatan, Khairil Anwar, di Banjarmasin, Jumat (11/02/2011), mengatakan, pertumbuhan kredit UMKM tersebut selain didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah terkait suku bunga yang terjangkau, juga adanya beberapa kebijakan dari perbankkan. <br /><br />Kebijakan perbankan tersebut antara lain adalah penambahan jaringan kantor untuk mendekatkan nasabah. <br /><br />Pada 2010, kata dia, terdapat dua bank umum yang membuka kantor cabang di Kalsel yaitu Bank Mega Syariah dan Bank Mayapada. <br /><br />Selain itu, tambah dia, cukup banyak kantor cabang pembantu, kantor kas, payment point dan fasilitas ATM yang dibuka selama 2010. <br /><br />"Secara keseluruhan saat ini di Kalsel terdapat 24 bank umum dan tiga unit usaha syariah yang didukung oleh 296 jaringan kantor dan 304 ATM," katanya. <br /><br />Berkembangnya aset perbankkan tersebut, kata dia, tidak hanya menumbuhkan kredit UMKM tetapi juga penyaluran kredit konfensional juga tumbuh sekitar 24,82 persen dari sebelumnya Rp 13,71 triliun pada 2009 menjadi Rp 17,11 triliun akhir 2010. <br /><br />Sedangkan untuk perbankkan Syariah, kata Khairil, pembiayaan juga mengalami pertumbuhan kendati belum cukup menggembirakan dari Rp109 triliun menjadi Rp1,15 triliun atau hanya tumbuh 5,83 persen. <br /><br />Kondisi tersebut berbeda dengan pengumpulan dana pihak ketiga yang justru mengalami pertumbuhan cukup cepat sekitar 25,91 persen dari Rp957 miliar pada 2009 menjadi Rp 1,21 triliun. <br /><br />Minimnya pertumbuhan pembiyaan syariaah tersebut, tambah Khairil karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat yang umumnya belum begitu mengenal tentang produk syariah. <br /><br />Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan kredit, perbankkan juga perlu mewaspadai ancaman peningkatan risiko kredit bermasalah (NPL), yang kini masih berada dibawah angka 5 persen atau 2,27 persen untuk bank umum. <br /><br />Begitu juga untuk syariah NPLnya hanya sebesar 1,94 persen. "NPL masih dilevel cukup aman, namun tetap harus dilakukan pembinaan terhadap nasabah," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.