Warga Perbatasan Mengamuk Di Bandara

Puluhan warga Apau Kayan, etnis Dayak Kenyah yang berasal dari perbatasan Indonesia dengan Malaysia di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur (Kaltim), mengamuk di Bandara Temindung Samarinda, Rabu. <p style="text-align: justify;">Dilaporkan, amuk warga perbatasan itu terkait kekecewaan mereka atas tidak beroperasinya maskapai SMAC yang melayani rute penerbangan dari Bandara Temindung Samarinda ke Bandara Long Ampung, Kabupaten Malinau. <br /><br />Selain merusak berbagai fasilitas bandara, puluhan orang yang terlihat mengenakan pita merah itu juga memecahkan kaca dan merusak meja serta barang-barang milik beberapa maskapai penerbangan diantaranya Kalstar, Susi Air dan SMAC. <br /><br />Ironisnya, belasan polisi yang berada di tempat itu terlihat tidak bisa berbuat banyak saat massa menerobos ke ruang VIP Bandara Temindung kemudian merusak meja dan kursi yang ada di tempat itu. <br /><br />Bahkan, Kasat Samapta Polresta Samarinda, Komisaris H. Tampobolon terlihat tidak mampu menghalau massa yang melanjutkan aksi di apron Bandara Temindung Samarinda. <br /><br />"Kami merasa kecewa karena pesawat SMAC tidak beroperasi sehingga banyak warga perbatasan yang terlantar di Samarinda. Apalagi, di Samarinda banyak mahasiswa dan pelajar yang tidak bisa pulang ke kampung karena tidak ada pesawat ke Long Ampung," ungkap salah seorang warga perbatasan, Thomas Ngau ditemui disela-sela aksi unjuk rasa. <br /><br />Selain tidak adanya penerbangan ke wilayah perbatasan, aksi unjuk rasa itu juga dilakukan kata Thomas Ngau sebagai buntut dari tuntutan warga Apau Kayan yang berada di empat kecamatan di Kabupaten Malinau itu terkait tuntutan penggantian armada penerbangan SMAC yang dinilai sudah tidak layak. <br /><br />"Aksi unjuk rasa ini merupakan kelanjutan dari tuntutan warga perbatasan agar armada penerbangan SMAC diganti dengan pesawat yang lebih layak," kata Thoman Ngau. <br /><br />Setelah dilakukan negosiasi, pihak maskapai penerbangan SMAC akhirnya menyetujui tuntutan warga perbatasan tersebut. <br /><br />Pada kesepakatan itu, pihak SMAC berjanji akan segera mengoperasikan pesawat yang lebih layak. <br /><br />"Kami memberi batas waktu dua hari agar pihak SMAC menyiapkan pesawat ke perbatasan. Jika tidak dipenuhi, kami akan kembali berunjuk rasa dengan massa yang lebih besar," ungkap Thomas Ngau. <br /><br />Sementara, Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Cabang SMAC di Samarinda, Otay Rohyat mengaku, tidak bisa mengambil kebijakan terkait tuntutan warga tersebut. <br /><br />"Kami sebenarnya tidak bisa mengambil kebutusan sebab itu kewenangan pihak manajeman. Saya sudah melaporkannya dan pihak manajeman pusat berjanji akan mengupayakan penerbangan untuk mengangkut 50 warga perbatasan tersebut," katanya. <br /><br />"Kemungkinan akan diangkut menggunakan pesawat Susi Air selama tiga kali penerbangan dan biaya pemulangan mereka akan kami (SMAC) tanggung," ungkap Otay Rohyat. <br /><br />Pesawat SMAC tidak beroperasi kata Otay Rohyat tidak beroperasi sejak 14 Februari 2011. <br /><br />"Kami tidak beroperasi sementara sejak 14 Februari 2011 atas perintah Dirjen Perhubungan Udara. Jadi, pengoperasin pesawat SMAC itu merupakan keputusan pusat saat ini tengah dilakukan investigasi dari pihak KNKT terkait jatuhnya pesawat di Bintan, Riau," ungkap Pjs Kepala Cabang SMAC di Samarinda itu.<strong> (das/ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.